dont do that byun baekhyun

dont do that byun baekhyun

no comment

Advertisements

MANLY

Gambar

Tittle : Manly

Scriptwriter (Author): Sandira

Main Cast: Xi Luhan , You

Support Cast: EXO Member

Genre: Romance

Duration (Length): One Shoot

Rating: 15+

Note : Ide cerita ini diambli dari keinginan seorang Xi Luhan yang selalu ingin disebut Manly, beberapa kejadian diambil dari beberapa fakta tentang Xi Luhan. Dan sepenuhnya cerita ini didedikasikan untuk ulang tahun Xi Luhan yang ke 24 (25 untuk hitungan korea). TYPO bertebaran. Happy Reading 😀

 

Aku ini Pria dan aku Manly”

 

Luhan seorang Ulzzang dari China, pria terimut, baik hati ,sopan, ramah, tampan, cantik dan cute dalam waktu bersamaan. Dia kekasihku yang paling kucintai.

Luhan berumur 24 Tahun, namun taukah wajahnya tidak sesuai dengan umurnya, wajahnya lebih terlihat seperti laki-laki berumur 15 tahun, dan terkadang dia selalu terlihat lebih cantik dariku, wajahnya sangat halus dan feminim, namun dia sangat benci ketika aku mengatakan wajahnya cantik, dan dia akan langsung mengatakan :

“aku ini pria dan aku manly

Aku selalu tertawa seiring keinginannya yang selalu ingin di bilang manly, bukan berarti dia tak jantan di mataku, tapi aku hanya tidak peduli dengan sebutan itu, aku lebih suka dia yang manis, cute dan selalu tampak menggemaskan. Seharusnya dia sadar bahwa wajahnya sama sekali tidak mendukung untuk disebut Manly.

Luhan mengambil jurusan ilmu komunikasi di Universitas Yonsei Korea Selatan, sedangkan aku mengambil jurusan otomotif. Menurut sebagian orang aku dan Luhan tertukar mengambil jurusan, tapi menurutku tidak, karena aku dan Luhan menikmati semua ini. Luhan tak bisa jauh dari yang namanya koneksi internet, entah itu Wi-Fi atau apapun namanya. Kami selalu pergi ke cafe yang memiliki koneksi Wi-Fi gratis.

Aku bukan gadis tomboy yang tidak menyukai dress dan rok mini, selama ini aku selalu mengenakan dress cantik dan memakai high heel jika akan bertemu Luhan, dan aku masih mengoleksi boneka-boneka lucu walaupun itu semua pemberian Luhan tapi aku menyukainya. Perlu diketahui juga aku dan Luhan sama-sama memiliki banyak fans di kampus, fanboy ku tak kalah banyak dari fangirl Luhan yang selalu mengangguku. Aku termasuk salah satu gadis tercantik dikampusku, dan aku merasa sangat beruntung memiliki Luhan di sisiku, dia menyempurnakan semua hal tentangku.

Luhan itu sangat fashionable, aku selalu melihat Luhan mengenakan pakaian terbaiknya setiap kali bertemu denganku, style yang bahkan lebih cocok untuk seorang idol kpop, tapi itulah Luhan. Dia bahkan memiliki parfum edisi terbatas yang harganya menurutku sangat mahal. Perawatan tubuh yang Luhan milikki lebih bagus daripada yang aku pakai. Luhan selalu duduk dengan menyilangkan kakinya dan itu terlihat sangat feminim sekali dengan tubuh kurusnya. Oke abaikan semua kebiasaan Luhan yang sedikit tidak wajar untuk seorang pria, aku hanya menyukai Luhan yang cute dan menggemaskan terkadang juga cantik.

**

Hari pertama di musim dingin aku dan Luhan berjanji akan mengunjugi Namsan Tower yang ramai, aku lumayan sabar menunggu Luhan yang selalu terlambat setiap kali kami ada acara, aku tak habis pikir bukankah dia pria,tapi kenapa dia selalu lebih lama segala hal dariku.

Coffee ku sudah hampir tetesan terakhir saat ku lihat Luhan berlari dari gerbang taman menghampiriku, mengenakan mantel bulu dengan corak warna hitam,putih dan merah, dipadukan dengan topi rajut warna merah, celana hitam dan snaker putih. Tidak sia-sia aku menunggu Luhan hampir setengah jam, dia sangat tampan sekarang. Ku lihat beberapa gadis berhenti berjalan dan memandangi Luhan, pemandangan ini sudah tak aneh untukku, tak jarang beberapa gadis menggoda Luhan dihadapanku, ketampanan Luhan memang sudah menjadi pengetahuan umum yang seperti wajib dihafal oleh setiap orang, namun apa peduliku karena hati Luhan hanya untukku.

Luhan melambaikan tangannya beberapa kali menyapaku, kulihat simpul senyum bahagia saat dia berlari.

“Sweety sudah lama menunggu ?” sapanya

“aniyo,, aku hanya menghabiskan 5 gelas kopi.. sangat sebentar kan ?” aku memberinya dead glare, bisa-bisanya dia bertanya seperti itu, sedangkan aku harus membeku disini menunggunya, namun tiba-tiba kekesalan itu hilang seketika pula, seperti kutub utara yang mencair dan langsung digantikan oleh hangatnya gurun sahara, sekujur tubuhku yang hampir membeku tiba-tiba berubah hangat dan bahkan wajahku terasa sangat panas karena aliran darahku berdesir hebat menuju wajahku.

Luhan mencium bibirku..

“aku sudah menghangatkanmu kan ? ayo kita pergi”

“,,,” aku mematung dan menyentuh bibirku dengan ujung jariku

“sweety kau baik-baik saja?” Luhan menggerakkan tangannya tepat diwajahku.

“eoh ! “ aku hanya mengangguk seperti orang tolol, Luhan manis , sangat manis.

“apa yang pertama harus kita lakukan ?” tanyanya

“karena kau terlambat, kita akan naik cable car ke atap”

“eoh cable car?!” langkah Luhan berhenti saat aku mengatakan cable car.

“wheo ?” tanyaku

“aniyo, hanya saja..”

“sudah, ada aku?” aku menenangkan Luhan, ku genggam tangannya yang terasa sangat dingin, Luhan tampak bahagia dan tersenyum, lalu Luhan memasukkan genggaman tangan kami kedalam saku jaketnya. Uuugghhh Xi Luhan kau romantis !!

Kami naik menuju cable car menggunakan lift, Luhan tampak gelisah, wajahnya terlihat khawatir. Luhan takut ketinggian , aku memahami hal itu hanya saja aku ingin mengerjainya karena telah membuatku menunggu. Kamipun tiba di lantai paling atas dan mengantri untuk masuk. Hingga tiba giliran kami.

“ayo” pintaku saat aku sudah memasuki cable car namun Luhan malah berhenti di depan pintu.

“wheo ? jangan bilang kita harus turun lagi Xi Luhan” aku menarik tangan Luhan dan memaksanya masuk, tangannya bergetar hebat, aku menahan tawaku saat itu. Luhan langsung mengenggam erat tanganku dan memejamkan matanya.

“Lu-ge”

“……”

“Luhan!!!”

“apa?!!”

“buka matamu, ada aku disampingmu”

“aku takut !!”

Kupeluk Luhan dari belakang, kusandarkan kepalaku di punggungnya yang ikut gemetar karena ketakutan, Luhan menggenggam tanganku.

“saranghae” bisikku lembut, aku mengabaikan rasa maluku karena sebagian orang dalam cable car bahkan memandang kearah kami, kurasakan tubuh Luhan berhenti bergetar , Luhan langsung berbalik badan dan beralih kebelakangku, bergantian Luhan memelukku dari belakang, kedua tanganku digenggam erat dan Luhan memasukannya ke dalam saku jaketnya.

“gomawo honey” bisik Luhan lembut ditelingaku.

Seperti pasangan lainnya aku menikmati suasana malam di Namsan Tower dengan makan kentang dan sosis goreng, juga memasang gembok bersama, Luhan tampak antusias saat kami memasang gembok bersama.

“si rusa tampan dan si kelinci cantik selamanya” tulisan dalam gembok yang kami pasang, dan Luhan yang menulisnya sendiri.

**

“Lu-ge ayo kerumah hantu minggu ini” pintaku pada Luhan, kudapati ekspresi wajah Luhan yang berfikir keras mendengar ajakanku.

“kita ke mall saja ya” tawarnya.

“aku ingin kesana, Umin oppa dan yang lain mengajak kita kesana, bukankah kau ingin membuktikan bahwa kau manly?” tawarku kembali.

“baiklah” jawab Luhan ragu-ragu.

**

Taman bermain malam ini sangat sepi karena hari libur, namun karena taman ini milik Suho maka kami bisa menggunakannya dihari libur. Aku dan teman-temanku juga sodara kembarku Byun Baekhyun akan mengadu nyali dengan memasuki arena permainan rumah hantu.

“kau tidak takut?” tanya Luhan pada ku yang sedang asik menggigit kuku menahan tawa karena suara Baekhyun yang terus berteriak dari rumah hantu didalam.

“apa yang harus ku takutkan?” jawabku datar, wajah Luhan tampak pucat

“aku pergi dengan mu” ucapnya kembali, ekpresiku berubah bingung.

“wheo ?”

“kau itu wanita, aku hanya ingin menjagamu di dalam” tegasnya kembali, aku hanya mengangguk.

Hampir semua teman kami sudah memasuki area bermain ini, Kris oppa tampak lemas setelah keluar dari dalam, dan Baekhyun kehilangan suaranya setelah banyak berteriak kencang di dalam sana. Sedangkan Chen dan Xiumin oppa sama sekali tak mengeluarkan suara apapun selama mereka didalam , sedangkan Luhan ? dia terlihat sangat menyedihkan. Ekspresinya seperti berkata ‘aku ingin pergi dari sini,aku tidak ingin masuk!”

“kau takut ?” giliranku bertanya saat tiba giliran kami masuk. Luhan menghentikan langkahnya.

“aku ini pria, dan aku manly, tidak mungkin aku takut” jelasnya, lalu tangan Luhan menggenggam erat tanganku , lalu aku pun menggandeng tangan Luhan dan kami berjalan bersama.

Satu langkah memasuki ruangan pertama, aku dan Luhan masih tenang dan aku masih menggandeng erat tangan Luhan.

Langkah kedua kurasakan tangan Luhan sedikit dingin dan tubuhnya sedikit gemetar..

Langkah ketiga kami berhenti sebentar dan entah sejak kapan kini malah tangan Luhan yang sudah menggandeng tanganku.

“aawwwkkkkkkk !!!” teriak Luhan, tubuhnya terdorong kebelakang dan aku tertarik bersamanya..

“Astaga Luhan, kau mengagetkanku!!” aku bukannya kaget karena hantu palsu yang menghampiri kami, tapi karena teriakan Luhan yang tepat ditelingaku.

“kau tidak melihatnya ? itu sangat menyeramkan!!” ucapnya dengan nada gemetar.

“itu manusia Lu-ge” jawabku sambil menariknya kembali berjalan.

“eohh benarkah ?” tanyanya polos lalu berdiri dan memastikannya.

“anyeonghaseyo” ucapnya lalu menundukan badannya.. ‘ya ampun Luhan kau tidak perlu menyapanya’. Luhan kembali menggandeng tanganku dan meneruskan perjalanan.

“kau memanggil namaku lantang sekali tadi ?” tanyanya dengan nada kesal.

“Mian,,, kau mengagetkanku tadi.” Jawabku tanpa menghiraukan ekspresi Luhan yang terlihat kesal.

Tiba diruangan selanjutnya tangan Luhan semakin menggandeng tanganku, dapat kurasakan tubuh Luhan bergetar.

“aaaaawwwkkk” teriaknya kembali saat tiba-tiba seseorang mengedor dinding yang kami lewati, aku refleks berlari dari dan meninggalkan Luhan.

“ya!! Jangan tinggalkan aku” teriak Luhan mengikutiku dari belakang

“kau bilang kau akan menjagaku?” bentaku sedikit kesal karena Luhan terus berteriak tepat ditelingaku.

“tapi aku… aaaawwwkkk!!” teriak Luhan kembali dan membuatku terjatuh karena tiba-tiba saja hantu palsu kembali menghampiri kami.

“mianhae honey, aku kaget” ucap Luhan dan membantuku berdiri.

“sudahlah , ayo cepat kita keluar dari sini” jawabku singkat dan merapikan rambut Luhan yang sedikit berantakan. Dan tiba-tiba terbesit ide gila dikepalaku.

Karena lorong yang terlalu sempit Luhan berjalan dibelakangku dan kami masih berpegangan tangan.

“genggaman mu terlalu kuat Lu-ge, kau mau menghancurkan jari-jariku” aku memberi dead glare pada Luhan, lalu dia menatap genggaman tangan kami dan melonggarkan sedikit.

“aaawwwwkkkk!!” Luhan kembali berteriak, genggaman tangan kami terlepas, dan itu kujadikan kesempatan untuk pergi meninggalkan Luhan, aku berlari sekencang mungkin meninggalkan ruangan ini dan segera keluar.

“Honey.. “ teriak Luhan memanggilku beberapa kali, aku tak menghiraukannya sampai aku keluar dari pintu.

“Honey- kau diamana?” tanyanya kembali, aku hanya menahan tawa membayangkan ekspresi ketakutan Luhan didalam sana.

“mana Luhan ?” tanya Suho bingung karena melihatku keluar sendiri tanpa Luhan, sebelas pria dihadapanku menatapku bingung, sedangkan aku hanya menahan perutku karena ingin tertawa.

“aku meninggalkannya” jawabku singkat lalu duduk disebelah Baekhyun.

“kau gila, kau wanita tapi tak ada yang kau takutkan sama sekali” ujar Sehun, dan kami pun tertawa terpingkal-pingkal setiap kali Luhan berteriak didalam sana.

“kenapa dia lama sekali keluar?” aku penasaran kenapa Luhan lama sekali, apa dia tersesat ? apa dia pingsan di dalam sana ?.

Aku berjalan menghapiri pintu namun tiba-tiba Luhan berlari keluar, kulihat wajahnya sangat pucat, bahkan tubuhnya tidak seimbang saat berjalan.

“kenapa kau meninggalkanku?” tanyanya. Aku hanya tertawa.

“kau fikir ini lucu ?!!” aku menghentikan tawaku karena Luhan membentaku.

“aku menghawatirkan mu, aku takut kau sendiri di dalam, makanya aku menemanimu masuk” tegas Luhan kembali, aku masih diam merasa sangat bersalah padanya.

“mian” ucapku lembut, Luhan menghela nafas panjang lalu meraih wajahku yang tertunduk dan memeluku hangat.

Oke Xi Luhan kau sangat Manly dalam mengambil hatiku, akan ku garis bawahi itu.

**

Aku mendapat peran sebagai Julliet dalam acara reuni SMA, awalnya pemeran Romeo adalah Chen, namun karena Luhan tidak ingin melihatku bersama pria lain, Chen digantikan dengan Baekhyun , saudara kembarku.

Acara dimulai, aku mengenakan gaun ala kerajaan inggris , gaunnya sangat indah, bahkan aku merasa aku mirip dengan ratu inggris sekarang. Hingga sampai pada adegan inti dimana Julliet harus minum racun karena melihat Romeo yang sudah mati didepannya, aku melakukannya dengan baik setelah terdengar riuh tepuk tangan menggema di seluruh ruangan, aku dan Baekhyun tersenyum dan berpegangan tangan lalu menunduk untuk menutup acara.

Aku berdiri sebentar di panggung dan melihat Luhan yang berada di barisan paling depan kursi penonton, namun ada yang salah..

Luhan menangis !! kenapa dia ? apa Luhan baru pertama kali melihat adegan Romeo dan Julliet. Kulihat Xiumin , Sehun dan teman-temannya yang lain mencoba menenangkan Luhan yang terus menangis.

Aku menuruni tangga panggung dengan mengangkat gaunku yang besar, Luhan menundukkan kepalanya dan bahunya naik turun menangis ditempatnya, aku menyatukan alisku karena heran, ku lihat Chanyeol dan Baekhyun sedang menertawakan Luhan, begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Aku akhirnya sampai dihadapan Luhan, aku duduk bersimpuh dan menatap Luhan dari bawah, kudapati mata Luhan yang sembab karena menangis. ‘kenapa dia?’ tanyaku dalam hati karena jujur saja tak ada yang menangis disini, hanya Luhan.

“Lu-ge” kuraih tangannya dan menggenggamnya erat, Luhan masih menangis.

“Wheo ?” tanyaku kembali, kuhapus air mata yang mengalir deras di pipi halus Luhan. Aku masih bingung dan berdiri dihadapan Luhan, ku sentuh bahunya dan mengusap rambutnya, Luhan langsung berdiri dan menarikku ke dalam pelukannya, Luhan membenamkan kepalanya dileherku dan masih menangis. Aku melirik ke arah Xiumin dan mencoba mencari penjelasan.

“dia menangis saat kau meminum racun tadi” ucap Xiumin sambil tertawa.

ya Tuhan Luhan, apa kau menangis karena itu?’ aku tersenyum saat mendengar perkataan Xiumin, aku membalas pelukan Luhan, dan Luhan mengusap kepalaku lembut.

“jangan tinggalkan aku, aku sangat takut kehilanganmu” ucap Luhan dan semakin mempererat pelukannya.

“itu hanya akting Lu-ge”

“tapi aku benar-benar takut” jawabnya masih terisak.

“tidak akan terjadi apa-apa!” tegasku sambil mengusap-ngusap punggungnya.

“berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku”

“…”

“berjanjilah!!!”

“aku berjanji” ku ucapkan janji itu dengan menahan tawaku, Luhan sadar kalau aku menahan tawa..

“kau cengeng sekali” candaku sambil menyisir rambut kecoklatan Luhan,

“tapi aku hanya menangis untuk mu, karena kau sangat berharga bagiku. Lalu kenapa kau tak pernah menangis dihadapanku ? apa aku tak berharga dimatamu?” tanya Luhan, aku menghentikan tanganku yang menyisir rambutnya, aku pun diam dalam pelukan Luhan.

“jawab aku?”

“…” aku tak menjawabnya.

“Honey?” Luhan melepaskan pelukannya dan menatap ku, mata kami saling bertemu

“kau meragukanku hmm?” aku balik bertanya dan mengelus wajah tampan Luhan,

“ani, hanya saja..” aku mengentikan kalimat Luhan dan mengunci bibirnya dengan bibirku, lalu memeluk Luhan kembali.

“gomawo” bisikku lembut di telinga Luhan.

“hmm?” gumamnya pelan.

“terimaksih telah menjadikan aku seseorang yang berharga dalam hidupmu Lu-ge” dapat kurasakan Luhan tersenyum dan memelukku erat.

**

Luhan menjadi lebih perhatian padaku sejak saat itu, dia memanjakanku lebih dari sebelumnya, dia menelponku hampir setiap jam, dan menanyakan keadaanku dimanapun aku berada. Awalnya aku merasa risih, tapi semakin lama akupun terbiasa.

Hari libur adalah surga bagiku, tak ada tugas, tak ada teriakan eomma dan Baekhyun yang membangunkanku, eomma dan appa akan libur membangunkanku, dan saudara kembarku Baekhyun tidak akan berteriak karena aku terlambat. Mereka akan pergi ke taman dihari minggu dan meninggalkanku, itu sudah sangat biasa, aku memang malas melakukan aktifitas di hari minggu.

Aku masih enggan membuka mataku, walau hanya untuk melihat waktu pagi ini, sangat damai, itu yang kurasakan sebelum seseorang memencet bel rumahku. Awalnya aku menghiraukannya, namun lama-kelamaan itu bagai alarm yang menusuk telingaku, tentu tidak akan ada yang membukanya karena hanya aku yang ada di rumah besar ini.

Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur , merangkak seperti sadako dan berdiri saat akan menuruni tangga rumahku, aku masih berjalan setengah tidur membukakan pintu untuk tamu yang tak tau aturan karena bertamu dipagi buta begini.

“nuguseo ?” tanyaku dari balik pintu, namun tak ada jawaban, aku segera membuka pintu dengan mata setengah tertutup, hingga tampaklah seseorang berdiri dibalik pintu. Dengan samar-samar ku lihat seorang bertubuh kurus dengan mengenakan kaos longgar dan celana pendek , rambutnya dikucir di atasnya. ‘siapa wanita ini?’ tanyaku dalam hati.

“ASTAGA !!! SIAPA KAU?!!! “ tanya orang itu saat melihatku, tubuhnya mundur seketika menjauhiku. Aku masih setengah sadar mendengar suara itu.

“Eonni kau mencari siapa ? huaaaaa..” tanyaku diiringi mulutku yang menganga lebar dan tangan kananku yang menggaruk kepalaku yang sedikit gatal.

“honey !! kau kah itu ?” aku membuka mataku seketika saat orang didepanku memanggilku dengan sebutan ‘honey’, aku langsung mengumpulkan nyawaku dan mengerjapkan mataku beberapa kali.

“Lu-ge!!” mataku sedikit kaget melihat orang didepanku yang ternyata adalah Luhan, kekasihku. Tanganku sibuk merapikan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahku, aku langsung berlari menuju kamar eomma yang tak jauh dari pintu utama dan langsung bercermin melihat pantulan tubuhku, kenapa Luhan sekaget itu ?.

“ASTAGA BYUN BAEKHYUN!!!” aku berteriak sendiri melihat diriku didepan cermin, rambut yang acak-acakan, wajah yang penuh dengan coretan spidol hitam, aku baru ingat kalau aku kalah permainan bersama Baekhyun semalam, tapi aku tidak akan menyangka dia akan melakukan hukumannya saat aku tertidur. Aku kembali pada Luhan yang sudah duduk manis di meja makan.

“mianhae Lu-ge, Baekhyun yang melakukannya” ucapku sambil menundukan kepala, Luhan hanya tersenyum.

“kenapa kau memanggilku eonni hah?” tanyanya kesal, aku tertawa mendengar pertanyaannya.

“yaa!! Jawab aku ? kenapa kau memanggilku eonni ?” tanyanya kembali.

“kenapa kau menguncir rambutmu ?” tanyaku ,masih tertawa.

“ini?” Luhan menunjuk rambutnya, dan aku mengangguk sambil menahan perutku yang sakit karena menertawakan Luhan.

“kerenkan ?” tanyanya bangga.

“ani, neo yeopoyeo, hahhaaa” jawabku sambil masih tertawa.

“kau tau aku benci saat kau mengatakan aku cantik, yang cantik itu kau bukan aku” tegasnya dan membuatku menghentikan tawaku.

“mian” ucapku lalu mencium bibir Luhan yang sedang manyun karena kesal.

Aku malu, sungguh!, aku menutupi wajahku yang memerah, dan sekarang Luhan yang tertawa.

“kau tetap cantik dimataku” ucapnya sambil mengacak-ngacak rambutku dan semakin membuatku merasa malu.

“cepat cuci wajahmu , aku ingin mengajakmu berolahraga hari pagi ini?” pintanya,

“mwo ? olahraga ? hari minggu ? sirro, aku ngantuk Lu-ge” aku tetap merajuk, namun Luhan dengan cepat mendorongku kekamar mandi dan memintaku membasuh wajahku, dengan malas aku melakukan apa yang Luhan minta.

Setengah jam kemudian aku turun dengan setelan olahragaku, senyum Luhan sangat lebar melihatku menuruni tangga dari kamarku, Luhan berdiri dan segera menarik tanganku keluar dari rumah, entahlah mendadak aku menyukai olahraga pagi dihari minggu, mungkin karena aku berlari dengan Luhan, kekasih ku yang paling cantik. Tanganku tetap digenggam Luhan saat kami berlari, aku berlari dibelakang Luhan, kami seperti sepasang pengantin yang lari dari gereja, hanya saja kami tidak mengenakan pakaian pengantin. Kucir rambut Luhan bergoyang saat berlari.

“aku cape Lu-ge” aku melepaskan genggaman tangan kami dan mengatur nafasku yang tersenggal-senggal karena berlari sangat jauh. Luhan menghampiriku dan mengusap punggungku.

“aku akan bermain basket disana?” ajaknya kembali lalu menarikku memasuki lapangan basket yang ada dalam taman tempat kami berlari, dengan sisa tenaga aku mengikuti Luhan.

“boleh aku ikut bergabung?” Luhan menyapa beberapa orang yang sedang bermain basket, dengan antusias mereka menyambut kami.

“tentu, kami memang kekurangan pemain, kau bisa bergabung” Luhan dengan semangat berlari kelapangan dan meninggalkanku di pinggir lapangan.

“kau bisa bermain tidak ? kami masih kekurangan pemain?” tanya pria itu dan menunjukku, Luhan memberikan dead glare padaku, oh iya perlu diketahui bahwa aku adalah Ketua maksudku mantan ketua tim Basket perempuan di Kampusku meskipun aku sudah keluar dari tim itu karena Luhan tidak menyukainya, dan satu lagi, Luhan sangat tidak suka melihatku bermain di arena basket, mendrible bola berukuran lebih besar dari tanganku adalah hal yang paling dibenci Luhan, dia merasa bahwa dia terlihat sangat tidak Manly saat aku memasukkan bola ke dalam ring basket. Dan entah kenapa ajakan orang itu seakan menghipnotisku dan menaikkan semangatku untuk kembali mendrible bola, aku merindukannya, sungguh..

Pria itu melempar bola padaku, aku menangkapnya sempurna, dan kini bola itu ada dalam pelukanku. Tanpa basa-basi aku langsung berlari memasuki lapangan dan melawan Tim Luhan. Aku tau Luhan kesal, tapi boleh kan hanya sekali saja.

Meskipun sudah lama tidak memainkannya namun kemampuanku tak hilang sama sekali, aku masih mendrible dan menggiring bola dengan sangat baik, aku wanita satu-satunya dalam tim, namun kemampuanku tak kalah baik dari 4 pria dalam tim ku, tim kami memimpin dari tim Luhan, aku dan Luhan mendominasi permainan, seakan kami sedang membuktikan siapa yang terkuat dalam hal ini. Hingga waktu hampir habis, dan bola ada dalam genggamanku, tanpa basa-basi aku langsung mengarahkan bola itu ke dalam ring dan melemparnya.

“yess” aku berteriak kegirangan dan semua orang menghampiriku setelah peluit panjang ditiup menandakan kemenanganku.

“kau hebat sekali aggassi”

“permainan basket mu keren agassi”

“tembakanmu sangat tepat”

Semua orang memuji kemampuan basketku, aku mengatur nafasku sebentar lalu melihat Luhan yang berada tak jauh dariku. Aku berlari menghampirinya dan akan memeluknya namun Luhan malah menjauh dariku, aku bingung dan menarik tangan Luhan membuat kami berhadapan.

“kau kenapa ?” tanyaku bingung

“kau tau aku sangat benci saat kau berlari di arena basket, karena itu membuatku terlihat tidak jantan dimata orang lain” tegas Luhan, matanya dipenuhi kemarahan dan menatapku.

“ini tidak masuk akal” jawabku lalu meraih tangan Luhan, namun Luhan kembali memberikan perlawanan dan menghempaskan tanganku.

“apa kau sangat senang bisa mengalahkanku dan melihat orang-orang memandangku sebelah mata?” tegasnya.

“kau tau aku selalu mencari dan bertanya apa kelemahanmu supaya aku bisa melengkapinya dan tidak terlihat lemah di depan orang lain, dan kau malah membuatku menjadi tidak berguna dimata orang lain” Luhan menambahkan kalimatnya

“maafkan aku Lu-ge” aku menyesal, tak ku sangka Luhan semarah ini padaku.

“sekarang aku ingin bertanya kembali padamu, apa hal yang paling kau takuti didunia ini?” tanyanya ku lihat sorotan matanya dipenuhi rasa penasarann, tapi aku tak bisa menjawab pertanyaannya, mulutku seakan terkunci untuk terbuka.

“apa kelemahanmu sehingga aku bisa melengkapinya?” tanyanya untuk kedua kalinya aku tetap diam.

“kau tidak bisa menjawabnya ? baiklah aku tidak akan memaksamu?” Luhan membalikkan badannya dan pergi meninggalkanku sendiri di sini, aku memanggil Luhan namun tak ada jawaban, bahkan Luhan tak menoleh sama sekali.

Inikah akhir kisah kami ?

**

Aku tidak bisa menahan air mataku saat sampai dirumah, ku tumpahkan penyesalanku pada bantal dan guling yang kupeluk, aku ingin bicara pada mereka berharap mereka bisa memberikanku jawaban atas pertanyaan Luhan. Namun mereka tetap diam, seakan mereka ikut menertawakanku karena kebodohanku yang tak bisa membuka mulut didepan Luhan.

“kau kenapa ?” tanya Baekhyun yang melihatku sedang terisak di atas kasurnya, maksudku kasur kami karena kami memang masih tidur satu kamar dan satu ranjang.

“Baekhyunnie” aku memeluk Baekhyun seperti anak kecil dan menumpahkan air mataku di bahu kecilnya. Menangis sesegukan seperti anak kecil kehilangan mainannya.

“kau sakit ?”

“Baekhyunnie”

“aah mwoya ? bicaralah, kau bisa merusak baju baruku?” tegasnya lalu menjauhkan wajahku dari pundaknya.

“mwo ? ibu membelikanmu baju baru?” tanyaku lalu memutar-mutar badan Baekhyun.

“eoh dia membelikanku baju baru!”

“aaahhhhhhh “ aku kembali menangis semakin menjadi.

“ya!! Berisik sekali !” Baekhyun memukulku dengan bantal

“Baekhyunnie”

“mwo ?”

“apa kau ingin terlihat manly di depan semua orang ?” tanyaku pada Baekhyun, aku ingin mencoba mengerti kenapa Luhan sangat ingin terlihat Manly, kuharap Baekhyun punya pemikiran yang sama dengan Luhan karena dia sama-sama pria. Baekhyun tampak berfikir keras mencerna kata-kataku.

“semua pria ingin melakukannya, termasuk aku, tapi aku lebih suka terlihat menggemaskan karena wajahku sangat imut” jawabnya sambil memasang aegyo padaku, aku menjauhkan wajahnya dengan ujung jariku. Sepertinya aku salah memberikan pertanyaan ini padanya, aku dan Baekhyun berasal dari satu gen yang sama, Baekhyun menyukai segala hal yang cute sama sepertiku.

“bagaimana perasaan mu ketika kekasihmu mengalahkanmu dalam suatu pertandingan ?” tanyaku kembali dan lebih penasaran.

“ooh itu sangat mengerikan!!” jawabnya

“eoh wheo mengerikan ?”

“tentu saja, jika dia adalah lawanku dan aku kalah, tentu aku malu dan akan membuatku tak berguna dimata orang lain. Terkadang kita memang menginginkan wanita yang tangguh, tapi aku perlu tau satu titik kelemahannya agar aku bisa melengkapinya” jawab Baekhyun panjang lebar, baiklah sepertinya saudara kembarku punya pemikiran yang sama tentang masalah ini.

**

Seminggu berlalu aku tak mendapat kabar dari Luhan, dia tidak menelponku, apa mungkin Luhan sudah punya kekasih baru ? pikiran gila itu mulai datang menghampiriku, dan hal yang paling membuatku merasa bersalah adalah karena hari ini adalah hari ulang tahun Luhan. Tahun lalu aku membelikan Luhan seekor kucing yang sangat cantik, dan Luhan sangat menyukainya, Luhan memberi nama kucing itu dengan sebutan “Chagi”. Luhan sangat menyayangi kucing itu, dia bilang Chagi adalah pengganti diriku dirumahnya. Biasanya dia akan membuat cake untuknya sendiri, lalu kami akan memakannya bersama, aku sangat merindukan Luhan sekarang. Aku menatap kado besar dihadapanku, sepatu basket keluaran terbaru yang sudah lama kubelikan untuk Luhan, bahkan sebelum kami bertengkar minggu kemarin.

Aku masih terbaring seperti orang sakit di kasurku, Baekhyun masih tertidur lelap di bawah ranjang, aku menendangnya semalam karena dia terlalu berisik saat tidur, dan sepertinya Baekhyun tidak menyadarinya.

Aku memadangi foto Luhan yang terilhat sangat tampan, mungkin karena lama tak bertemu dengannya aku melihat foto Luhan lebih bercahaya dari biasanya. Tiba-tiba saja handphone ku berbunyi Xiumin Oppa tertulis disana.

“yeoboseo” sapaku

aku ingin memberitahumu sesuatu

“apa?” tanyaku penasaran

kuharap kau bisa tabah” ucap Xiumin oppa lirih, dan membuatku semakin penasaran.

“wheo ?” tanyaku kembali, aku merubah posisiku menjadi duduk bersila diatas ranjang, dan Baekhyun sudah terbangun menatapku heran.

pagi ini Luhan,,”

“Lu-ge kenapa ?”tanyaku tak sabar

Luhan kecelakaan tadi pagi ,sekarang kami dirumah sakit Gangnam dan sekarang..” Xiumin oppa berhenti bicara saat seorang memanggilnya, aku dapat mendengarnya dengan jelas.

maaf tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi nyawanya tidak dapat kami selamatkan, saya harap anda dapat mengikhlaskannya” terdengar jelas kata-kata seseorang di ujung telepon. Air mata seketika menggenang dan sudah jatuh mengalir di pipiku, tanpa pikir panjang aku langsung berlari dan menuruni tangga rumahku, segera keluar mencari taksi menuju rumah sakit itu.

“ajjusi rumah sakit gangnam” ucapku sambil mengatur nafas karena air mata dan perasaan menyesal yang semakin membuatku sesak.

“Lu-ge andweo !!” tangisanku semakin menjadi saat setengah perjalanan namun tiba-tiba macet dan taksi ini tak bergerak sama sekali. Aku langsung turun setelah membayar ongkos taksi dan berlari menuju rumah sakit Gangnam yang dimaksud Xiumin Oppa, aku seperti orang gila berlari sambil menangis menerobos dinginnya kota Seoul pagi ini.

Luhan boleh menyebut dirinya pria terManly di dunia ini, Luhan boleh menjadi atlet basket terhebat di dunia ini, aku tidak akan bermain basket lagi, aku tidak akan bermain opera dan mambuat Luhan menangis lagi, aku tidak akan meninggalkan Luhan di rumah hantu lagi, aku juga tidak akan protes saat Luhan menguncir rambutnya karena sekarang itu terlihat sangat lucu, aku tidak akan protes karena dia selalu duduk lebih feminim dariku, Luhan boleh duduk dengan gaya apapun yang dia inginkan.

Luhan Manly, baiklah aku akan mengatakannya setiap hari sekarang, karena aku tak ingin Luhan pria terManly itu pergi dari hidupku.

Aku sampai di rumah sakit yang memiliki gedung lebih kecil dari yang kubayangkan, aku menerobos masuk dan mencari Luhan, hingga aku menemukan Xiumin oppa tak jauh dari pintu masuk.

“Oppa, dimana Lu-ge?” tanyaku dengan masih terisak, Xiumin oppa tampak kaget melihatku, tangannya menunjuk kearah kananku, aku segera berlari kesana, dan sudah ada Sehun dan juga Suho disana.

“Lu-ge andweo?” tubuhku jatuh didepan pintu masuk yang ditunggui Suho dan Sehun. Sehun memegang bahuku, dan membuatku menangis semakin menjadi.

“Le-ge wheo ? kau belum mendengar jawabanku atas pertanyaanku, sekarang aku sudah punya jawabannya, ku mohon jangan seperti ini..” aku memukul dadaku karena perasaan sesal yang menggerogoti hatiku.

“kau bertanya apa yang paling kutakuti di dunia ini, aku tau sekarang, hal yang paling aku takuti adalah aku sangat takut kehilanganmu, aku takut kau jauh dariku dan meninggalkanku” aku berteriak dan tak menghiraukan orang-orang yang melihat kearahku.

“kau bertanya apa kelemahanku, seharusnya aku langsung mengatakannya disana saat itu, kelemahanku adalah kau Lu-ge, aku lemah tanpamu. Kau hanya perlu berada disampingku dan menyempurnakan diriku, semuanya sudah cukup untuku” teriakku kembali.

“kau pernah bertanya kenapa aku tak pernah menangis dihadapanmu dan apakah kau tidak berharga bagiku, kau bodoh Xi Luhan, itu pertanyaan terbodoh yang pernah ku dengar. Untuk apa aku menangis sementara aku memiliki dirimu yang membuatku merasa sangat bahagia. Aku begitu teramat sangat mencintaimu Xi Luhan dan kau paling berharga bagiku” aku terus bicara seakan semua akan mengembalikan semuanya, aku tertunduk lemas di depan pintu, ku sandarkan kepalaku di pintu itu dan kembali menangis.

Aku menatap semua orang yang memandang aneh padaku, aku tak memperdulikannya , sebelum seseorang membuka pintu dibelakangku dan membuat tubuhku jatuh kebelakang tubuhku terlentang.

“aaawwwwk” ringisku saat kepalaku sedikit terbentur di lantai, samar-samar kubuka mataku, sedikit perih karena air mataku yang terus mengalir.

“kau menangis untuk siapa ?” tanya seseorang yang berdiri diatasku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, menangkap sosok pria yang tak asing.

“Lu-ge !!” aku berteriak kegirangan lalu berdiri dan menyeimbangkan badanku, aku mengucek mataku dan menangkap sosok tampan Luhan dihadapanku, masih dengan kuncir yang sama dengan minggu lalu.

“kau masih hidup ? kau bukan hantu ?” tanyaku lalu menyentuh wajah Luhan yang halus, aku mencubit pipinya beberapa kali.

“apa maksudmu ?” tanyanya heran

“tadi Xiumin Oppa menelponku kau kecelakaan dan dokter bilang kau tidak bisa diselamatkan” jawabku bingung dan menunjuk Xiumin oppa. Semua orang seketika tertawa terbahak-bahak.

“ini rumah sakit hewan, kau tidak menyadarinya ? yang mati itu Chagi kucing kesayangan Luhan, bwhaahahaha..”ucap Xiumin Oppa sambil terus tertawa.

“kau kira Luhan hyung rusa yang butuh suntikan virus” ucap Sehun sambil terus meledekku.

Perasaanku campur aduk sekarang, bingung, senang, sedih dan yang mungkin paling dominan adalah rasa malu. Aku menarik Luhan kedalam pelukanku.

“mianhae” bisiknya lirih ditelingaku.

“untuk apa kau minta maaf?” tanyaku

“aku tidak bisa menjaga Chagi, pemberianmu yang paling berharga” jawabnya.

“bodoh !! kau yang paling berharga untukku, bukan yang lain” tegasku dan mempererat pelukan Luhan

“benarkah kelemahanmu adalah aku ? benarkah yang kau takuti adalah kehilanganku ?” Luhan melepaskan pelukankannya dan menatapku jahil, aku hanya mengangguk malu.

“lalu apa itu berarti aku terlihat manly dimatamu ?” tanyanya polos. Aku memukul dadanya pelan.

“kau pabo.. pabo.. pabo.. eoh kau adalah pria termanly yang ku kenal.. jangan tinggalkan aku hmm”

“melegakan sekali kau bisa memanggilku manly, aku sangat senang” tutur Luhan dengan senyum lebarnya.

“honey aku sangat sedih tidak bisa menjaga Chagi kita” ucap Luhan dengan nada menyesal.

“sudahlah yang penting kau baik-baik saja”

“berikan aku kucing yang lebih lucu dari Chagi, hari ini adalah hari ulang tahunku” pinta Luhan. Aku mengerutkan keningku heran.

“tapi aku sudah membelikanmu hadiah yang lain”

“sirro, aku ingin kucing lagi.. aku tidak akan menerimanya jika itu bukan kucing” Luhan merajuk padaku, aku hanya tersenyum lalu membelai rambut kecoklatannya.

“baiklah aku akan membelikanmu semua kucing di dunia ini, asal kau jangan lagi meninggalkanku?”

“katakan lagi kalau kau takut kehilanganku, aku ingin mendengarnya lagi”

“kau tau itu sangat memalukan”

“tapi aku sangat menyukainya”

“minta yang lain Lu-ge”

“katakan lagi kalau aku Manly

“kau adalah pria terManly dalam hidupku Xi Luhan”

**

Ada hari dimana Luhan lupa dengan image Manly nya, terkadang dia bersifat sangat childish dihadapanku dan aku masih sering bermain basket dibelakang Luhan.

Luhan pria terManly dalam hidupku dan akan selalu aku garis bawahi kata-kata itu.

THE END

 

Akhirnya selesai juga FF ini, cukup lama menyesuaikan beberapa kejadian yang ada, hingga akhirnya terciptalah ff ini, mian kalau akhir ceirtanya sedikit meleset dan gak nyambung, hanya ingin ikut merayakan dan bersuka cita bersama ulang tahun Xi Luhan, semoga rusa kita semakin Manly seiring umurnya yang bertambah, dan semoga ketampanan Luhan tidak berkurang sama sekali..

Terimakasih yang sudah sempat mampir dan membaca Ff ini, saya sangat berterimakasih kepada yang mau memberikan sepatah dua patah kata sebagai komentar 😀

#HappyLuhanDay

Don’t Go (Chapter 5END)

Gambar

Tittle : Don’t Go

Scriptwriter (Author): Sandira

Main Cast: Byun Baekhyun ,Lee San Di (Nickname :Cha-Cha), Xi Luhan

Support Cast: EXO Member’s

Genre: Romance, Family , Friendship

Duration (Length): Chapter 5

Rating: 15+

Luhan membawa San Di ke villa miliknya di pinggiran kota seoul, tubuh San Di panas saat itu, namun Luhan tak mungkin membawanya ke rumah sakit karena akan banyak wartawan.

Kepala San Di sangat pusing saat cahaya matahari mulai masuk ke dalam kamar yang bernuansa putih itu, tirai kamar yang dibiarkan terbuka, sesekali terbang bebas ditempatnya karena hembusan angin, mata San Di perlahan terbuka, merasakan tubunya hangat karena seseorang memeluknya, San Di membuka mata seketika saat merasakan tangan seseorang melingkar di pinggangnya.

“byun Baekhyun” ucap San Di pelan melihat pria di sampingnya yang sedang tertidur lelap.

San Di berfikir sejenak, mengingat apa yang terjadi kemarin, walau ia mabuk tapi otaknya masih bisa berfikir jernih dan memastikan bahwa pria yang dipeluknya di mobil kemarin adalah Luhan bukan Baekhyun. San Di mengusap pipi Baekhyun lembut. Membuat Baekhyun bergerak dan membuka matanya.

“kau sudah bangun hmm?” Tanya Baekhyun , lalu memegang kening San Di, San Di semakin pusing mendengar pertanyaan Baekhyun. Dan memilih merebahkan kembali kepalanya diatas dada Baekhyun. Kini giliran tangan San Di yang melingkar kuat di pinggang Baekhyun, seakan-akan mereka tak bertemu sekian lama. Baekhyun pun membalas tak kalah eratnya.

“hmm kenapa ? Kau masih merasa sakit ?” Tanya Baekhyun khawatir, San Di hanya menggeleng dan mempererat pelukannya. Perlahan ada bulir-bulir bening menetes dari mata kecilnya, membasahi sediki demi sedikit kaos tipis Baekhyun.

“aku mencintaimu lee San Di, dan tidak akan meninggalkan mu. Aku disini karena kau membutuhkan ku” bisik Baekhyun ,lalu menghapus air mata San Di dengan ibu jarinya, San Di mengangguk pasti dan kembali dalam pelukan Baekhyun. Tak perlu banyak bertanya karena yang San Di mau memang Baekhyun memeluknya sekarang.

“tenang lah aku selalu disini” kembali Baekhyun berbisik dan mengelus lembut punggung San Di membiarkannya meluapkan sisa emosi nya. Beberapa menit kemudian San Di sudah tidak menangis, tubuhnya sudah tenang dalam pelukan Baekhyun.

Baekhyun beranjak dari tempat tidur , menuntun San Di berjalan ke ruang tengah, San Di hanya mengikuti langkah Baekhyun tanpa bertanya. Hingga tiba di ruang makan langkahnya terhenti saat melihat seseorang berdiri di dekat jendela dapur, dengan secangkir kopi ditangannnya, memandang San Di sambil tersenyum.

“oppa” ucap San Di pelan memanggil Luhan yang berdiri di depannya. Luhan hanya mengangguk menanggapinya. San Di bergantian menatap Luhan dan Baekhyun. Tangan Baekhyun meraih tangan San Di dan memintanya duduk berhadapan bersama Luhan.

“apa dia lebih baik dariku ?” Tanya Luhan pada San Di , San Di tak menjawab

“apa dia lebih imut dari ku ?” Luhan bertanya untuk kedua kalinya San Di menatap Baekhyun sebentar lalu mengangguk, Luhan pun tersenyum.

“apa dia lebih tampan dariku?” Tanya Luhan kembali, San Di diam sebentar lalu menggelengkan kepalanya. Baekhyun tertawa lalu mengacak-ngacak rambut San Di.

“dia lebih mencintaimu hmm?” Tanya Luhan untuk keempat kalinya, Luhan mengusap lembut pipi putih San Di. Tanpa ragu San Di mengangguk lagi.

“apa kau bahagia bersamanya ?” Tanya Luhan dengan nada sedikit berat. San Di diam lebih lama kali ini, dia menanyakan pada hatinya , apa dia bahagia dengan Baekhyun. San Di menatap manik-manik mata coklat milik Baekhyun, lalu menggenggam tangan Baekhyun, kembali menatap Luhan dan mengangguk lagi.

“kau mencintainya ?” Itu pertanyaan terakhir Luhan. Walau sulit Luhan harus tetap menanyakannya. Tangan San Di melepaskan genggaman Baekhyun lalu tangan kirinya mengenggam erat tangan Luhan , tangan kanannya mengusap lembut rambut dan pipi kanan Luhan.

“aku mencintainya” suara San Di terdengar lembut ditelinga Luhan, kini giliran air mata jatuh dari sudut mata Luhan.

Flashback

“mianhae jeongmall mianhae, aku akan menjagamu sekarang dan tak akan meninggalkanmu sendiri lagi” bisik Luhan di telinga San Di. San Di semakin mempererat pelukannya.

“berikan aku kesempatan lagi, dan aku akan mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini” pinta Luhan pada San Di. Tubuh San Di melepaskan pelukan Luhan membiarkan manik-manik mata hitam San Di bertemu dengan mata Luhan.

“semuanya tidak akan sama seperti dulu, cinta itu perlahan memudar dengan berjalannya waktu. Perlahan pergi bersama luka yang kau tinggalkan. Aku meninggalkan cinta itu disini saat aku pergi ke new york 4 tahun lalu” walau dalam keadaan mabuk San Di mampu bicara dengan baik, tubuhnya menyandar pada kursi mobil milik Luhan. Tatapannya terlihat kosong, tapi Luhan tau kata-kata itu bukan sekedar ocehan dari gadis yang sedang mabuk.

“saat aku di new york ada orang yang sudah menggantikan posisi mu, memberiku banyak cinta, dan membantuku sembuh dari luka itu. Mambawaku ke dalam dunia nya. Aku merasa diriku lebih berharga saat bersamanya” jelas San Di dengan senyum manis di wajahnya.

“nugu ?” Tanya Luhan penasaran. Namun tak sempat San Di menjawab, San Di sudah tak sadarkan diri. Tubuhnya semakin panas.

Sejam kemudian San Di sudah berbaring di atas kasur villa milik Luhan.

“dia hanya perlu istirahat, saya sudah memberinya obat penurun panas, besok dia akan bangun” dokter yang memeriksa San Di memberi penjelasan pada Luhan yang tampak khawatir.

“gahamsamida” ucap Luhan mengantarkan dokter itu pergi dari villanya.

Luhan kembali ke kamar San Di dan duduk di sebelah San Di. Wajah San Di terlihat sangat pucat. Luhan memengang tangan San Di dan menelungkupkannya di wajah Luhan, lalu mengusap lembut pipi San Di, merapilan rambut San Di yang sedikit menutupi wajahnya. Dan terakhir memastikan selimutnya tetap menyelimuti tubuh San Di. Luhan berdiri beranjak pergi meninggalkan San Di, namun tangan San Di menahannya.

“jangan pergi. Aku membutuhkan mu saat ini” gumam San Di, mata San Di terpejam namun kata-katanya terdengar lumayan jelas. Luhan duduk kembali dan menggenggam tangan San Di lebih erat lagi, Luhan tersenyum lebar mendengar permintaan San Di , namun senyum Luhan luntur seketika itu juga.

“jangan pergi byun Baekhyun. Aku membutuhkanmu sekarang” kata-kata San Di membuat Luhan tertegun di tempatnya, kini tubuh Luhan yang bergetar kaget mendengar ucapan San Di.

“Baekhyun?” Luhan mencoba melepaskan tangan San Di, namun San Di menggenggam erat tangan Luhan.

“aku membutuhkan mu byun Baekhyun kumohon jangan pergi” ucap San Di untuk yang kedua kalinya.

Entah berapa kali San Di menyebutkan nama Baekhyun saat itu hingga akhirnya Luhan tak tahan mendengarnya dan meletakan tangan San Di perlahan.

**

Pukul 2 pagi Luhan masih terjaga , duduk menghadap perapian dengan secangkir kopi yang sudah hampir dingin, mencoba berfikir jernih tentang apa yang diucapkan San Di, hingga seseorang memencet bell villa itu. Luhan berjalan menuju pintu dan membukanya.

“hyung?” Sapa seorang laki-laki di balik pintu yang dibukakan Luhan. Pakaiannya hampir sama dengan yang San Di kenakan tadi pagi, hanya piyama tidur. Baekhyun menunggu San Di di apartemen hingga tak sempat ganti baju. Baekhyun mengikuti langkah Luhan menuju kamar tidur San Di. Mata Baekhyun membulat sempurna saat melihat San Di terbaring di depannya.

“kau kenapa sayang ? Apa terjadi sesuatu ?” Tanya Baekhyun dalam hati. Dia ingin menghampirinya, namun kakinya tak mampu melangkah satu langkahpun.

“kenapa kau hanya berdiri ? Peluklah dia!” Ucap Luhan pada Baekhyun membuat Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Luhan.

“hyung, aku?” Baekhyun kehilangan kata-kata saat menyadari Luhan sepertinya sudah tahu tentang hubungan mereka.

“kenapa kau menyembunyikannya hmm ? Kau membuatku tampak benar-benar egois memperlakukan San Di seakan-akan dia masih mencintai ku. Aku benar-benar merasa sangat bodoh setelah mengetahui semuanya” jelas Luhan sambil berjalan mendekati San Di.

“jika aku memaksanya kembali padaku, akan sama saja menggoreskan luka yang sama seperti yang dulu. Jadi baek, sekarang dia adalah milik mu, jagalah dia dan cintai lah dia sepenuh hatimu. Cha-cha memang tampak tegar, namun jauh dalam dirinya dia adalah gadis yang sangat rapuh. Jangan pernah menyakitinya lagi, mungkin dia tidak akan bertahan jika sekali lagi seseorang menggoreskan luka dihatinya” Luhan merapikan selimut San Di, lalu mencium kening San Di sebentar. Dan kembali berdiri dihadapan Baekhyun.

“jika kau mencintainya, perjuangkan lah , jangan meninggalkanku seperti dulu aku meninggalkannya” ucap Luhan lalu pergi meninggalkan San Di dan Baekhyun.

“bagunlah lee San Di, aku disini” Baekhyun mengusap lembut rambut San Di, namun San Di masih tetap terpejam, tubuhnya masih panas.

Flashback end

“aku akan bicara dengan ayahmu” ucap Luhan dalam perjalanan pulang dengan Baekhyun dan San Di.

“tidak usah” jawab San Di malas.

“kita pergi bersama hyung” ucap Baekhyun

“baiklah” jawab Luhan.

**

Dengan percaya diri Baekhyun dan Luhan memasuki ruangan bertuliskan diirektur utama itu. Sudah ada ayah San Di duduk di singgasana kesayangannya, ayah San Di tidak kaget dengan kedatangan Luhan, tapi Baekhyun ?

“ada apa ? Cepat katakan , aku tak punya banyak waktu” ucap ayah San Di ketus.

“kami bertemu di china saat itu” Luhan memulai pembicaraan, ayah San Di tak menatap Luhan sama sekali.

“aku menyukainya sejak kami pertama kali bertemu di china, hingga takdir mempertemukan kami kembali disini. Awalnya aku selalu bertanya pada diriku kenapa San Di sangat ceria, senyumnya tak pernah absen dari wajah cantiknya, hingga aku mengenalnya lebih dekat aku mulai tahu bahwa dia bisa setegar itu karena memiliki ayah sehebat anda. San Di sangat membutuhkan sosok seorang ayah dalam hidupnya. Terkadang dia sangat merindukan pelukan anda entah itu senang atau dalam sedihnya, dia sangat merindukan anda” Luhan berhenti berbicara menahan air matanya yang hampir terjatuh, Baekhyun menyentuh bahu Luhan memintanya lebih tenang.

“aku bertemu dengan San Di di new york 2 tahun lalu saat kami melakukan konser di sana. Aku tak mengenalnya sebagai anak anda, aku hanya tau dia adalah sedang belajar di sana. Kami menjalin hubungan selama 1 tahun terakhir. Aku memang tak tahu luka yang ada dihatinya begitu besar. Tapi selama kami bersama tak ada guratan kesedihan di wajah cantiknya. Kami tahu anda sangat menyayangi San Di. Jika anda memang masih merasa ayahnya, tolong jangan biarkan San Di terluka lagi. Dia pernah bertanya padaku siapa yang akan aku pilih, dia atau EXO, saat itu aku tak mampu menjawab, tapi sekarang aku tau jawabannya, aku ingin memiliki keduanya, jika aku tak bisa memiliki San Di maka aku juga tak berhak bersama EXO” hanya itu yang bisa Baekhyun katakan sebelum akhirnya Baekhyun dan Luhan membungkuk sebentar lalu pergi dari ruangan itu.

**

Suasana kamar di rumah mewah itu masih memiliki interior yang sama seperti empat tahun lalu setelah ditinggalkan pemiliknya. Semua barang-barang masih tertata rapi di tempat yang sama. Ayah San Di perlahan masuk menelusuri setiap sudut kamar, sesekali membersihan debu yang menempel pada barang-barang penuh kenangan itu, tangannya berhenti pada sebuah foto yang terletak di meja sebelah tempat tidur, lalu menatapnya dalam-dalam.

“yeobo apa kau bahagia disana ? Sudah empat tahun tapi aku masih begitu terluka karena kepergian mu ? Apa kau sedang menertawakan kesedihan ku disana ?” Ayah San Di menatap foto keluarga mereka, ada San Di kecil yang berumur 5 tahun, ibu San Di dan ayah San Di, mereka tersenyum sangat lebar di foto itu. Ayah San Di mulai meneteskan air mata.

“aku telah gagal menjadi ayah, anak kita sudah besar, tapi tampaknya aku sebagai ayahnya telah menggoreskan terlalu banyak luka dihatinya. Aku bahkan tak pernah membuatnya tersenyum. Maafkan aku yeobo tak bisa menjaga nya dengan baik” ayah San Di menangis sejadi-jadinya mendekap foto itu dalam-dalam seakan foto itu adalah sesuatu yang paling berharga untuknya.

Beberapa saat larut dalam kesedihan ayah San Di mulai mengeluarkan barang-barang peninggalan istrinya, hingga ditemukannya sebuah kaset yang belum pernah dilihatnya, lalu memutuskan untuk melihat isi kaset itu.

“apa sudah mulai eomma?” Suara San Di mengawali video dalam kaset itu. San Di memakai seragam SMA nya lengkap.

“sudah sayang mulailah” itu suara ibu San Di menjawab pertanyaan San Di.

“appa , taraaa aku lulus dengan nilai terbaik di sekolahku, harusnya appa tadi datang ke acara kelulusan ku dan melihat aku menerima piagam” ucap San Di dengan bangga, memamerkan piagam yang dimenangkannya.

“appa aku tak mau kuliah ke luar negri, aku ingin disini bersama appa dan eomma, appa tidak perlu khawatir meskipun aku bukan lulusan luar negri aku akan menjadi penerus ayah yang hebat, jadi ayah tak perlu bekerja terlalu keras lagi, aah ada sesuatu jatuh dari mataku, maaf appa” ucap San Di menghapus tetesan air mata di wajahnya, ayah San Di semakin menangis melihat San Di dibalik layar.

“jangan menangis sayang” ibu San Di memeluk San Di erat-erat.

“appa aku janji akan segera membantu appa menjalankan sm, supaya appa tidak kelelahan setiap pulang dan punya lebih banyak waktu bermain bersamaku dan eomma. Nde ?appa saranghae” kata-kata cinta San Di mengakhiri video itu.ayah San Di duduk lemas menatap video itu dadanya terasa sesak mendengar kata cinta dari gadis kecilnya.

Video itu belum berakhir ketika ibu San Di tampil di layar kaca sendiri.

Yeobo aku tidak tau kapan kau akan melihat ini” kalimat pertama yang ibu san di katakan dalam video itu.

“uri San Di sudah tumbuh sangat besar sekarang, dia selalu merindukan mu dan ingin selalu bersamamu. Yeobo aku tau kau bekerja keras untuk kami, membangun usaha besar adalah cita-cita mu dari dulu, dan aku bangga karena kau telah berhasil melakukannya sekarang. Tapi yeobo uri San Di lebih membutuhkan mu sekarang. Mianhae karena dulu aku tak bisa memberikan seorang putra untuk mu. Tapi percayalah uri San Di bisa menjadi anak yang membanggakan mu. Yeobo jika sesuatu yang buruk terjadi padaku , ku mohon jaga San Di untuk ku” kalimat terakhir dari ibu San Di semakin membuat ayah San Di terisak karena tangisannya, dadanya semakin sesak mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut istrinya.

**

Sore itu hujan tak datang seperti biasanya , hanya saja langit sedikit bersedih , mendung menampakan awan-awan gelap di seoul. San Di duduk memeluk kakinya di balkon apartemennya, membiarkan angin menerpa wajah cantiknya, dengan bebas membuat rambutnya terbang menutupi sebagian wajahnya.

“kau bisa sakit lagi, masuklah” Baekhyun memakaikan selimut pada tubuh San Di, memeluknya sebentar, tapi San Di tak bergeming hanya tersenyum sebentar lalu kembali menatap kosong gedung-gedung besar didepannya.

“oppa saranghae” San Di menatap Baekhyun , menarik tangannya dan meminta Baekhyun memeluk tubuhnya. Baekhyun pun membungkuk memeluk San Di, membiarkan San Di merasakan hangatnya pelukan Baekhyun.

“aku lebih mencintaimu” jawab Baekhyun lembut.

“chagiyaa ada yang ingin bertemu dengan mu” ucap Baekhyun lalu melepaskan pelukannya dan mengusap lembut rambut San Di.

“siapa ?” Tanya San Di bingung.

Baekhyun tak menjawab dan membawa San Di ke ruang tengah apartemen itu. Sudah ada ayah San Di duduk di sofa berwarna gold itu. Sesaat San Di tak mengenali punggung ayahnya itu. Hingga ayahnya berbalik menghadap San Di.

“appa” ucap San Di kaget melihat ayahnya menginjakan kaki di apartemen nya untuk pertama kalinya.

Ayah San Di beranjak dan menghampiri San Di, memeluk anak semata wayangnya. Ayah San Di menangis, begitu pun dengan San Di.

“appa” ucap San Di untuk yang kedua kalinya, San Di membalas pelukan ayahnya lebih erat.

“maafkan appa, maafkan appa sayang” ayah San Di mengelus rambut San Di beberapa kali meminta maaf, semakin membuat air matanya jatuh tak terbendung.

“hmm appa,, na do mianhae” balas San Di.

“maafkan appa meninggalkan mu dulu, maafkan appa”

“hmm , aku merindukan pelukan mu appa, jeongmal pogoshipo” San Di kembali mempererat pelukannya.

Ayah San Di melonggarkan pelukannya dan menatap anaknya yang sangat ia rindukan. Mengusap lembut wajah San Di.

“appa terlalu sedih kehilangan ibumu, hingga tak menyadari kau sudah tumbuh besar lebih cantik dari ibumu. Kau bahkan memiliki senyum dan mata ibumu. Ayah benar benar minta maaf, membiarkan mu menangis  saat kehilangan ibumu. Ayah merasa orang paling menderita saat ibumu pergi, padahal kau jauh lebih menderita saat itu”  ayah San Di kembali memeluknya, pelukan seorang ayah yang San Di rindukan selama ini benar-benar dirasakan San Di sekarang.

Acara pelukan selesai, ayah San Di menatap Baekhyun yang dari tadi menyaksikan drama ayah dan anak itu, Baekhyun tampak salah tingkah dengan tatapan calon mertuanya itu, menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan menundukan kepalanya.

“jadi pada siapa ayah harus mempercayakan mu ? Pada Luhan si muka bayi itu atau pada anak ini yang terlihat lebih pantas jadi adikmu” tanya ayah San Di sambil tertawa dan menunjuk Baekhyun. San Di tertawa melihat Baekhyun. Baekhyun semakin dibuat malu saja.

“appa, dia menjagaku selama ini, lihatlah wajahnya sangat imut kan ? Aku menyukai nya appa, sangat menyukainya?” Jawab San Di menghampiri Baekhyun dan menggandeng tangan Baekhyun. Wajah Baekhyun bersemu merah karena San Di mencubit pipinya sekarang.

“baik lah jika bocah ini bisa ku percaya aku tidak akan melarang kalian. Besok ayah keluarkan berita verifikasi kencan exo” jawab ayah San Di sambil tertawa.

**

7 tahun kemudian

At dorm exo.

“yaa lihatlah Baekhyun hyung akan melamar cha-cha nuna, dia sudah membeli cincin” teriak sehun keluar dari kamar Baekhyun tangannya mengangkat kotak kecil berisi cincin itu. Baekhyun mengejar sehun dan berusaha meraih cincin di tangan sehun, namun karena masalah tinggi badan Baekhyun tidak mampu meraihnya.

“diamlah anakku baru saja tidur” Luhan yang sedang menggendong anak nya kesal dengan teriakan sehun yang hampir memecahkan gendang telinganya.

“sepertinya Baekhyun hyung sudah besar sekarang” sahut kai yang sambil tertawa

“yaa berhenti meledekku, oh sehun kembalikan itu” Baekhyun kembali melompat mencoba mengambil cincin di tangan sehun.

“haaaaaa…. Eottokeee eotokkeeeee hyung selamatkan aku tolong” kini giliran kai yang berteriak ketakutan setelah melihat pesan di layar hanphonenya.

“yaaa kim jong in , ku bilang diam, lihatlah anakku jadi menangis” bentak Luhan yang kebingungan karena bayi dalam pangkuannya manangis kaget.

“hyung tolong kunci pintunya, jangan biarkan ada orang masuk” teriak kai kembali.

“yaa kenapa kau ini ?” Tanya chanyeol heran

“Haemi memberi tahu cha-cha noona bahwa aku melamarnya semalam” ringis kai sambil mencoba menyembunyikan badan besarnya.

“mwo melamar?” Teriak Baekhyun kaget, belum sempat chanyeol mengunci pintu dan kai masih kelabakan mencari tempat persembunyiaan seseorang sudah menendang pintu dorm itu kencang-kencang.

“yaaa kim jong iiiin” teriak San Di kesal,

“mianhae noona” ucap kai sambil ketakutan dan bersembunyi di punggung Baekhyun.

“sudah ku bilang setelah suho oppa aku yang harus menikah, bukan kau!” Teriakan San Di semakin membuat anak Luhan menangis kencang.

“ayo pergi dari sini nak , bibi itu bisa membuatmu kehilangan pendengaran” Luhan dan anaknya perlahan pergi meninggalkan kekacauan itu.

“aku sudah ingin menikah, menunggu byun Baekhyun melamarku itu membuat rambutku semakin rontok saja”

“aku tidak akan mendahului mu, Baekhyun hyung sudah menyiapkan cincin untuk melamarmu, dia akan melakukannya hari ini” ucap kai sambil terbata-bata.

“tetap saja terus-terusan menunggu ..” Ucapan San Di terhenti saat menyadari dengan benar perkataan kai.

“melamarku ? Hari ini ? Jinjja?” San Di terdiam di tempat , wajahnya berubah merah sekarang.

Karena tangan sehun lengah, Baekhyun langsung mengambil kotak itu dari tangan sehun, lalu berjalan menghampiri San Di yang sudah tertunduk malu.

“sepertinya aku tak bisa membuat hal romantis untuk mu, aku bahkan menyatakan cinta saat kau memboncengku di pulau jejju” ucap Baekhyun lembut, membuat San Di semakin tersipu malu.

“uuuuuhhhhh” ledek orang-orang sekitar , mereka seperti sedang menonton drama the heris itu.

“lee San Di, maukah kau menjadi pendamping ku? Menemaniku hingga wajah ini tak lagi seimut Baekhyun yang dulu, tetap mencintaiku hingga suara ini tak mampu lagi menyanyikan lagu-lagu indah untuk mu, dan tatap di samping ku hingga seluruh tubuh ini tak bisa lagi memeluk mu?” Baekhyun berlutut di hadapan San Di tangan kanannya memegang kotak cincin yang sudah terbuka lalu di arahkan pada San Di, San Di tampak menangis mendengar setiap kata yang Baekhyun ucapkan, tanpa ragu San Di mengangguk mantap, dan memberikan tangan kanannya, lalu Baekhyun memasukkan cincin putih itu di jari manis San Di.

“aaaahhhh romantis sekalii hyuung” teriak sehun sambil memukul-mukul tangan kai lalu mereka berpelukan.

Baekhyun mulai berdiri dan tersenyum pada San Di ,lalu menarik San Di dalam pelukannya, San Di pun membalas pelukan Baekhyun haru.

“saranghae oppa” bisik San Di lembut di telinga Baekhyun, Baekhyun melonggarkan pelukannya dan menatap San Di.

“aku lebih mencintaimu” Baekhyun menghapus jarak antara mereka dan mencium bibir San Di lembut, San Di mengalungkan tangannya di leher Baekhyun.

“aaah hyuung” ledek sehun sambil menutup mata, yang lain hanya batuk salah tingkah melihatnya.

“selanjutnya aku yang akan menikah” sahut kai jahil, chanyeol melemparkan bantal pada kai.

“kita kan sudah sepakat menikah sesuai urutan umur” teriak chanyeol pada kai.

“heey hyung mana ada aturan seperti itu” sahut kai sambil pergi meninggalkan mereka.

“gara-gara kalian anakku terus menangis , sekarang kalian harus mengurusnya” gerutu Luhan sambil menyerahkan anakknya pada San Di. San Di tersenyum bahagia menimang anak Luhan.

“adik manis aku akan segera memberikan teman bermain untuk mu jadi bersabarlah” ucap San Di polos , membuat Baekhyun salah tingkah dan berdehem menatap San Di.

“baiklah segeralah kalian menikah dan buat pewaris exo” teriak sehun dengan semangat

“benar, segeralah membuatnya, sepertinya akhir-akhir ini tim sepak bola kita kekurangan pemain” ucap Kris sambil menggendong anak laki-lakinya. San Di memandang Kris sinis dan menaikkan alisnya.

“aniyo aku akan memiliki anak perempuan yang banyak, aku tidak menyukai anak laki-laki, mereka terlalu berisik seperti kalian” jawab San Di sambil mengangkat tinggi-tinggi anak laki-laki luhan.

“kau bilang ingin memiliki anak yang tampan sepertiku” timpal baekhyun kesal.

“aniyo, kau tidak tampan, kau itu sangat imut dan menggemaskan, jadi tidak boleh ada yang sama sepertimu, lagi pula aku takut orang lain akan kebingungan membedakan ayah dan anak jika aku punya anak laki-laki, karena oppa sangat menggemaskan” ucap San Di sambil mencium bibir Baekhyun singkat.

“yaa berhenti berciuman, disini banyak anak kecil” teriak luhan dan Kris, Luhan segera mengambil anaknya dari pangkuan San Di.

“EXO Saranghanda” teriak Suho bahagia melihat semua membernya sudah mendapatkan kebahagiaan masing-masing.

End

Don’t Go (Chapter 4)

Gambar

Tittle : Don’t Go

Scriptwriter (Author): Sandira

Main Cast: Baekhyun ,Lee San Di (Nickname :Cha-Cha), Xi Luhan

Support Cast: EXO Member

Genre: Romance, Family , Friendship

Duration (Length): Chapter 4

Rating: 15+

Hari minggu pagi di lapangan olahraga sm ent sudah sangat ramai seperti biasanya. Exo sedang melakukan pertandingan basket. Seperti biasanya Luhan selalu mendominasi pertandingan. Babak pertama sudah selesai dengan skor 28:24 , exo’m memimpin. Saat mereka sedang melepaskan rasa haus di pinggir lapangan, perhatian tiba-tiba teralihkan saat dari pintu masuk 3 orang gadis cantik memasuki lapangan. Ada sunny snsd, sulli fx, dan lee San Di. Semua tersenyum kegirangan termasuk Baekhyun berhenti minum saat melihat San Di sudah sangat cantik pagi ini. Baekhyun memang sengaja menyuruhnya untuk menonton pertandingan pagi ini supaya Baekhyun bisa lebih bersemangat, tapi dia tidak menyangka akan melihat San Di secantik itu. Walau hanya mengenakan setelan olah raga, San Di masih lebih bersinar dari dua wanita disampingnya. Senyum Baekhyun menyeringai lebar,namun tak berani melambaikan tangan pada San Di, setelah mereka sepakat untuk menyembunyikan hubungan mereka sampai Baekhyun siap mengatakannya pada semua anggota exo.

Semua pemain beranjak kembali kelapangan setelah mendengar peluit kencang ditiup wasit. Semuanya berlari dengan semangat. Baekhyun memandang San Di sebentar dan memberinya senyuman selamat pagi.

“Cha-Cha aku akan memenangkannya untukmu” terdengar teriakan Luhan dari tengah lapangan. Luhan membentuk hati dengan tangannya, lalu menunjuk ke arah San Di. Beberapa mata memandangnya sinis. Suho yang mengacak-ngacak rambutnya sendiri, kris yang melempar bola karena kesal, juga jong in yang menatap Luhan dengan tatapan tajam. Dan Baekhyun hanya bergantian menatap Luhan dan San Di. San Di tidak merespon teriakan Luhan. San Di tetap fokus pada layar hanphone nya tanpa melihat Luhan.

Seperti yang Luhan janjikan untuk San Di. Luhan memenangkan pertandingan dengan skor 92 : 86. Luhan berlari keluar lapangan menghampiri San Di Baekhyun tak melepaskan pandangannya dari Luhan kali ini. Begitu juga saat tangan Luhan dengan senang menggandeng tangan San Di dan membawanya kelapangan.

“saranghae Cha-Cha. I love you” teriakan Luhan terdengar sangat nyaring, membuat anggota exo lainnya tertawa sebagian dari mereka ada yang masih kesal, Baekhyun hanya bertepuk tangan entah apa maksud dari tepuk tangannya. San Di tak banyak bicara saat Luhan menarik tangannya ke lapangan . Namun sepertinya kali ini Luhan bersikap kelewatan saat Luhan memeluk San Di dan mengangkatnya membuat San Di berputar di pangkuan Luhan. Dan San Di tak dapat melawan karena cengkraman tangan Luhan terlalu kuat. Hati Baekhyun benar-benar terbakar kali ini.

“kita harus merayakan kemenangan kita kali ini” teriak tao kegirangan.

“benar sekali, aku sangat merindukan masakanmu noona. Ayo kita ke dorm dan pesta disana” ujar jong in dan menarik tangan San Di. Luhan sedikit kesal kali ini. Dan San Di memanfaatkan jong in agar lepas dari Luhan.

“dorm ? Kajja aku sangat ingin berkunjung ke dorm kalian” San Di melompat kegirangan saat diajak jong in mengunjungi dorm exo. San Di menatap Baekhyun jahil. Baekhyun tersenyum membalasnya. Ini menjadi kesempatan San Di untuk melihat kamar Baekhyun.

“apa yang harus kubantu noona ?” Tanya kyung soo pada San Di yang terlihat sibuk merebus ayam.

“tolong cincang bawangnya kyung soo ah, bagaimanapun kau ahli dalam hal ini” jawab San Di sambil menyodorkan bawang dan pisau. Kyung soo hanya tersenyum menjawabnya.

“aku juga bisa membantumu” ucap Suho segera berdiri di samping San Di.

“hyung kau bahkan tak pernah membantuku, kenapa sekarang kau tertarik untuk memasak?” Sanggah kyung soo tampak kesal.

“diamlah” jawab suho sambil menepuk punggung kyung soo.

“sepertinya gula pasir kita habis, bisakah kau pergi membelikannya oppa?” Pinta San Di sambil menyodorkan toples kosong , menandakan gula benar-benar habis. Beberapa member yang melihat tertawa kecil mendengarnya.

Setelah sekitar 2 jam memasak akhirnya hidangan siap disajikan.

“yedera kemarilah makanan sudah siap” teriak San Di senang lalu mengambil beberapa mangkuk dan sumpit. Semua member yang sedang sibuk dengan aktifitasnya mendadak berhamburan keluar dan berkumpul di meja makan.

“kenapa sup ayamnya ada dua, apa berbeda?” Tanya sehun sambil menunjuk dua wadah sup ayam didepannya.

“ooh itu, yang banyak itu pedas sekali, dan ini untuk Baekhyun oppa yang tidak suka pedas” jawab San Di santai,lalu menggit bibir bawahnya setelah sadar yang dikatakannya sedikit janggal.

“bagaimana kau tahu Baekhyun hyung tidak menyukai makanan pedas?”  Tanya Jong In heran dan menatap San Di dan Baekhyun bergantian. Baekhyun tampak bingung dan menatap San Di. San Di memutar-mutar matanya mencoba mencari alasan yang tepat.

“saat aku memasak tadi Baekhyun oppa memintaku untuk membuat sup yang tidak pedas” jawab San Di gelagapan , namun mencoba bersikap setenang mungkin.

“benar, tadi aku yang memintanya” tambah Baekhyun mendukung jawaban San Di. Semua member tampak percaya dengan apa yang San Di katakan. San Di tersenyum senang menatap Baekhyun.

“selamat makan”

**

Cuaca di luar saat ini sangat rawan, jadi dimohon untuk masyarakat agar tetap diam dirumah dan menjaga kondisi tubuh masing-masing, kondisi jalanan dipenuhi salju dan suhu mencapai -10oc.

Berita itu membuat San Di terpaksa menginap di dorm exo kali ini.

San Di sedang menikmati acara reality show running man bersama kai, sehun, kyung soo,lay , tao , dan Baekhyun yang duduk bersebrangan dengannya.

Baekhyun menatap San Di sebentar lalu meraih ponsel di sakunya.

terimakasih makanannya, sangat enak” Baekhyun mengirim pesan pada San Di yang berada didepannya. San Di tersenyum lalu menulis sesuatu di ponselnya.

kau menyukainya? Aahh senang sekali” balas San Di

apa kau baik-baik saja menginap disini ? Aku akan mengantarmu pulang jika kau mau?” Tanya Baekhyun.

aniyo, aku senang disini karena ada oppa :D, Saranghae. Kau sangat menggemaskan hari ini” balas San Di sambil tersenyum lebar.

“kenapa noona tersenyum sendiri?” Tanya sehun heran melihat San Di yang dari tadi tersenyum sendiri memandangi layar hanphonenya.

“bukankah acaranya sangat lucu” jawab San Di datar dan menunjuk layar tv disampingnya. Sehun mengangguk saja.

“pakailah, kau pasti tidak akan nyaman memakai baju itu dari pagi” Luhan memberikan sebuah piyama pada San Di membuat San Di terkejut dan menyembunyikan handphonenya.

“bagaimana bisa seorang lelaki memakai pakaian seperti ini?” Tanya San Di sambil tertawa dan mengangkat piyama bergambar animasi rusa berwarna hijau itu. Dan orang-orang yang sedang menonton tv pun ikut tertawa.

“yaa itu pemberian fans, pakailah aku belum pernah memakainya” jawab Luhan sedikit kesal. San Di berdiri dan pergi ke kamar mandi mengganti pakaiannya.

Beberapa menit kemudia San Di keluar dengan piyama kebesaran milik Luhan. Tubuh kecil San Di tampak sangat lucu mengenakan piyama laki-laki. Celana pendek yang panjang sampai betis, dan baju yang benar-benar besar untuk San Di. Poninya diikat ke belakang, dan membuat seluruh lekukan wajahnya terlihat. Kaos kaki tidur pun sudah dipakainya.

“waaah, uri Cha-Cha sangat lucu sekali” sapa Luhan saat melihat San Di.

“bagaimana? Apa aku sudah terlihat siap untuk bermain bola?” Tanya San Di sambil memutar-mutar badannya. Dan berhasil membuat semua member tertawa mendengarnya. Termasuk Baekhyun yang tertawa sangat keras.

“kemarilah duduk disampingku” pinta Luhan sambil menepuk-nepuk tempat duduk disampingnya. San Di mengabaikannya dan memilih duduk antara sehun dan tao. Baekhyun tersenyum lebar melihat tingkah San Di.

Mata Luhan memandang sehun dan tao bergantian, meminta mereka pindah dengan bahasa isyarat. Akhirnya tao dan sehun pindah tempat membuat Luhan duduk disebelah San Di. San Di tidak menghiraukannya dan tetap menonton sambil melahap pop corn di tangannya. Baekhyun memandang Luhan kesal.

Karena kelelahan San Di tertidur di pundak Luhan. Luhan tersenyum senang kali ini. Dan Baekhyun yang masih duduk bersama mereka benar-benar terbakar api cemburu kali ini. Ingin rasanya dia menarik Luhan dan membawa San Di pergi, namun Baekhyun benar-benar tak bisa melakukan apa-apa. Bahkan saat kini tangan Luhan memeluk San Di, dan membiarkan San Di tidur di dadanya Baekhyun hanya menatapnya kosong. Baekhyun menelan ludah susah payah dan memberanikan bicara.

“kau masih sangat mencintainya hyung?” Tanya Baekhyun pada Luhan. Luhan menatap Baekhyun sebentar.

“hmm.. Aku lebih mencintainya sekarang. Yang paling ku sesalkan dalam hidup ini adalah saat 4 tahun lalu aku memilih meninggalkannya, membiarkannya terpuruk sendirian adalah kesalahan terbesar yang pernah ku lakukan. Dan jika sekarang dia memberiku kesempatan, aku benar-benar akan menjaganya kali ini. Aku tak akan melepaskannya dan tidak akan membiarkannya pergi lagi” jawab Luhan panjang lebar dan mempererat pelukannya. Tampaknya San Di sangat kelelahan hingga tak bergeming saat Luhan memeluknya. Baekhyun tersenyum pahit mendengarnya. Tak ingin terlalu lama melihat pemandangan yang mengganggu hatinya Baekhyun pergi meninggalkan Luhan dan San Di.

Baekhyun merebahkan tubuhnya di tempat tidur mencoba menenangkan dirinya. Baekhyun benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan, dua orang itu sama-sama berharga baginya sekarang.

Baekhyun tidak benar-benar tertidur saat itu ketika seseorang membuka pintu kamarnya. Mungkin chanyeol yang baru pulang dari rumahnya atau sehun yang kedinginan. Baekhyun tak menghiraukannya sampai orang itu berjalan mendekati Baekhyun. Baekhyun langsung membuka matanya dan memastikan orang yang masuk ke kamarnya.

“oppa, belum tidur?” Bisik orang yang memesuki kamar Baekhyun yang ternyata adalah San Di. Baekhyun terbelalak kaget dan mencoba memastikan bahwa itu benar-benar San Di.

“jangan bicara suaramu bisa membangunkan semua orang” bisik San Di menahan mulut Baekhyun untuk terbuka. Lalu meminta Baekhyun untuk bergeser dari tempat tidurnya, dan berbaring di pinggir Baekhyun.

“Luhan sangat berisik, aku tak bisa tidur. Aku merindukanmu oppa” bisik San Di memeluk Baekhyun dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Baekhyun. Baekhyun tak mengeluarkan suara hanya membalas pelukan San Di.

“oppa jangan menghindariku , ku mohon. Aku benar-benar tidak bisa berpura-pura tidak mengenalmu. Eoh ?” San Di masih berbisik pada Baekhyun. Baekhyun merubah posisinya untuk menatap San Di.

“aku benar-benar bingung apa yang harus kulakukan ?” Ucap Baekhyun dengan suara sepelan mungkin.

“tetaplah disisiku menjadi Baekhyun ku yang selalu tampak menggemaskan, hmm” ucap San Di manja dan kembali berbaring dipelukan Baekhyun.

“aku ngantuk oppa, pindahkan aku ke sana setelah aku tertidur” San Di menunjuk tempat tidur chanyeol dan mencoba memejamkan matanya.

Beberapa menit kemudian San Di sudah tertidur lelap di pelukan Baekhyun.

**

San Di sudah duduk di depan tv pagi itu. Semua member terbangun karena volume tv yang disetel maksimal itu San Di hanya duduk santai meminum susu hangat ditangannya.

“nuna ini masih pagi” ucap sehun keluar dari kamarnya sambil mengucek-ngucek matanya. Diikuti suho yang juga ikut keluar dari kamarnya lalu menghampiri San Di.

“kerja bagus cantik” ucap suho sambil mengacak-ngacak rambut San Di.

‘satu masalah lagi’ ucap Baekhyun dalam hati yang juga sedang menonton tv bersama San Di. Lalu mereka tertawa bersama menikmati acara pagi itu. Baekhyun tak akan menghindari San Di lagi sekarang.

“kalian sangat akrab dalam semalam?” Tanya kyung soo heran melihat Baekhyun dan San Di yang terus tertawa bersama

“Baekhyun oppa sangat imut, dia benar-benar menggemaskan”jawab San Di sambil mencubit pipi Baekhyun. Kyung soo tertawa melihatnya.

“tentu, aku memang sangat menggemaskan” jawab Baekhyun sambil memamerkan eye smilenya.

Semua orang terheran-heran saat menatap seorang pria telah sibuk mengobrak-ngabrik dapur, membuat tempat itu sedikit berantakan karenanya.

“daebak ,, Luhan hyung sepertinya ada yang menyihirmu, membuatmu bangun lebih awal” ucap sehun kaget melihat Luhan yang biasa bangun paling akhir kini sudah sibuk dengan aktifitasnya. Luhan tersenyum bangga menjawabnya, lalu membawa sesuatu ditangan kirinya menghampiri San Di.

“silahkan ratuku, nikmati sarapan spesial dari pangeranmu” ucap Luhan senang sambil menyodorkan sepiring sandwich buatannya.

“aku harap rasanya masih sama seperti yang selalu ku buat dulu” Luhan mengenggam tangan San Di membuat San Di kehilangan kata-kata dibuatnya.

“kau mengingatnya ?” Tanya San Di pada Luhan

“tak ada hal sedikitpun yang aku lupakan tentang dirimu” ucap Luhan lalu menyuapkan sanwich pada San Di, San Di hanya menerimanya dengan tatapannya tak lepas dari wajah Luhan.

“daebak,, daebak,, daebak” suara chanyeol menggema di seluruh dorm saat itu,

“ada apa, pelankan suaramu sedikit” ucap suho kesal.

“daebak.. Daebak” teriak chanyeol untuk kedua kalinya,Baekhyun melemparkan bantal pada chanyeol yang tampaknya tetap asyik dengan layar tab nya.

“dengarkanlah” teriak chanyeol mengumpulkan semua orang diruang tv

“sm ent telah mengkonfirmasi bahwa Luhan exo telah berkencan dengan lee San Di, pewaris utama saham sm ent” chanyeol meneriakan berita yang dibacanya.

Semua berteriak senang dan bertepuk tangan, hanya San Di dan Baekhyun yang seketika menghantikan aktifitas mereka, San Di meletakan sandwich buatan Luhan dan susah payah menelan sisa sanwich di mulutnya. Baekhyun dan San Di saling menatap bergantian. Wajah Baekhyun memerah, tubuhnya bergetar dan tenaganya lenyap untuk bertepuk tangan ataupun mengatakan selamat seperti yang lain. Luhan tampak sangat bahagia, dia menatap San Di dalam-dalam. Namun San Di masih mencoba mencerna perkataan chanyeol.

Lima menit berlalu San Di mencoba menenangkan diri, Baekhyun beranjak dari kursinya lalu pergi ke kamar tanpa sepatah katapun. San Di mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Belum sempat Luhan mengatakan sesuatu, San Di sudah beranjak dari tempat duduknya, meraih kunci motor kai dan pergi meninggalkan dorm.

Dengan kecepatan maksimal San Di mengendarai motor besar milik kai, layaknya sedang diarena balap San Di menyusuri jalanan yang sedikit kosong, sesekali klakson berbunyi kencang dari mobil yang dilewatinya. Rambut San Di terbang bebas di bawah helm hitamnya, tangannya berkali-kali menarik gas menambah kecepatan. San Di tak peduli tubunnya akan membeku karena angin yang masuk bebas kedalam tubuhnya, menembus pakaian San Di yang hanya memakai piyama milik Luhan dan sandal rumah milik Baekhyun. Motor besar itu lalu berhenti di sebuah gedung besar di daerah Cheomdangdong. San Di berjalan layaknya preman yang akan menemui musuhnya, helm hitamnya tak San Di lepaskan.

“nona anda siapa ?” Tanya seorang resepsionis saat melihat San Di menerobos masuk, namun San Di tak menjawabnya tetap masuk ke dalam lift menuju lantai paling atas gedung itu.

Tangan kecil San Di mampu mambanting pintu di depannya yang bertuliskan “Direktur Utama”

“anda siapa nona?” Seorang sekertaris wanita menghampiri San Di yang kini telah melewatinya. Sekertaris itu menggenggam tangan San Di, namun sepertinya kemarahan San Di membuatnya kuat, San Di menghempaskan tangan sekertaris itu hingga tubuhnya terjatuh, dan sekali lagi mendorong pintu didepannya.

Pria paruh baya itu seketika berdiri dari kursinya, menatap seseorang yang berdiri dengan nafas yang tidak beraturan.

“apa yang kau lakukan ?” Tanya pria itu menunjuk San Di, San Di membuka helmnya dan melemparkan sembarangan. Membuat pria itu tersentak kaget melihatnya.

“lee San Di kau !!” Teriak pria itu melihat gadis didepannya dengan rambut yang berantakan dan pakaian yang benar-benar membuatnya membelalakan mata.

“benar, aku lee San Di, anakmu appa” suara San Di mulai pecah, tampaknya San Di tak siap dengan apa yang akan dia lakukan.

“wheo ? Kenapa appa selalu memaksakan kehendak appa padaku. Aku bukan boneka mu seperti mereka, aku anak mu appa. Anak yang selama hampir 4 tahun tak pernah kau peluk, anak yang begitu merindukan kasih sayang dari appa nya. Aku anak mu appa” teriak San Di pada ayahnya, San Di tertunduk lemas di tempatnya, kakinya tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya lagi. Tangisannya sudah membanjiri pipi putihnya.

“kenapa appa tak pernah mendengarkan satu saja yang ku inginkan dalam hidupku. Apa ayah membenciku karena kepergian eomma ? Tak bisakah appa hanya membenciku dan tak ikut campur dalam urusan hatiku?. Selama 4 tahun aku sudah menjadi yatim piyatu setelah appa menyalahkanku untuk kecelakaan eomma. Jadi kumohon berhentilah” kata-kata San Di hanya bisa terucap sampai disitu. Tubuhnya bergetar hebat menahan luapan emosi yang hampir meledak. Ayah San Di hanya menatap anaknya yang menangis tersedu-sedu didepannya.

“appa hanya ingin membuatmu bahagia tanpa merugikan ku” jawab ayah San Di ketus sambil memalingkan wajah dari anaknya.

“bahagia ? Tau apa ayah tentang kebahagiaan ? Apa pernah ayah merasa puas dan bahagia dengan hidup ini?” Tanya San Di kembali dengan tatapan yang penuh emosi.

“kau sudah menikmati banyak hal dari yang aku hasilkan. Seharusnya kau bersyukur” timpal ayah San Di dengan nada yang sama.

“appaaaaaa !!!!” Teriak San Di semakin kencang, tangisannya benar tumpah lebih parah sekarang.

“baiklah jika itu mau ayah aku tidak akan hidup dengan apa yang kau hasilkan, aku tidak akan mengganggu ayah jadi berhentilah mengangguku” kata-kata terakhir San Di sebelum pergi dari hadapan ayahnya setelah memberikan hanphone dan jam tangan yang dipakainya.

**

“Cha-Cha noona pergi meninggalkan motor ku” ucap kai setelah mengambil motornya yang terlantar sendiri di gedung sm.

“lalu kemana dia ?” Tanya Luhan cemas,

“entahlah kami juga tidak tahu” jawab sehun

Baekhyun tanpa pikir panjang langsung pergi mencari San Di di apartemennya, namun nihil, apartemen San Di kosong tak berpenghuni. Tak ada surat, tak ada pesan San Di pergi entah kemana. Baekhyun tampak frustasi mengacak-ngacak rambutnya sendiri sambil terus mencoba menghubungi San Di. Memandangi suasana di luar jendela, hujan sangat deras saat itu, ditambah kabut tebal menyelimuti seoul membuat Baekhyun semakin gila.

Luhan menyusuri jalanan seoul yang sudah diguyur hujan lebat, Luhan menuju tempat yang mungkin San Di kunjungi saat ini.

“hujan sangat lebat Cha-Cha kumohon jangan gila” ucap Luhan dalam mobilnya yang nyaris tak bisa bergerak karena jalanan yang hampir tertutup kabut dan hujan.

Disana di halte bus yang kosong depan Luhan seorang gadis duduk di pinggir jalan, tanpa payung bahkan tanpa baju hangat di tubuhnya, hanya piyama yang sudah kotor dengan cipratan air hujan. Gadis itu tertunduk menatap jalanan, sesekali menatap langit yang menangis bersamanya. Luhan segera keluar dari mobil membawa payung dan baju hangat di tangannya menghampiri gadis itu.

“Cha-Cha” panggil Luhan membuat gadis itu menoleh seketika, matanya merah, bibirnya hampir membiru karena kedinginan, wajahnya sangat pucat. San Di menatap Luhan kosong. Luhan menyematkan baju hangat di tubuh San Di membantunya berdiri sebelum akhirnya San Di pingsan di pangkuan Luhan.

“kenapa kau harus mabuk ? Kau akan demam jika minum” ucap Luhan lirih , lalu menggendong San Di ke mobilnya.

Dalam mobil San Di terus bicara tak jelas, tubuhnya panas seperti yang Luhan katakan. Luhan sangat tau keadaan San Di yang akan selalu demam setelah minum alkohol.

“Xi Luhan kenapa kau meninggalkan ku dulu eoh ?” Tanya San Di, walaupun setengah sadar San Di tetap bicara pada Luhan. Luhan menghentikan mobilnya sebentar menatap San Di.

“kemana kau saat aku benar-benar butuh bahu seseorang untuk menangis ? Kemana kau saat aku memanggil namamu karena begitu merindukan mu ? Dimana cintamu yang pernah kau janjikan untukku ?.. Xi Luhan aku membencimu sangat sangat membencimu.. Dan aku lebih membenci diriku karena masih mencintaimu hingga sekarang” emosi San Di akhirnya tumpah pada Luhan, tangan San Di memukul dada Luhan berkali-kali, Luhan meneteskan air mata menerima kata-kata San Di , kenyataan bahwa dulu dia meninggalkan San Di adalah sesuatu yang ia sesalkan saat ini. Luhan menghentikan tangan San Di menariknya dalam pelukan Luhan, membiarkan tubuh basah San Di membasahi baju Luhan, membenamkan kepala San Di di dada Luhan, dan membiarkannya mendengar  detakan jantung Luhan yang hanya menyebutkan nama San Di. San Di tetap menangis dalam pelukan Luhan, tangan Luhan mengusap lembut rambut basah San Di. San Di kelelahan hingga akhirnya membalas pelukan hangat Luhan dengan erat.

“mianhae jeongmall mianhae, aku akan menjagamu sekarang dan tak akan meninggalkanmu sendiri lagi” bisik Luhan di telinga San Di. San Di semakin mempererat pelukannya.

To Be Continue..

Don’t Go (Chapter 3)

Gambar

Tittle : Don’t Go

Scriptwriter (Author): Sandira

Main Cast: Byun Baekhyun ,Lee San Di (Nickname :Cha-Cha), Xi Luhan

Support Cast: EXO Member

Genre: Romance, Family , Friendship

Duration (Length): Chapter 3

Rating: 15+

“maaf aku tak bisa menjemputmu dan datang bersamamu” ucap Baekhyun menyesal pada San Di.

“oppa apapun yang akan kau dengar dan kau lihat hari ini kau harus tetap percaya bahwa aku Lee San Di selalu mencintaimu lebih dari apapun. Tidak jangan dengarkan apa yang orang katakan. Hanya percaya padaku dan lihatlah aku sebagai orang yang mencintaimu” ucap San Di panjang lebar, membuat Baekhyun menaikan alisnya heran.

“baiklah nona, aku selalu percaya padamu” jawab Baekhyun sambil tersenyum. San Di menarik Baekhyun ke dalam pelukannya.

“aku hanya mencintaimu oppa. Benar benar mencintaimu” ucap San Di lembut di telinga Baekhyun.

“aku lebih mencintaimu Lee San Di” bisik Baekhyun.

**

Suasana gedung sm ent saat itu sangat ramai, karena hari ini ulang tahun direktur utama maka semua artis sm ent hadir mengenakan gaun kebanggan mereka masing-masing.

“mana kekasihmu?” Tanya kyung soo pada Baekhyun yang terlihat gugup sambil sesekali memandangi jam tangannya.

“sebentar lagi dia tiba” jawab Baekhyun singkat.

“ini minumlah dulu, kau tampak gugup sekali” ujar kyung soo sambil menyodorkan segelas air putih pada Baekhyun. Baekhyun menerimanya dan meneguknya perlahan dan keluar dalam waktu yang bersamaan saat pintu utama pesta itu terbuka dan menampakan seorang gadis dengan gaun merah muda panjang. Memamerkan bagian bahu dan punggungnya sebagian. High heel warna sepadan semakin menyempurnakan penampilannya. Rambutnya sedikit curly namun semakin membuatnya terlihat menawan. Baekhyun menelan air minum dengan perlahan. Matanya hampir tak berkedip selama 20 detik.

“San Di ah. Kapan kau datang” suara seorang wanita yang melewati Baekhyun membuyarkan semua imajinasi Baekhyun. Wanita itu berlari menghampiri San Di.

“unni aku sangat merindukanmu” balas San Di memeluk wanita yang ternyata adalah Sunny snsd. Kini bukan hanya Baekhyun yang menatap San Di namun hampir seisi ruangan menatapnya. Dan yang pasti hanya Baekhyun yang membatu ditempat melihat San Di. Hampir semua artis sm menghampiri San Di dan mengobrol sangat akrab.

“waah nuna semakin cantik” gumam kyung soo yang masih berdiri di samping Baekhyun. Pandangan Baekhyun kini beralih pada kyung soo.

“kau mengenalnya?” Tanya Baekhyun dengan suara yang terbata-bata.

“heey jangan bercanda baek. Kau tak mengenalnya sama sekali?” Kyung soo menepak bahu Baekhyun. Baekhyun hanya menggeleng menjawabnya.

“ah benar, kau mungkin tak mengenalnya karena kau bergabung terakhir” ujar kyung soo semakin membuat Baekhyun penasaran,

“maksudmu? Bicara yang jelas do kyung soo?” Baekhyun bertanya dengan nada sedikit marah.

“dia itu anak tunggal direktur Lee. Dia memutuskan kuliah di amerika setelah ibunya meninggal 4 tahun lalu. Dan kau tau ? “ kyung soo mendekatkan mulutnya ke telinga Baekhyun.

“dia wanita yang bisa membuat exo sedikit terpecah” bisik kyung soo pelan

“apa yang kau bicarakan?” Baekhyun kembali bertanya semakin kesal

“dia itu Cha-Cha yang direbutkan oleh Luhan,kris,suho, bahkan jong in sekalipun”

“Cha-Cha”? Ucap Baekhyun dengan suara terbata-bata, tubuhnya melemas, Baekhyun kehilangan keseimbangan dan mulai duduk pada kursi di sebelahnya. Baekhyun menatap San Di dan memastikan bahwa kyung soo salah.

“Cha-Cha?” Ucap Baekhyun untuk kedua kalinya.

“iya Cha-Cha, kami mengenalnya dengan nama itu, nama aslinya Lee San Di. Ku fikir Cha-Cha lebih baik untuknya” ucap kyung soo santai.

“tidak mungkin” gumam Baekhyun, matanya tak lepas menatap San Di yang masih dikelilingi orang-orang itu.

“kau kenapa baek ? Ayo kita kesana dan akan ku kenalkan kau padanya” kyung soo menarik tangan Baekhyun dengan paksa, Baekhyun hanya mengikutinya tanpa melawan.

“noona anyeong. Kau masih mengingatku ? 4 tahun lalu saat pertama aku masuk kesini” kyung soo menyapa San Di namun San Di segera menyapanya.

“heey .. Tentu saja aku mengingatmu. Jangan seperti itu membuatku tampak seperti orang jahat” ucap San Di dengan senyum lebar,kyung soo juga ikut tersenyum senang.

Baekhyun menundukan kepala, perasaan nya campur aduk sekarang. Yang Baekhyun ingin lakukan sekarang adalah segera pergi dari pesta ini dan segera menemui kekasihnya. Bukan wanita bergaun merah muda didepannya. San Di menatap Baekhyun dan tersenyum karena tau Baekhyun akan menyembunyikan wajahnya karena malu.

“Cha-Cha, maukah kau berdansa denganku?” Tanya Luhan mengalihkan pandangan San Di. Kini Baekhyun pun ikut menatap Luhan.

“nde?” Tak sempat San Di menolak/menerima, Luhan sudah menarik tangan San Di dan menikmati alunan musik pesta itu. Pandangan San Di tak beralih dari Baekhyun. Dan ingin rasanya berlari pada pelukan Baekhyun saat San Di melihat kini Baekhyun berjalan keluar meninggalkan pesta. Namun sesuatu menahannya. Tangan hangat Luhan menahan tubuhnya untuk berlari mengejar Baekhyun.

“aku merindukanmu Cha-Cha” bisik Luhan lembut di telinga San Di. San Di tak membalasnya, fikirannya melayang mengikiti Baekhyun yang keluar meninggalkan pesta.

“dan aku masih mencintaimu Cha-Cha. Maafkan aku” Luhan kembali berbisik. Jantung Cha-Cha seakan berhenti mendengar kata-kata Luhan. Cha-Cha membiarkan manik-manik mata mereka saling bertemu, Cha-Cha masih melihat tatapan Luhan yang tak berubah saat 4 tahun lalu mereka berpisah. Tanpa sadar atau mungkin benar-benar sadar tangan Cha-Cha menelungkup di pipi halus Luhan. Jauh di lubuk hati Cha-Cha dia merindukan sosok Luhan yang sekitar 5 tahun lalu ia cintai dengan seluruh hatinya. Masih ada nama Luhan dihatinya, terlalu banyak hal indah yang telah Luhan berikan untuk Cha-Cha.

Luhan tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada Cha-Cha, menghapus jarak di antara mereka, mata Luhan terpejam ingin mencium Cha-Cha. Namun Cha-Cha melepaskan tangan Luhan menatap Luhan dalam-dalam.

“Cha-Cha sudah mati sejak kau memutuskan untuk meinggalkannya” ucap Cha-Cha dengan kesal menghempaskan tangan Luhan dan pergi meninggalkannya.

**

“oppa aku sudah di apartemen, kemarilah aku akan menjelaskan semuanya”  Baekhyun tak mengangkat telepon San Di. Pesan singkat itu pun tak Baekhyun hiraukan. Baekhyun hanya memandang kosong langit-langit kamarnya yang gelap.

“kau sakit ? Kenapa kau meninggalkan pesta duluan ?” Tanya chanyeol teman sekamar Baekhyun yang baru pulang dari pesta. Chanyeol membuka jasnya dan berbaring bersama Baekhyun.

“aku hanya sedikit lelah” ucap Baekhyun malas

“aku ingin bertanya sesuatu padamu yeolli” kini Baekhyun duduk menatap chanyeol yang terbaring disampingnya. Chanyeol menaikkan alisnya saat melihat Baekhyun yang memasang wajah serius.

“kau mengenal Lee San Di maksudku Cha-Cha?” Tanya Baekhyun mencoba mengeluarkan suara setenang mungkin agar chanyeol tidak curiga. Chanyeol tersenyum mendengar pertanyaan Baekhyun.

“tentu, jangan konyol baek. Aku mengenalnya dengan baik” jawab chanyeol dengan semangat.

“kau bisa ceritakan padaku, orang seperti apa dia ? Maksudku disini hanya aku dan jong dae yang tidak mengenalnya. Mungkin dilain kesempatan aku harus menyapanya kan ?” Tanya Baekhyun panjang lebar dengan suara yang terbata-bata.

“tentu aku akan menceritakannya” jawab chanyeol sambil mengimbangi posisi Baekhyun. Kini mereka seperti dua orang yang sedang membicarakan bisnis.

“Cha-Cha adalah gadis periang, dia selalu membawa kebahagiaan untuk orang disekitarnya. Aku tidak pernah melihat orang yang selalu bahagia sepanjang hari. Dia bisa menyanyi dengan baik. Suaranya sangat indah saat bernyanyi. Dan kau tau, saat dia menari ,kau akan terhipnotis dengan gerakan badannya yang begitu indah. Dan yang paling penting adalah sebagian dari para member kita ada yang pernah jatuh hati pada Cha-Cha , mungkin sampai sekarang”

“si siapa?” Tanya Baekhyun kini dia mulai penasaran.

“suho hyung pernah menyatakan cinta pada Cha-Cha saat suho hyung setahun masuk sm, tentu dia percaya diri dengan kekayaannya menyatakan cinta pada Cha-Cha. Karena kris hyung itu cool dia juga pernah menyatakan cinta pada Cha-Cha. Bahkan jong in si hitam itu pernah belajar menari bersama Cha-Cha dan dengan percaya dirinya dia menyatakan cinta pada Cha-Cha. Luhan hyung juga pernah memiliki kesempatan menyatakan cinta pada Cha-Cha” jawab chanyeol sambil menghitung jari-jari panjangnya. Baekhyun kehilangan fikirannya di kalimat terakhir chanyeol.

“dan kau pasti tau siapa yang berhasil mendapatkan hati nya kan?” Kini giliran chanyeol yang bertanya pada Baekhyun. Baekhyun menelan ludah susah payah dan menganggukan kepalanya.

“Luhan hyung” jawab Baekhyun dengan suara yang hampir menghilang.

“100 untukmu baek. Dan 4 tahun lalu nyonya Lee (ibu San Di) meninggal dalam kecelakaan, membuat San Di kehilangan setengah kebahagiaannya. Senyum dan kebahagiannya menghilang seketika. Tak ada lagi tawa riang yang selalu berkunjung ke tempat latihan kami, tak ada lagi teriakan semangat dari nya. Dan semua itu benar-benar hilang saat exo terbentuk” ucap chanyeol sambil menarik nafas dalam-dalam. Chanyeol tertunduk semakin membuat Baekhyun kebingungan.

“4 tahun lalu, saat exo terbentuk kami tidak boleh memiliki kekasih. Jadi kami memutuskan hubungan dengan kekasih kami. Tak terkecuali Luhan hyung. Kami tau ini benar-benar berat untuk Luhan hyung. Terlebih untuk Cha-Cha. Luhan hyung memilih exo dan Cha-Cha pergi ke new york. Kami tak pernah mendengar kabarnya sama-sekali. Sampai tadi dia muncul dengan penampilan berbeda” jelas chanyeol panjang lebar. Baekhyun hanya membatu ditempat duduknya.

“ini sudah malam baek. Tidurlah lain kali ku lanjutkan ceritaku” ucap chanyeol dan beranjak dari tempat tidur Baekhyun dan kembali ke ranjangnya,

Pikiran Baekhyun melayang pada saat San Di mengatakan beberapa hal padanya.

Flashback :

“oppa jika kau harus memilih antara aku dan exo , mana yang akan oppa pilih ?” Tanya San Di pada Baekhyun yang sedang berbaring di sampingnya. Mereka sedang menikmati angin malam pulau jejju malam itu.

“kenapa kau menanyakan hal menakutkan seperti itu?” Jawab Baekhyun sambil menatap San Di.

“hanya ingin tau saja, kau tak perlu menjawabnya”

“bolehkah aku memilih keduanya ? Kalian sama-sama berharga” jawab Baekhyun dan memeluk manja tubuh San Di.

“oppa saranghae.. Neomu neomu saranghae. Jangan tinggalkan aku” bisik San Di mempererat pelukannya. Namun Baekhyun melepaskan pelukannya dan menatap lekat mata San Di.

“apa kau sedang merayuku sekarang ? Kau tak perlu melakukannya, aku sudah jatuh hati padamu sejak pertama kali melihatmu” jawab Baekhyun sambil mencubit pipi San Di membuat San Di kesal dan memukul kepala Baekhyun.

“tidak lucu byun Baekhyun” San Di terlihat marah dan menjauhkan badannya dari Baekhyun.

Flashback end.

Kepala Baekhyun benar-benar pusing saat terbangun pagi ini. Matanya masih ingin terpejam setelah hampir tidak tidur semalam. Namun suara berisik dari luar memaksanya berjalan keluar kamar.

“ada apa kenapa kalian ribut sekali?” Tanya Baekhyun pada orang-orang yang sudah berkumpul diruang tengah.

“ada apa hyung bukankah biasanya kau yang paling berisik ?” Jawab sehun yang malah balik bertanya.

“berita besar mengguncang dunia permusikan korea hari ini lihatlah” teriak chanyeol dan mengangkat sebuah koran ditangannya.

“Luhan exo bersama seorang wanita di bandara” teriak chanyeol dan membuat Baekhyun tersedak dengan minumannya. Semua perhatian langsung mengarah pada Baekhyun.

“yaa kau kenapa?” Tanya suho sambil menepuk punggung Baekhyun

“tidak,aku tidak apa-apa. Selamat hyung” ucap Baekhyun setenang mungkin mengendalikan dirinya.

“oh aku baru ingat, bukankah kau bilang akan mengenalkan kekasihmu semalam?” Tanya Luhan

“dia mendadak tidak enak badan jadi tidak bisa datang, aku harus mandi dan menemuinya” jawab Baekhyun dan pergi meninggalkan kerumunan orang-orang.

**

Baekhyun sudah berdiri di depan pintu apartemen San Di. Sekitar setengah jam lamanya Baekhyun hanya berdiri bersandar pada dinding sebelah pintu apartemen itu. Baekhyun bingung apa dia harus masuk, dan setelah masuk apa yang akan dia katakan. Apa dia harus minta maaf, atau memaafkan San Di. Terlalu banyak hal yang Baekhyun takutkan saat itu. Hingga Baekhyun memberanikan memencet password kamar itu.

Baekhyun perlahan berjalan masuk tanpa berkata apapun, lagu open arm kesukaan San Di sedang diputar, mata Baekhyun berkeliling melihat isi apartemen yang sedikit berbeda dari kemarin. Berantakan sangat berantakan Baekhyun menyusuri apartemen itu dan langsung menuju kamar San Di yang sedikit terbuka.

“Lee San Di” teriak Baekhyun saat melihat San Di tergeletak di dekat pintu kamarnya, Baekhyun segera berlari menghampirinya.

“Lee San Di bangunlah, bangunlah ini aku” Baekhyun mengguncangkan tubuh sandi dan menepuk-nepuk pipi San Di. Pikiran Baekhyun melayang pada hal bodoh yang mungkin dilakukan San Di. Baekhyun merasa lemas, sekujur tubuhnya berkeringat dingin.

“Lee San Di mianhae, bangunlah kumohon. Maafkan aku.. Aku sangat mencintaimu” Baekhyun sudah menangis, air matanya menetes begitu deras, memeluk erat-erat San Di. Hingga beberapa detik kemudian tubuh San Di bergerak. San Di batuk seperti sesuatu menahan tenggorokannya, Baekhyun segera sadar dan melihat San Di.

“pria jahat kenapa baru datang sekarang” ucap San Di dengan mata tertutup tangannya memukul dada Baekhyun . Baekhyun mendekatkan wajahnya pada San Di dan seketika pula menjauhkannya.

“dasar gadis bodoh bagaimana dia bisa mabuk!” ucap Baekhyun sambil sedikit tersenyum karena San Di masih bernafas. Baekhyun mengangkat tubuh San Di dan membaringkannya di tempat tidur San Di. Baekhyun mengenggam tangan San Di sebentar dan pindah menyentuh keningnya.

“dia demam ! Bagaimana dia bisa mabuk dengan keadaan demam seperti ini?” Baekhyun segera beranjak setelah mengetahui San Di yang demam namun langkahnya terhenti saat tangan San Di menahan tangan Baekhyun.

“jangan pergi. Sudah kubilang aku akan menjelaskannya. Jangan pergi dan jangan tidur” ucap San Di dengan terbata-bata Baekhyun hanya menatapnya heran dan duduk kembali disamping San Di.

“kau ingin tau kenapa aku menyembunyikan identistasku?” Tanya San Di , jarinya bergerak tak karuan layaknya orang mabuk berat.

“karena aku tak ingin kau merasa terbebani. Juga karena aku sebenarnya membenci kenyataan bahwa kau adalah exo yang berada di bawah kekuasaan SM Ent. Dan yang paling ku benci adalah kenyataan bahwa direktur SM ent adalah ayahku” San Di berteriak pada Baekhyun, namun ada air mata mengalir dari sudut mata San Di. Baekhyun menghapusnya perlahan.

“kau juga pasti sudah tau, jika Luhan,kris,suho dan jong in menyukaiku. Bisakah kau lupakan semua itu dari fikiranmu. Oke aku memang pernah jatuh cinta pada si pengecut Luhan yang lebih memilih exo dari pada aku. Tapi bisakah kau juga tak memperdulikannya. Karena sekarang semuanya sudah berakhir. Aku hanya menginginkanmu byun Baekhyun” jelas San Di panjang lebar, namun kali ini San Di muntah karena terlalu banyak minum. Membuat Baekhyun beranjak dari tempat duduknya.

“aish gadis bodoh, kau bisa membicarakannya secara sadarkan ?” Gumam Baekhyun kesal dan segera ke dapur mencari sesuatu untuk mengobati San Di.

Baekhyun mengompress badan San Di menjaganya walau San Di terus bergumam Baekhyun tetap tenang menjaga San Di. Hingga tanpa sadar Baekhyun tertidur disamping San Di setelah 6 jam menjaga San Di.

Dua jam kemudian San Di bangun dan tangannya terasa hangat karena genggaman tangan Baekhyun.

“lucu sekali” San Di tersenyum saat mendapati wajah Baekhyun yang tertidur di sampingnya. Dan hendak menyentuh wajah Baekhyun namun segera terhenti dan memejamkan matanya kembali karena Baekhyun tampaknya sudah bangun juga. Baekhyun membuka matanya dan mendapati San Di yang masih terpejam. Baekhyun mendekatkan wajahnya, dan mencium singkat bibir San Di. Membuat San Di mengangkat sedikit ujung bibirnya.

“bangunlah aku tau kau tidak tidur” ucap Baekhyun sambil sedikit tertawa, San Di membuka matanya perlahan.

“ini bukan ciuman pertama kita, kenapa wajahmu masih bisa memerah saat aku menciumu?” Tanya Baekhyun yang mendapati wajah San Di yang sudah merah merona. Membuat San Di menggigit bibir bawahnya.

“kenapa kau mengigit bibirmu ? Apa kau memintaku menciumu lagi ?” Ucap Baekhyun membuat San Di menarik selimutnya dan menutupi seluruh wajahnya.

“jika aku terbangun, oppa akan meninggalkanku lagi kan? Aku akan sakit lagi supaya oppa tetap disampingku” ucap San Di yang masih tertutup selimut itu. Baekhyun tersenyum dan membuka sedikit-demi sedikit selimut San Di, dan menemukan wajah San Di yang masih memerah karena malu.

“harusnya kau menyukai dokter bukan penyayi” ucap Baekhyun sambil mengacak-ngacak rambut San Di.

“tidak lucu” San Di mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Baekhyun.

“yaa Lee San Di kenapa saat sadar kau menyebutku oppa dan tadi kau menyebut namaku seenaknya?” Tanya Baekhyun sedikit kesal.

“sebenarnya aku lebih suka menyebut namamu, sangat lucu. Byun Baekhyun” jawab San Di sambil tertawa sedikit.

“tapi karena ingin terlihat romantis, makanya terkadang aku memanggilmu oppa, lagi pula kita hanya terpaut 2 bulan saja, apa gunanya memanggilmu oppa” jawab San Di sambil menunjuk Baekhyun. Baekhyun menatapnya lalu menarik jari San Di.

“sepertinya hanya ini yang membuatmu menurut padaku” ucap Baekhyun dan kembali mencium San Di, kali ini lebih lama.

“oppa tidak marah padaku?” Tanya San Di yang sudah berbaring berbantalkan dada bidang Baekhyun. Baekhyun mengelus lembut rambut San Di.

“tentu aku sangat marah dan kecewa padamu”

“mianhae oppa”

“aku juga meminta maaf, aku baru ingat beberapa kali kau mengatakan ingin jujur sesuatu padaku, dan terakhir kemarin aku tertidur tanpa sempat mendengarkanmu”

“hmm aku ingin memberitahumu kemarin”

“apa kau masih menyukai Luhan hyung ?”

“kenapa kau menanyakan itu ?”

“aku hanya penasaran, kau tampak menikmati berdansa bersama Luhan hyung kemarin ?”

“oppa cemburu ?”

“hanya orang gila yang tidak akan cemburu melihat wanita secantik dirimu berdansa dengan orang lain”

“sudah kubilang jangan dengarkan orang lain,dan hanya percaya padaku bahwa aku selalu mencintaimu”

“baiklah aku mengalah dan hanya akan mendengarkan apa yang kau katakan”

To Be Continue

Don’t Go (Chapter 2)

Gambar

Tittle : Don’t Go

Scriptwriter (Author): Sandira

Main Cast: Byun Baekhyun ,Lee San Di (Nickname :Cha-Cha), Xi Luhan

Support Cast: EXO Member

Genre: Romance, Family , Friendship

Duration (Length): Chapter 2

Rating: 15+

Seoul 2014

Nama EXO memang sudah terkenal di seluruh penjuru korea, terdiri dari 12 pria tampan dengan pesona masing-masing yang mampu menyihir setiap wanita yang melihatnya. EXO yang beranggotakan Suho, Kris,Xiumin, Luhan, Lay, Baekhyun, Chen, Chanyeol, D.O, Tao, Sehun, dan Kai selalu tampil kompak di atas panggung dan berhasil menggebrak dunia permusikan korea hingga ke luar negri.

“Kau mau kemana hyung?  Wajahmu cerah sekali pagi ini?” Tanya Baekhyun pada Luhan yang sedang memutar-mutar badannya di depan cermin, sesekali tangannya meraih sisir dan merapikan helaian rambut yang sedikit terangkat. Luhan tak menjawab dan tetap tersenyum menatap cermin.

“belahan jiwanya akan kembali hari ini, lihatlah kau bahkan terlihat sangat norak dengan kemeja itu” ucap Xiumin yang sedang asyik membaca majalah. Dan menunjuk kemeja putih Luhan.

“benarkah  ? Cha-Cha noona? Selamat hyung” teriak Baekhyun senang

“apa aku kurang keren dengan ini?” Tanya Luhan pada kedua temannya yang sedang memperhatikannya.

“kau keren hyung. Waah hari ini kekasihku juga kembali, tapi aku tak bisa menjemputnya karena harus mengisi acara” keluh Baekhyun sambil mengacak-ngacak rambutnya frustasi.

“benarkah ? Siapa namanya ? Aku akan menjemputnya juga untukmu?” Tanya Luhan sambil sedikit tertawa.

“ah benar selama ini kami tidak pernah tau nama kekasihmu?” Tanya Xiumin yang juga terlihat penasaran.

“ah hyung tidak boleh, dia bisa berpaling padamu” jawab Baekhyun menyilangkan kedua tangan didadanya Luhan dan xiumin hanya tertawa melihat tingkah Baekhyun.

“namanya adalah..”

“Byun Baekhyun cepatlah keluar. Kita akan segera berangkat” terdengar suara Kyung Soo dari luar membuat Baekhyun menghentikan kalimatnya dan beranjak pergi.

“nanti malam di acara ulang tahun direktur aku akan langsung memperkenalkannya pada kalian” ucap Baekhyun sambil beranjak meninggalkan Luhan dan xiumin.

**

Bandara Incheon

Dari pintu VIP bandara keluar seorang gadis mengenakan dress abu-abu dibalut baju hangat coklat sampai lutut, rambutnya terurai indah sampai punggung, matanya ditutupi kacamata hitam dan mengenakan flat shoes coklat muda. Tangan kanannya menggusur koper warna pink itu. Dan tangan kirinya memegang kertas seperti peta.

“Cha-Cha” teriak Luhan pada seorang gadis yang baru datang itu , gadis itu tersentak melihat Luhan dihadapannya.

“sedang apa kau disini?” Tanya Cha-Cha kaget

“tentu saja menjemputmu nona manis. Sekian lama tak melihatmu kau semakin cantik” jawab Luhan sambil mencubit pipi Cha-Cha manja. Cha-Cha hanya tersenyum sinis menanggapinya.

“kau benar-benar ambil resiko Xi Luhan” ucap Cha-Cha sinis sebelum akhirnya masuk kedalam mobil yang dibukakan Luhan.

“aku ingin istirahat oppa, pulanglah kita bisa bertemu nanti malam” ujar Cha-Cha saat tiba didepan pintu apartemennya. Luhan hanya mengangguk manis dan pergi meninggalkannya

**

Baekhyun duduk di kursi sebuah apartemen yang sangat mewah. Barang-barangnya terlihat sangat antik dan berkelas, dekorasi ruangan yang seperti di desain dengan sangat profesional ,karena semuanya terlihat cocok dan indah. Mata Baekhyun terus berkeliling kagum melihat suasana apartemen yang begitu nyaman ini. Ada alunan music balad dari ruang utama apartemen itu, sesekali Baekhyun menyentuh beberapa benda didepannya, atau tersenyum saat melihat sebuah foto terbingkai indah di sebuah lemari kecil. Itu foto Baekhyun dan kekasihnya, pemilik apartemen itu. Baekhyun menunggu kekasihnya yang sepertinya sedang mandi itu. Setengah jam lamanya Baekhyun menunggu ditemani lagu-lagu romantis yang pernah ia nyanyikan, well karena lagu yang dari tadi diputar adalah lagunya sendiri. Hingga beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka, Baekhyun berjalan perlahan menuju kamar mandi itu.

“hah.. Oppa kau mengagetkanku,kapan kau datang ?” San Di hampir saja berteriak kencang saat melihat seorang laki-laki berdiri menyambutnya dari kamar mandi. Baekhyun hanya tersenyum jahil memandang San Di dengan tatapan intens, membuat San Di sedikit tak nyaman, karena kini tubuhnya hanya dibalut handuk putih yang hanya menutupi bagian dada hingga pahanya. Baekhyun terus mendekat, mendekatkan tubuhnya pada tubuh mungil San Di, Baekhyun mendorong wanita didepannya pada dinding sebelah pintu kamar mandi. Tangan kiri Baekhyun melingkar kuat di pinggang wanita bertubuh kecil itu . Dan tangan kanannya menelusup masuk pada rambut San Di  yang masih basah.

“oppa”  San Di kekasihnya mencoba menahan Baekhyun, namun sepertinya Baekhyun tak memperdulikan perkataanya. Dengan lembut Baekhyun mencium bibir mungil San Di  . Menikmati setiap inchi bibir mungil milik San Di. Beberapa saat Baekhyun melepaskan ciumannya, memandang wajah San Di yang sudah merah karena ulah Baekhyun. Mata San Di terpejam ‘sangat cantik’ kesan Baekhyun selalu sama saat melihat wajah kekasihnya dari jarak yang begitu dekat. Baekhyun tersenyum melihat San Di yang terpejam, sepertinya San Di malu dan memilih tetap memejamkan mata.

“saranghae Lee San Di” bisik Baekhyun lembut di telinga San Di, membuat bulu kuduk San Di merinding mendengarnya, nafas Baekhyun meniup hangat leher San Di. Dan Baekhyun kembali meluncurkan ciumannya pada San Di. Tangan San Di yang tadinya memegang erat handuk nya, menelusup masuk ke helaian rambut Baekhyun, mencengkramnya erat-erat, dan tubuh mereka melekat sekarang.

“i love you” kembali Baekhyun berbisik ditelinga kekasihnya , nafasnya memicu keringat dingin dari ujung ubun-ubun San Di. Baekhyun memasukan kepalanya dileher yang masih basah milik San Di, tangannya semakin kuat mencengkram pinggang San Di. Baekhyun menciumi setiap bagian leher kekasihnya. Tubuh dan fikiran San Di melayang dengan sentuhan Baekhyun, tangan San Di terjulur lemas disebelah badannya. Baekhyun menggigit kecil leher kanan San Di membuatnya tersentak dan mencengkram kuat kemeja putih Baekhyun. Baekhyun menatap San Di, dia hanya tersenyum sebentar dan kembali melanjutkan aktifitasnya ditubuh San Di. Ciuman Baekhyun mulai menuntut, bibirnya terus turun sedikit demi sedikit, kini hampir menyentuh bagian dada yang terekspose bebas. Baekhyun menarik San Di dalam dekapannya, dan tubuh Baekhyun menjadi satu-satunya penghangat saat San Di merasakan handuk penutup sebagian tubuhnya telah lepas. San Di membalasnya, menyandarkan kepalanya dipundak Baekhyun. Pelukan yang mereka rindukan selama tiga bulan terakhir benar-benar mengobati rasa rindu satu sama lain.

Baekhyun melonggarkan pelukannya, membiarkan manik-manik mata mereka saling bertemu sekarang, Baekhyun kembali melingkarkan handuk ditubuh San Di, merengkuh kembali tubuh gadisnya. Sepertinya rasa rindu Baekhyun lebih besar dari San Di hingga tak sabar menunggu gadisnya lagi.

“dandan yang cantik sayang” Baekhyun mengantar San Di kekamar dan meninggalkannya untuk berpakaian. Sepuluh menit kemudian San Di sudah keluar dengan pakaian lengkap

“aku merindukanmu oppa” San Di langsung duduk dan memeluk Baekhyun dari belakang, Baekhyun hanya memandang San Di dan tersenyum manis.

“kau kan bisa melihatku setiap saat, sedangkan aku harus menunggu tiga bulan untuk menemuimu. Kau tau jika kita tidak bertemu sekarang, mungkin kali ini aku yang akan menyusulmu ke New York” jawab Baekhyun panjang lebar.

“baiklah aku mengaku salah. Tapi yang penting aku sudah disini dan tidak akan pergi lagi darimu oppa” jawab San Di manja dan tetap memeluknya erat.

“aku tak akan membiarkan mu jauh lagi dari ku” Baekhyun menarik tubuh San Di dan memeluknya semakin erat

“ini mengingatkanku saat pertama kali kita bertemu, ingat tidak ? aku benari-benar malu saat itu” bisik Baekhyun pada San Di yang membuatnya tertawa kecil.

**

Flashback

New York 2012

Suasana hotel mewah itu sangat ramai karena menjadi tempat menginap semua artis SM entertaiment yang akan melakukan konser besar besok. Termasuk Exo, group baru dari SM ini telah turun dari bis yang membawanya dari bandara. Semua berteriak senang memanggil nama mereka.

“hyung aku benar-benar ingin ke toilet” ringis Baekhyun pada managernya, tangannya memegang perutnya yang sepertinya sudah sangat mendesak itu.

“pergilah, kau tau kan kamar berapa kita tidur?” Jawab manager , dan Baekhyun langsung pergi meninggalkan rombongannya.

Namun sepertinya kepopulerannya membuatnya sedikit risih, karena kini banyak fans menunggunya di depan kamar mandi, Baekhyun harus meminjam baju office boy saat itu dan memakainya agar bisa keluar dari toilet. Baekhyun segera naik ke lantai 19 hotel itu. Dan segera berlari menuju kamar 66 hotel itu.

“kenapa yang lain belum datang” gumam Baekhyun karena kamar hotel yang masih kosong, Baekhyun segera merebahkan tubuhnya di kursi mewah ruangan utama itu. Beberapa saat kemudian seseorang keluar dari kamar mandi. Mulut Baekhyun terbuka lebar, mungkin sudah meneteskan air liur, Baekhyun membuka kacamatanya. Seorang wanita keluar dari kamar mandi, mengenakan handuk putih menutupi sebagian tubuhnya, dia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuknya yang lain, wajahnya sedikit miring, tapi Baekhyun bisa melihat jelas setiap lekuk wajah cantik gadis itu.

“apa dia bidadari?” Tanya Baekhyun melihat wanita yang benar-benar cantik di hadapannya, dan tanpa sadar Baekhyun menjatuhkan handphone yang digenggamnya, membuat gadis itu tersadar dan melihat Baekhyun.

“who are you ? What are you doing here ? How you can get into here?” Gadis itu seketika menjauh dan menutupi dadanya dengan tangannya. Meraih sapu disampingnya dan diarahkan pada Baekhyun. Baekhyun kaget dan bingung apa yang harus dia katakan karena dia tidak bisa berbahasa inggris dengan baik.

“naneun, eh i’am. Apa yang harus kukatakan?” Baekhyun gelagapan dan berbicara sendiri.

“i’am sorry” hanya itu yang bisa Baekhyun katakan sebelum membuka topi yang munutupi sebagian wajahnya, gadis itu diam lalu meletakan sapu itu kembali.

“Byun Baekhyun. Kau kah itu?” Sapa gadis itu dengan bahasa korea. Kini giliran Baekhyun yang kaget mendengarnya.

“kau orang korea?” Tanya Baekhyun senang, karena dia tak harus berbicara bahasa inggris.

“oke kurasa aku akan menjawabnya nanti, tolong kau balikan badanmu karena aku harus kekamar sekarang” gadis itu berjalan perlahan menuju kamarnya, dan Baekhyun hanya mengangguk lalu membalikan badannya.

Sekitar 10 menit Baekhyun menunggu dan akhirnya bidadari itu keluar.

“maaf tadi aku pasti mengagetkanmu” Baekhyun mencoba mencairkan suasana setelah gadis itu membuatkannya secangkir coklat hangat.

“well, aku juga membuatmu kaget tadi” jawab gadis itu santai.

“kau orang korea? Kau mengenalku ?” Tanya Baekhyun dengan nada penasaran. Gadis itu tersenyum lebar mendengar pertanyaan Baekhyun.

“aku sedang kuliah disini. Tentu aku mengenalmu, main vocalis exo” gadis itu tertawa menjawab pertanyaan Baekhyun. Baekhyun tersenyum malu dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Byun Baekhyun, ku pikir kita bisa jadi teman” Baekhyun memberanikan diri mengulurkan tangannya.

“Lee San Di” dengan hangat gadis bernama San Di itu menyambut tangan Baekhyun dan tersenyum manis.

“tapi bagaimana kau bisa masuk kesini?” Tanya San Di setelah sadar bahwa Baekhyun telah menyusup seperti pencuri ke kamarnya.

“entahlah, manager memberikanku kertas bertuliskan ini. Dan sepertinya aku salah” Baekhyun menunjukan secarik kertas pada San Di. Disana tertulis 99/66 entahlah tidak begitu jelas.

“mungkin harusnya seperti ini” San Di membalikan kertasnya dan dilihat angka 99 disana. Baekhyun kembali merasa malu saat itu.

“aah mianhae, jeongmall mianhae” wajah Baekhyun memerah dan hanya tertunduk.

“gwenchana, bagaimanapun sebagai fans aku senang mendapat kunjungan spesial darimu. Minumlah “ San Di menjawab dengan sangat santai, membuat Baekhyun lega mendengarnya. Baekhyun menghela nafas panjang sebelum menyeruput coklat hangat didepannya.

“boleh aku pinjam hanphone mu, hanphone ku mati, sepertinya manager mencariku” Baekhyun gelagapan menatap San Di. San Di hanya tersenyum dan berdiri mengambil hanphonenya. Baekhyun tersenyum lebar karena triknya berhasil untuk mendapatkan no hanphone bidadari cantik itu.

Sejak saat itu cerita tak berakhir, berkali-kali Baekhyun bertemu dengan San Di, San Di selalu mengikuti jadwal manggung exo dibeberapa negara. Mungkin San Di anak mentri atau anak pengusaha terkenal, tapi Baekhyun mengesampingkan hal itu. San Di tidak pernah banyak cerita tentang keluarganya. Asal dia bukan buronan itu tidak masalah bagi Baekhyun.

“aku sedang dikorea. Maukah kau berlibur denganku?” Pesan singkat San Di untuk Baekhyun cukup membuat Baekhyun tersenyum senang mengawali pagi ini.

“tentu aku mau, kau mau berlibur kemana?” Tanpa berfikir Baekhyun segera membalas sms San Di.

“jejju, aku ingin ke pulau jeju, aku sudah memesan 2 tiket. Aku sudah menuju bandara. Tapi kita duduk di kelas yang berbeda untuk menghindari kecurigaan fans,cepatlah kemari” Baekhyun segera berlari ke kamar mandi, menghiraukan antrian para member yang menunggu di luar kamar mandi. Alhasil dia mandi bersama Luhan.

“ada apa denganmu baek?” Tanya Luhan sambil menutupi badannya dengan tangan.

“aku mendadak ada janji hyung. Heey kau tak perlu menutupinya, kita sama-sama pria” Baekhyun menepuk pundak Luhan sambil tertawa kecil.

“gadis New York mu ?” Tanya Luhan sambil melanjutkan membersihkan badannya di bawah shower. Baekhyun mengangguk senang.

“kau juga harus mencari yang baru hyung, jangan memikirkan Cha-Cha mu terus” Baekhyun menyiram Luhan dengan sedikit air. Luhan sedikit kesal dengan pernyataan Baekhyun.

“kau tak akan mengerti baek” jawab Luhan ketus.

Yang pasti sihir San Di cukup membuat mandi Baekhyun sangat singkat, semua member dibuat heran dengan tingkah Baekhyun pagi ini. Baekhyun berdandan serapi mungkin, namun tak mengenakan make up. San Di selalu bilang dia sangat imut tanpa make up. Jadi akhir-akhir ini Baekhyun jarang memakai make up jika tidak manggung.

Pukul 15 sore itu Baekhyun sudah sampai di pulau jeju.

“oppa aku di pintu belakang bandara, kemarilah” Baekhyun segera berlari mengikuti perintah itu. Baekhyun sampai di gerbang belakang bandara itu. Namun tak melihat gadis cantik yang selalu membuatnya tersenyum itu.

“oppa disini”teriak seorang gadis dari arah kanan Baekhyun melambaikan tangannya berkali-kali. Baekhyun menoleh seketika. Namun Baekhyun berjalan perlahan mendekati gadis yang terlihat sedikit asing.

“oppa cepatlah” panggilannya cukup untuk memastikan bahwa gadis didepannya itu adalah Lee San Di, bidadarinya.

“Lee San Di?” Baekhyun terbata-bata memanggil San Di, karena kini bidadari itu benar-benar berbeda, mengenakan kaos oblong berwarna merah, dengan celana jeans ketat warna hitam, jaket kulit berwarna coklat. Lengkap dengan sepatu kets hitam. Tangan kanannya memegang helm, dan sudah memakai sarung tangan. Disampingnya ada motor besar yang lebih mirip motor balap Valentino Rossi, namun lebih cantik. Dan wajahnya bahkan sudah ditutupi helm.

“yaa apa yang kau pakai?” Tanya Baekhyun dengan terheran-heran melihat penampilan San Di.

“aku ingin bersenang senang ayo oppa” jawab San Di senang dan memberikan helm yang dipegangnya pada Baekhyun.

“kau akan mengendarainya?” Baekhyun menunjuk motor di depannya, melihat tubuh San Di yang memiliki postur tubuh tak jauh beda dengannya membuat Baekhyun sedikit ragu.

“lalu apa aku harus mendorongnya ?” Jawab San Di sedikit kesal.

“tidak maksudku” Baekhyun semakin kehilangan kata-kata saat melihat San Di sudah bertengger di atas motor itu.

“kau tidak naik? Aku tidak akan membunuhmu Byun Baekhyun” ujar San Di menatap Baekhyun percaya diri. Perlahan Baekhyun menaiki motor itu. Jantung Baekhyun benar-benar akan keluar jika gadis ini melakukan sesuatu yang gila.

“aaaawwkkkk” teriak Baekhyun saat San Di sudah menarik gas motor itu dengan kecepatan.. Entahlah Baekhyun tak bisa membayangkannya. Tangan Baekhyun otomatis melingkar di pinggang San Di.

“Lee San Di aku masih ingin hidup” Baekhyun berusaha bicara sekeras mungkin berharap San Di bisa mendengarnya karena angin yang begitu kencang menghilangkan suaranya.

“sebentar lagi oppa, aku ingin sampai disuatu tempat sebelum matahari terbenam”  teriak San Di dan tetap focus pada jalanan didepannya, Baekhyun bersandar di punggung San Di. Hingga dia merasakan kecepatan motor itu berkurang.

“oppa kita sampai” teriak San Di senang. Baekhyun perlahan membuka matanya.

“oppa lihatlah cantik kan?” Ucap San Di pada Baekhyun yang sepertinya kaget dengan pemandangan sekitar.

Hamparan bunga matahari yang luas dengan warna kuning yang sangat cantik. Dan pantai diseberang sana benar-benar menyempurnakan keadaan itu.

“waaaah ini benar-benar cantik” kini giliran Baekhyun yang berteriak kegirangan. Tangannya terangkat menikmati sejuknya angin yang berhembus. Kini perlahan Baekhyun berdiri di atas motor yang masih berjalan itu, tangannya membentang sempurna, San Di mengurangi kecepatannya membiarkan Baekhyun merasakan indahnya suasana saat itu.

“Lee San Di aku mencintaimu. Sejak pertama aku melihatmu, aku menyukaimu, aku ingin menjadi kekasihmu” Baekhyun berteriak sekencang mungkin. Tangannya tetap membentang menikmati angin. Baekhyun tak berharap San Di menjawabnya. Karena sepertinya San Di hanya menganggap Baekhyun teman. Namun Baekhyun salah, ketika San Di membalas teriakannya.

“Byun Baekhyun kau sangat keren. Aku juga mencintaimu. Aku lebih mencintaimu. Dan aku mau menjadi kekasihmu” San Di berteriak lebih kencang dari Baekhyun, membuat Baekhyun langsung duduk kembali dan memeluk San Di.

Flashback end

“oppa kau belum baca berita terbaru tentang exo?” Tanya San Di pada Baekhyun yang kini hampir tertidur di pangkuan San Di.

“hmm kenapa ? Apa terjadi sesuatu?” Tanya Baekhyun dengan nada yang terdengar lelah.

“tidak. Hanya saja” San Di menghentikan kalimatnya dan menatap Baekhyun.

“oppa aku ingin jujur sesuatu padamu. Dan jika tidak sekarang mungkin tak kan ada kesempatan lagi untukku mengatakannya” ucap San Di panjang lebar pada Baekhyun.

“iya katakanlah aku akan mendengarkanmu” jawab Baekhyun semakin pelan.

San Di berfikir sebentar, mengigit bibir bawahnya menahan letupan jantung yang begitu kencang, lalu menarik nafas dalam-dalam dan mulai mengeluarkan suara.

“oppa sebenarnya aku….” San Di menghentikan kalimatnya saat memastikan bahwa Baekhyun sudah tak lagi mendengarnya karena sudah berada di alam mimpinya.

“dasar tukang tidur” San Di kesal dan mendorong kepala Baekhyun. Namun Baekhyun tetap terlelap dalam tidurnya.

“sebenarnya aku sangat mencintaimu lebih dari apapun didunia ini Byun Baekhyun” ucap San Di lembut dan mencium kening Baekhyun. San Di pun ikut tertidur di kursi ruang tengah apartement itu.

To Be Continue..

Hayoo yang penasaran sama ceritanya komen ya ^_^.

More Precious Than Polar Light

Gambar

Tittle : More Precious Than  Polar Light

Scriptwriter (author): @sandirahyun

Main cast: Byun Baekhyun , Lee Mey Lyn (OC)

Support cast: Exo member

Genre: Romance

Duration (length): One Shot

Rating: 15+

Notes   : Tanpa maksud membuat hati para fans Baekyun marah, saya buat FF ini dengan versi saya sendiri,  maaf  jika ada kata-kata atau peristiwa yang  sedikit sama atau menganggu. Alur cerita murni sepenuhnya dari fikiran saya. So enjoyed it J

“For B , To B , All About B”

“More Precious Than Polar Light”

Jungwon high school 2007.

Aku mengenal seorang gadis yang sangat cantik setelah hampir satu setengah tahun aku hanya berani mengaguminya saja, dan dengan caranya tuhan memberikan jalan pada kami untuk saling mengenal, dimulai karena kami berada dalam satu proyek sekolah memaksa kami untuk saling mengenal satu sama lain. Lee Mey lyn gadis peranakan china Korea , rambutnya selalu terurai indah, matanya tidak terlalu sipit seperti orang China, dan pipinya tidak chubi seperti orang korea. Bibirnya kecil sama sepertiku, kulitnya putih lebih putih dariku, suaranya lembut meggelitik telingaku setiap kali dia bicara, senyumnya terlihat sangat manis, dan suara tawanya terdengar nyaring di telingaku. Aku menyukainya, tentu dia cantik menurut definisi ku.

Aku dan Mey (panggilan akrabnya) lebih saling mengenal setelah aku menjadi panitia acara kelulusan di sekolahku dan dia menjadi bagian dokumentasi. Kami menjadi lebih dekat sejak saat itu. Dan dia memiliki pribadi lebih hangat dari yang kubanyangkan sebelumnya karena dia memang tak banyak bicara.

“suaramu bagus Baek , kau pasti akan jadi penyanyi nanti” Mey mengawali percakapan kami dalam perjalanan pulang sekolah hari ini.

“mungkin” jawabku singkat ku lihat dia tersenyum sebentar lalu mengambil kamera besar dari tangannya dan mengambil beberapa gambar di sekitar kami. Mey memang sangat menyukai dunia fotografi. Kamera besarnya selalu ikut kemanapun dia pergi.

“kenapa kau sangat menyukai fotografi?” Tanyaku karena begitu penasaran. Mey menghentikan aktifitasnya lalu menatapku .

“lalu kenapa kau suka bernyanyi ?” Mey balik bertanya

“karena aku ingin jadi penyanyi” jawabku

“begitupun aku, aku menyukai gambar, mereka menggambarkan isi hatiku, ada sebuah objek yang membuatku semakin menyukai gambar akhir-akhir ini” jawabnya,

“apa itu ?” Tanyaku penasaran

“kau akan tau nanti” Mey hanya tersenyum

**

Aku mengabaikan rasa cintanya pada foto, aku hanya menyukai sosok dirinya yang selalu tampil cantik setiap kali kami bertemu. Dan perasaanku semakin dalam untuknya, aku yang selalu banyak bicara dan percaya diri selalu kehilangan kata-kata setiap kali bersamanya.

Jika terlambat bisa menyenangkan seperti hari ini, aku akan terlambat sekolah setiap hari. Hari ini walau aku terlambat masuk kekelas dan dihukum aku tetap senang karena aku dihukum dengan Mey, kami tidak boleh mengikuti kelas pagi, Mey mengajakku ke atap sekolah. Aku membaringkan badanku saat melihat Mey sudah asyik dengan kamera dan objek disekitarnya. Memang tidak banyak hal yang kami bicarakan setiap kali kami bertemu, sosok Mey yang pendiam seakan menyihirku untuk tak banyak bicara saat bersamanya.

Aku rasa aku tertidur terlalu lama saat itu, ku buka mataku perlahan dan melihat Mey juga tertidur disampingku, tangannya masih memegang kamera besarnya, wajahnya terlihat sangat cantik sekarang, aku mematung ditempat melihat Mey, ku singkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Wajahnya begitu polos dan tenang saat memejamkan matanya.

Dengan berani tanpa permisi aku menyapu lembut bibir mungilnya singkat, matanya terbuka seketika, kurasakan udara panas menjalar di seluruh wajahku dan kuyakin warna wajahku sudah berubah sekarang, dan begitupun dengan Mey, matanya membulat sempurna melihat ku yang berada hanya beberapa centi saja dengan wajahnya, aku bisa mendengar detak jantung Mey yang berdetak lebih cepat karena ulahku.

“aku mencintaimu Mey” kata itu otomatis terucap dari bibirku, berharap Mey bisa menerima alasan ku menciumnya. Mey tak merespon dia masih menatapku, mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Mey” tanyaku memastikan dia baik-baik saja. Mey mendorongku memintaku menjauh dari tubuhnya, Mey duduk disampingku dan menundukan kepalanya. Aku menyesal sungguh, sepertinya dia akan membenciku setelah ini.

“maaf Mey” ucapku lembut dan memegang bahunya, Mey tetap tak merespon.

“aku..”

“aku akan memikirkannya” ucap Mey sambil menatapku sebentar lalu berdiri dan meninggalkanku sendiri di sini, menggantung semua keadaan ini.

**

Sudah tiga hari Mey tidak masuk sekolah, aku tidak bisa menghubunginya, hanphonenya mati selama tiga hari. Aku bertanya pada semua temannya namun tidak ada yang tahu. Suasana sekolah sudah sangat sepi, sore ini aku masih duduk di atap sekolah, 3 hari lalu aku mencium Mey disini.

bisakah kau datang ke aula sekolah sekarang” hanphone ku bergetar dan saat ku buka itu pesan dari Mey, aku berlari menuruni tangga secepat yang aku bisa. Perlu melewati beberapa gedung sekolah untuk sampai di aula, aku berlari secepat mungkin.

“tunggu aku Mey” teriakku saat masih setengah perjalanan. Kurasakan keringat sudah mengucur dipunggungku.

“sedikit lagi” teriakku saat melihat pintu aula didepanku. Aku berdiri sebentar mengatur nafasku yang hampir habis, merapikan baju dan celanaku, juga rambutku. Kubuka pintu aula dan membiarkan cahaya membelah ruangan yang masih gelap itu. Mataku berkeliling mencari Mey.

“dimana dia?” Tanyaku setelah kupastikan ruangan itu kosong, hanya cahaya yang membelah ruangan itu yang mengisi kehidupan diruangan ini. Ku tutup kembali pintu itu membiarkanku berada dalam keadaan gelap disana.

“Mey kau diamana?” Tanyaku memecah keheningan. Mataku berkeliling hingga terhenti saat sebuah cahaya tiba-tiba menyala didepan mataku, disebuah papan besar berwarna putih tiba-tiba terpancar  cahaya dari sebuah proyektor. Aku diam menatapnya.

“for B, to B. All about B” itu tulisan pertama yang muncul dilayar itu. Aku masih menatapnya bingung.

“more precious than you” tulisan kedua yang muncul di layar itu.

“this is for you Byun Baekhyun” tulisan selanjutnya hingga kemudian layar itu dipenuh dengan foto-fotoku, bergantian menampilkan wajahku atau aktifitasku, diriku yang sedang tertidur di kelas, aku yang sedang bermain basket, aku yang sedang tertawa lepas, aku yang sedang melamun, aku yang sedang kebingungan, semuanya tentang diriku dan beberapa foto membuat diriku terlihat lebih tampan dan kekanak-kanakan. Entah berapa banyak foto yang ditampilkan dilayar sana, aku tak menghitungnya karena terlalu banyak. Hingga foto terakhir itu menampakkan aku yang sedang tidur di atap sekolah 3 hari lalu sebelum aku mencium Mey. Tulisan terakhir itu membuatku mengangkat ujung bibirku, ada letupan-letupan bahagia dihatiku dan ingin segera memeluk orang yang membuat video di layar itu.

“Byun Baekhyun sarangheo, this is my love for you” tulisan itu cukup membuatku tersenyum kegirangan.

Lampu aula seketika menyala terang dan menampakkan seorang gadis cantik disampingku.

“Mey” aku memanggil Mey, Mey tampak tersenyum lebar padakku.

“kau objek paling indah yang membuatku sangat menyukai gambar” ucapnya lalu mengenggam tanganku. Karena kegirangan aku melompat-lompat sendiri dan membawa Mey berlari mengelilingi ruangan.

“lihatlah saju pertama telah turun” aku semakin senang karena melihat salju telah mulai datang di kota Seoul, kami saling bertatapan saat itu.

“ucapkan permintaanmu” ucapku pada Mey, kamipun memejamkan mata bersama-sama.

“kenapa aku objek paling indah untukmu?” Tanyaku saat kami menonton kembali hasil karya Mey, layar itu masih menampilkan diriku dalam berbagai pose. Kami berbaring di aula itu, kepala  Mey bersandar pada sebelah tanganku.

“karena kau itu menarik, menggemaskan, dan karena aku mencintaimu. Saat aku mengambil gambarmu kau sama indahnya dengan cahaya kutub yang pernah kulihat, aku menyukaimu seperti menyukai cahaya kutub utara” jawabnya panjang lebar. Aku hanya mengangguk walau tetap tak mengerti dengan kata-katanya.

“kau pernah ke kutub ?” Tanya ku sambil memainkan rambutnya .

“hmm.. Ayahku adalah seorang fotografer, dia menyukai cahaya, jadi kami sering pergi mencari sesuatu yang berbeda” jelasnya kembali

“waah daebak.. Hmm.. Polar light ?” Gumamku pelan

“polar light ?” Tanyanya.

“iya polar light, kau bilang aku seperti cahaya kutub” Mey tersenyum mendengar ucapanku.

“baiklah polar light tidak buruk” jawabnya lalu memelukku.

**

Semua yang kujalanai selalu terasa spesial, Mey membuat hari-hariku lebih berwarna, Mey selalu mendukungku dalam hal apapun dia selalu lebih semangat dan menularkannya padaku. Kami menjalani hubungan kami layaknya pasangan pada umumnya. Mey menyukai suaraku, dia selalu memintaku bernyanyi setiap kali kami bertemu, dan dia selalu mengambil gambarku diamanapun kami berada. Hal yang paling kusukai adalah ketika dia memanggil namaku.

“Byun Baekhyun” dia selalu menyebut namaku dengan lengkap dan entah kenapa aku sangat menyukainya dan selalu memintanya memanggil namaku lagi lagi dan lagi.

“Byun Baekhyun jangan berjalan dibelakangku, sulit untukku mengambil gambarmu” ucap Mey saat kami berjalan pulang sehabis menonton sore ini. Mey berhenti dan menoleh padaku yang berjalan dibelakangnya.

“katakan lagi” pintaku dengan nada sedikit manja, Mey menurunkan kamera yang menutupi wajahnya.

“mwo ?!”

“sebut lagi namaku”

“kau kekanak-kanakan Byun Baekhyun”

“aku menyukainya”

“apa?”

“aku suka saat kau memanggil namaku chagi” kupeluk Mey dengan hangat, Mey tampak kaget dengan perlakuanku, wajahnya berubah warna seketika, aku mencubit pipinya yang sedikit mengembung, lalu kamipun tertawa bersama.

“kau harus jadi penyanyi Byun Baekhyun” ucap Mey saat kami sedang menikmati es krim strobery di cafe favorit kami. Aku menatapnya dan menghentikan tanganku yang hendak menyuapkan es krim padanya.

“aku takut tak bisa bersamamu jika aku jadi penyanyi” ucapku lirih, Mey menaikkan alisnya seketika.

“bukankah itu mimpimu sejak dulu ? Aku tidak akan pergi, aku akan menemukanmu dengan ini” jawab Mey lalu mengangkat kamerenaya. Aku tersenyum manis melihatnya, Mey selalu membuatku yakin dan tenang dengan jawabannya.

“saranghae” ku genggam tangan Mey erat-erat lalu memeluk tubuh Mey yang selalu terasa hangat dalam pelukanku.

“na do saranghae Byun Baekhyun”

**

“kau percaya takdir ?” tanya Mey saat kami menikmati udara malam sungai Han, Mey menyandarkan kepalanya dipundakku

“mungkin percaya , mungkin tidak, kau ?”

“aku mempercayainya, bukankah kau takdirku ?”

“apa buktinya takdir itu ada?” tanyaku sedikit penasaran, Mey mengangkat kepalanya

“kau tidak melihatnya ?” tanyanya

“apa ?”

“orang menyebutnya benang merah, itu adalah ikatan yang menyatukan takdir seseorang, meskipun terkadang tali itu terulur sangat panjang dan menjauhkan keduanya tapi suatu saat benang itu akan kembali ketempatnya, menyatukan mereka kembali” jelasnya panjang lebar, aku mengerutkan dahiku tak mengerti. Mey tampak kecewa dengan reaksiku.

“lalu mana benang merah diantara kita ?” tanyaku mencoba mengerti.

“ini” jawabnya menunjukkan kameranya, oke rumit memang tapi hidup Mey memang tak bisa jauh dengan yang namanya kamera. Aku menghela nafas panjang karena masih tak mengerti dengan kata-katanya.

**

Malam itu sudah sangat larut , aku sudah hampir memejamkan mata sebelum seseorang memencet bel rumahku, dengan terpaksa aku beranjak dan membukakan pintu, aku terbelalak kaget melihat orang yang ada didepan pintu rumahku.

Mey dengan piyamanya yang sudah basah kuyup, juga rambutnya yang basah dan berantakan, memakai sebelah sandalnya dan ada darah mengucur dari lututnya, Mey hanya menatapku beberapa saat sambil mengatur nafasnya.

“apa yang kau lakukan malam-malam begini ?” bukan maksudku membentaknya, hanya saja aku kaget dan yang pasti aku menghawatirkannya. Mey masih mengatur nafasnya.

“kakakmu, mana kakakmu ? aku butuh bantuannya” ucapnya terengah-engah.

“ada diatas” ucapku menunjuk lantai dua rumahku, namun kakakku sudah berdiri dibelakangku.

“Oppa, tolong aku.. data di komputerku terkena virus dan hampir semua data hilang, bisakah kau memperbaikinya dan mengembalikan data-dataku” Mey langsung menghampiri kakakku , tangannya bergelayutan di tangan kakakku sesekali mengepalkan kedua tangannya layaknya orang  yang memohon. Kakakku segera mengambil kunci mobil dan kamipun pergi ke rumah Mey.

“kenapa harus berlari ? kau bisa menelponku?” ucapku saat dalam mobil, tubuhnya masih sangat basah. Aku sangat menghawatirkannya dan tak habis fikir apa yang dia pikirkan sampai harus berlari ditengah hujan hanya untuk data komputernya. Jarak rumahku dan rumah Mey sekitar 3km , bukanlah jarak yang dekat untuk ditempuh seorang gadis ditengah malam begini.

“aku panik dan tidak tau apa yang harus kulakukan, aku hanya berlari” jawabnya sambil terus menangis tanpa henti.

“kau terluka?” tanyaku lalu mengusap lututnya yang memar,

“aah,,”

“sakit ?”

“aniyo, aku baik-baik saja”

Kami tiba dirumah Mey dengan segera memasuki rumah Mey, kakakku langsung memeriksa komputer Mey, dan Mey menunggunya seakan menunggu dokter yang sedang melakukan operasi untuk seseorang yang berharga baginya.

Sekitar sejam lamanya kakakku berkutat dengan komputer Mey, hingga dia menghentikan aktifitasnya dan menatap Mey sendu.

“bagaimana oppa ?” tanyanya cemas, kakakku menggeleng dan memegang bahu Mey,

“sebagian dapat kuselamatkan, sisanya tidak bisa. Virusnya sudah menghapus sebagian data-datamu Mey” ucap kakakku lalu meninggalkan kami.

Mey berjalan menghampiri komputernya, lalu memeriksanya kembali lalu menundukkan kepala dan menangis lebih kencang lagi seakan dia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, aku tak mengerti seberapa pentingnya data-data itu untuknya.

“kau bisa mengambil gambarku lagi hmm, jangan menangis oke” aku mencoba menenagkan Mey setelah dia bercerita data yang hilang di komputernya adalah foto-fotoku, Mey terus menangis tanpa berhenti didepanku.

“semuanya tidak akan sama Byun Baekhyun”

“apanya yang tidak sama ? Aku masih Byun Baekhyun kekasihmu” ucapku lirih sambil mengusap rambutnya yang terurai.

“kau tidak mengerti”, ucapnya pelan, aku menarik nafas dalam-dalam, ada perasaan emosi dalam hatiku setiap kali dia mengatakan aku tak pernah mengerti tentangnya. Mungkin bukan emosi lebih tepatnya aku sangat menghawatirkannya.

“yaa aku memang tidak mengerti, kenapa fotoku lebih berharga daripada aku yang dari tadi mencoba menghapus air matamu Mey, apa yang harus ku mengerti setiap kali kau sibuk mengambil gambarku dimanapun kita bersama, apa arti foto-foto itu dibandingkan aku, ku menghawatirkanmu dan kau malah sibuk menangis?” Nada bicaraku sedikit naik saat kata-kata itu keluar dari mulutku, mungkin ini adalah emosi yang kutahan selama ini.

Bukannya menjawabku tangisan Mey semakin deras keluar dari ujung matanya.

‘apa yang sudah kulakukn tuhan?’ aku merutuki diriku sendiri, kenapa aku harus mengatakan hal-hal mengerikan seperti itu, Mey menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Mey manangis sesekugan di tempatnya. Bahunya naik turun menahan suara tangisannya.

“Mey maafkan aku, bukan maksudku marah padamu” kutarik Mey dalam pelukanku. Kurasakan tubuhnya bergetar menahan suara tangisannya. Kuusap rambut Mey berkali-kali berharap dia tenang dalam pelukanku. Beberapa saat Mey tidak membalas pelukanku.

“karena itu tentangmu Byun Baekhyun” suara Mey terdengar sangat pelan, hampir tidak terdengar jelas oleh telingaku.

“hmm?” Tanyaku pelan. Kurasakan tangan Mey mulai melingkar dipinggangku.

“karena aku tak ingin melupakan setiap hal tentang dirimu, kehilangan satu memori saja tentang dirimu sama seperti menghapus sebagian diriku. Aku tidak ingin menyimpan setiap hal tentang dirimu tidak hanya dalam hatiku tapi disetiap sudut tempat yang bisa kulihat, aku ingin disana ada dirimu Byun Baekhyun” jelasnya panjang lebar, kurasakan tangannya semakin erat memelukku. Aku menunduk dan mencium ujung rambut Mey, tubuh Mey sudah tenang dalam pelukanku.

“aku minta maaf  Mey, aku hanya takut kehilanganmu”

you are more precious Byun Baekhyun” ucapnya lirih. Ku lepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Mey yang selalu lebih cantik dari jarak yang lebih dekat.

no, you more precious my polar light” jawabku lalu mencium lembut bibir Mey.

**

Seoul 2011

Terhitung sudah 4 tahun kami menjadi kekasih, saling melengkapi kebahagiaan kami masing-masing,  semakin aku mengenalnya semakin aku mencintainya. Terlalu banyak kenangan indah yang Mey ukir dihatiku. Aku suka caranya menatapku, caranya mencintaiku dan caranya mengabadikan setiap moment kebersamaan kami.

Sore ini kami berjanji bertemu di cafe tempat biasa kami bertemu, aku sudah duduk di tempat favorit kami, di sudut kafe dekat jendela sehingga membebaskan Mey untuk mengambil objek yang disukainya. Dia telat 15 menit dari perjanjian kami, hingga akhirnya dia datang, mengenakan celana jeans abu-abu dipadukan dengan kaos oblong warna putih, tak lupa kamera dslr yang sudah menggantung di lehernya. Dia langsung duduk di depanku lalu mengambil gambarku beberapa kali.

“good afternoon chagi” sapaku, Mey menurunkan kameranya dan mentapku sambil tersenyum.

“berhenti mengambil gambarku dan turunkan kameramu, aku tak ingin lehermu sakit chagi dan aku ingin melihat wajahmu dengan jelas” permintaanku selalu sama setiap kali kami bertemu sudah tidak terhitung berapa kali aku selalu memintanya menurunkan kameranya tapi dia selalu menolaknya, namun untuk kali ini dia mengangguk, aku lalu membantu Mey melepaskan kamera besar itu dari lehernya. Mey beranjak dari tempat duduknya dan duduk disampingku.

“bisa kau peluk aku?” Itu permintaannya, sebelumnya tak pernah ada yang meminta hal-hal seperti ini, kami selalu melakukannya sesuka hati kami, saling berpelukan berbagi kehangatan bukanlah hal aneh untuk kami. Saling meluapkan emosi dalam bahu masing-masing seakan menjadi keharusan setiap kali kami memiliki masalah. Aku menariknya terlebih dahulu dalam pelukanku, lalu Mey melingkarkan tangannya di pinggangku. Pelukannya selalu terasa hangat dan menenangkan.  Kami berpelukan cukup lama saat itu.

“Baekhyun-a” Mey melepaskan pelukan kami. Mey mengenggam tanganku, kurasakan tangannya terasa lebih dingin.

“hmm”

“ada yang ingin ku katakan !”

“apa?”

“kau tau kan aku sangat menyukai mu?” Mey tampak ragu-ragu dengan apa yang dia katakan. Matanya terus bergerak tak nyaman memandangku.

“aku tau”

“kau tau aku mencintai mu kan ?” Tanyanya kembali, aku menaikkan alisku tak mengerti kenapa dia terus menanyakan hal-hal seperti itu.

“ada apa?” Kurapikan rambutnya yang terurai bebas dan menyibakkan sedikit poninya. Ada kegelisahan dalam tatapan Mey.

“aku akan pindah ke China” kurasakan Mey semakin mempererat genggamannya. Matanya berubah merah , sekarang ada cairan bening menggenang di matanya, dan dalam satu kedipan saja cairan itu sudah mengalir bebas dipipi putihnya. Aku menatapnya tanpa bicara.

“aku mendapat beasiswa fotografi disana” ucapnya lirih lalu menundukkan kepala. Aku masih mencoba mencerna setiap kata-katanya.

“kau akan meninggalkanku?”

“kau harus berjanji sesuatu padaku baek”

“apa?”

“berjanjilah kau akan menjadi penyanyi seperti mimpimu, jadilah penyanyi yang dikenal oleh dunia, sehingga aku akan melihatmu dimanapun kau berada”

Aku merasa dunia berhenti seketika, bukan karena permintaannya tapi karena bibirku terkunci saat Mey menciumku, ini memang bukan ciuman pertama kami tapi efeknya selalu sama, saat bibirnya menyatu dengan milikku mampu menghentikan waktu saat itu, menghapuskan ketakutan dan kegelisahanku dan yang aku tau adalah dia mencoba Meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.

“apa kau akan kembali ? Apa kita akan bertemu lagi? ” tanyaku cemas, Mey menjauhkan tubuhnya seketika.

“aku akan kembali untukmu”

“kapan ? Sebulan ? Tiga bulan ? Setahun ? Dua tahun ? Aku akan menunggumu?”

“…”

“kapan Mey ?” Tanyaku tak sabar.

“jadilah apa yang kau impikan Byun Baekhyun” jawab Mey singkat lalu menundukan kepalanya dan menangis.

“jangan menangis. Aku akan melakukannya untuk mu. Tapi kau harus selalu melihatku” pintaku padanya. Mey hanya mengangguk.

“kau tau apa permintaan ku saat salju pertama turun waktu itu?” Tanyanya

“apa?”

“aku ingin kau meraih mimpi mu. Bersinar seindah cahaya kutub. Dulu, sekarang dan selamanya kau adalah objek terindah yang pernah kulihat” kata-kata Mey selalu berhasil membuatku diam, tak mampu membalas kata yang diucapkannya.

Aku menelungkupkan tanganku dipipinya lalu menghapus air mata yang terus menetes di wajah cantiknya. Menghapus jarak diantara kami, kurasakan nafas Mey berhembus lembut menyentuh wajahku saat aku akan menciumnya. Bibirnya masih terasa begitu lembut , dan menenangkanku namun kurasakan tubuhnya bergertar menahan suara tangisnya.  Bahkan saat aku memeluknya Mey masih menangis dan tubuhnya semakin bergetar.

“aku benci perpisahan, aku akan sangat merindukanmu”

“aku akan menjadi bintang agar kau bisa melihatku setiap saat hmm”

“aku mencintaimu Byun Baekhyun”

“aku lebih mencintaimu, aku akan menemukanmu dimanapun kau berada Mey”

**

Mungkin Tuhan mendengarkan doaku dan doa Mey, tak lama setelah Mey pergi aku berhasil masuk salah satu agensi terbesar di Korea, menjalani trainee sekitar  5 bulan dan bergabung dengan group exo kemudian empat bulan tepat tanggal 8 april 2012 aku memulai debutku menjadi penyanyi.

“apa kau tak akan mengganti namamu Baek ?” tanya manager saat kami akan memulai debut, beberapa member mengganti nama mereka,  tanpa ragu aku menggeleng.

“aku akan menggunakan nama Byun Baekhyun untuk nama panggungku” jawabku dengan tegas. Mey menyukai namaku, tentu aku tak ingin dikenal sebagai orang lain.

Mei 2012- Januari 2014

“kau sudah memiliki banyak penggemar sejak showcase baek” ucap Chanyeol saat kami sedang dalam perjalanan pulang dari New York.

“apa maksudmu?” Tanyaku heran.

“lihatlah sudah ada fansite besar untuk mu, dan hebatnya ini dari China bukan Korea” ucapnya sambil menunjukkan layar laptopnya. Aku tak terlalu memperhatikannya saat itu.

“polar light” ucapnya dan membuatku menoleh seketika.

“mwo?” Aku mengambil paksa laptop  Chanyeol.

Aku tidak tau harus senang atau sedih, apa aku harus tertawa atau menangis, disana jelas tertulis polar light. Nama yang kuberikan untuk setiap karya Mey tentangku. Aku menscroll layar laptop itu, hingga aku mengklik akun twitter dari website itu. Bahkan tulisan disana sama seperti apa yang dituliskan Mey untukku sekitar 5 tahun lalu. Seberapa kalipun aku membacanya kata-kata itu tetap sama. “for B, to B, all about B”

“kau kenapa baek ?” Chanyeol mengambil kembali laptopnya aku kegirangan dan memeluknya.

“apa yang kau lakukan ? Kau gila Byun Baekhyun” gerutu Chanyeol, aku tetap tersenyum dan memeluknya semakin erat.

**

Suasana bandara memang selalu ramai setiap kali kami datang, otakku masih berfikir tentang fansite yang ditunjukkan Chanyeol. Apa itu Mey ? Apa dia masih selalu melihatku ?, sementara aku masih berfikir ,ratusan cahaya flash light sudah mengarah padaku, aku tak terlalu memperhatikan mereka awalnya, hingga saat mataku menjelajahi setiap cahaya yang mengarah padaku, satu objek menarik perhatianku. Seorang gadis dengan perawakan hampir sama dengan Mey rambutnya lebih panjang dari milik Mey, dia mengenakan dress warna kuning tua, tangannya sibuk mengambil gambarku, aku terus memandangnya.

‘kau kah itu Mey ?’ tanyaku dalam hati. Gadis itu menurunkan kameranya sebentar lalu tersenyum.

‘dia bukan Mey, tapi dalam kameranya aku melihat jelas tulisan polar light, apa kau dibalik semua ini Mey’.

Aku selalu berfikir keras setiap kali melihat kamera bertuliskan polar light, mataku selalu berhasil menemukannya, menelusuri jauh menembus layar kamera itu dan berharap wajah dibalik kamera itu adalah dirimu yang berjanji akan selalu melihatku.

Fansite bernama polar light itu memberikan peran besar untuk perkembangan karirku, gambarnya yang selalu terlihat bagus memberikan kesan tersendiri untukku. Terkadang mereka mengirim banyak makanan atau barang-barang lumayan mahal untukku, terakhir dia mereka memberikan sebuah ipad keluaran terbaru dengan harga yang sangat mahal. Aku sungguh berterimakasih untuk mereka, mereka mungkin lebih lelah setiap harinya.

Setiap saat, harapan itu semakin besar seiring karirku yang semakin naik. Semua orang mulai berfikir aneh tentangku dengan polar light. Mereka mengatakan bahwa polar light adalah mantan kekasihku, atau mengatakan bahwa polar light adalah fans yang kusukai, ku abaikan setiap anggapan orang dan membiarkan mereka berargumen sendiri karena aku selalu tertawa mendengarnya setiap kali manager membahasnya.

‘jika polar light adalah dirimu maka kau masih kekasihku noon polar light’

**

“seperti apa tipe ideal gadis yang kau sukai ?” MC bertanya saat aku menghadiri acara disebuah radio. Aku mengangkat ujung bibirku mendengar pertanyaannya. Memoriku jauh menerawang mengingat Mey, pakaiannya, rambutnya , senyumnya, wangi tubuhnya. Aku menghela nafas dan siap mengatakannya.

“aku suka wanita yang selalu tampil canti menggunakan jeans, aku tidak suka wanita yang memakai rok pendek dan menampakan kakinya. Aku suka gadis berambut panjang, dan juga suka wanita dengan aroma seperti baju yang habis dicuci. Aku juga suka wanita dengan senyum yang cantik” ucapku panjang lebar. Aku berharap Mey mendengarnya dan menyadari bahwa aku sedang membicarakannya.

“apa arti no 4 bagimu ? bukankah kau menggunakan angka 4 dipunggungmu ?” tanya MC kembali.

“karena aku ingin jadi penyanyi sejak kelas 4” jawabku singkat saja, walau sebenarnya angka 4 memiliki banyak arti untukku, tanggal 4 adalah tanggal kelahiran Mey, tanggal 4 aku dan Mey resmi menjadi kekasih, tanggal 4 selalu menjadi hari paling indah setiap bulannya, karena aku dan Mey selalu melakukan hal-hal yang baru, dan selama 4 tahun aku mengukir kisah indah bersama Mey.

**

Satu acara keacara lain kamera bertuliskan polar light itu selalu mengikutiku dan mataku selalu berhasil menemukannya, terkadang aku memberikan senyuman padanya, membuatkan simbol hati dengan tanganku atau memberikan hand kiss untuknya, aku mengangkat jempolku memberinya apresiasi atas setiap karyanya. Aku berharap itu kau Mey. Meskipun terkadang aku kecewa karena setiap kali gadis yang membawa kamera itu menurunkan kameranya dan kudapati itu bukan dirimu, dan baru kusadari bahwa gadis yang membawa kamera bertuliskan polar light itu selalu bereda setiap tempatnya, tapi aku masih percaya satu hal bahwa kau selalu melihatku dari sana.

Waktu memang berjalan begitu cepat, sudah hampir dua tahun aku menjadi artis, dan hampir tiga tahun aku tak melihat Mey, aku sering bolak-balik ke China, namun aku tak pernah mendengar kabar tentang Mey, apa dia masih mencintaiku ? Apa dia masih selalu melihatku? Apa dia selalu mengambil gambarku ? Apa aku masih jadi objek terindah untuknya? . Seribu pertanyaan ingin ku tanyakan pada Mey jika kami bertemu lagi.

Mama in Hongkong 22 November 2013.

Sudah tidak terhitung berapa acara besar yang aku datangi dan kamera bertuliskan polar light itu pun selalu ada bersamaku. Penonton acara hari ini sangat banyak memenuhi seluruh kursi penonton. Sangat banyak dari mereka yang membawa banner namaku, mereka berteriak memanggil namaku. Aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka, sebagian dari mereka bahkan menangis.

Mataku berkeliling mencari kamera bertuliskan polar light hingga aku menemukannya, dia berada dibawah panggung tak jauh dari tempat dudukku. Aku menghela nafas panjang saat mendapati tubuhnya lagi-lagi hampir sama dengan tubuh Mey. Bahkan kali ini penampilannya, dia mengenakan celana jeans berwarna biru tua, dipadukan kaos oblong berwarna putih polos, rambutnya tergerai bebas. Aku tersenyum sebentar melihatnya dan akan segera berpaling namun…

‘Mey’ jantungku berhenti seketika nafasku tertahan saat melihat sebuah cincin bermotif  hello kitty melingkar di jari manis tangan kanan gadis itu. Cincin itu adalah cincin limited edition yang aku belikan untuk Mey 5 tahun lalu. Aku dapat mengenalinya dengan jelas walau dari jarak lumayan jauh. Aku terus menatapnya tanpa berkedip.

‘turunkan kameramu kumohon’ ucapku dalam hati namun gadis itu tetap sibuk mengambil gambarku.

‘dengarkan aku Mey, aku bicara padamu, berhenti mengambil gambarku, turunkan kameramu, aku tak ingin lehermu sakit dan aku ingin melihat wajahmu lebih jelas’ hatiku terus bicara, berharap dia benar-benar Mey dan bisa mendengar suara hatiku. Kulihat kilatan flashlight dari lensa kameranya berhenti menyorotiku, tangan kanannya sudah terlepas dari kameranya. Dengan sangat perlahan seperti sebuah video slowmotion gadis itu menurunkan sedikit demi sedikit kameranya. Namun tak sempat melihat wajahnya gadis itu malah menundukan kepalanya, helaian rambutnya sempurna menutupi wajahnya dan membuatku semakin penasaran.

‘angkat kepalamu, aku merindukanmu, apa kau tak merindukanku ?’ ucapku kembali dalam hati. Gadis itu seakan mendengar kata-kataku dalam hati, dia mengangkat wajahnya dan tangan kananya menyibakan rambutnya kebelakang dan membuat wajahnya terekspose sempurna menatapku. Mata kami saling bertemu saat itu.

‘Mey’ itu Mey , gadis yang kutunggu selama hampir 2 tahun terakhir, gadis yang kurindukan selama ini. Polar light ku. Mey melambaikan tangannya padaku, kulihat ada buliran air mata jatuh membasahi pipi putihnya. Mey mengambil ipad di tasnya lalu menuliskan seseutu.

“Byun Baekhyun 3x” dia menunjukkannya padaku. Dia memanggil namaku tanpa bicara.

“saranghae, neomu2x saranghae” tulisan kedua darinya.

“pogosipho” tulisan ketiga.

“for b, to b, all about b” tulisan selanjutnya.

“more precious than polar light” tulisan terakhir darinya, Mey tersenyum sangat cantik padaku, namun air matanya tak berhenti mengalir dari mata kecilnya. Aku tidak tau perasaanku sekarang, senang, sedih, khawatir, marah. Aku ingin turun dari sini, meloncat dari panggung dan menghampiri Mey, aku ingin memeluk Mey sekarang, aku ingin memarahinya karena dia terlalu lama meninggalkanku, aku ingin mengatakan bahwa aku sangat merindukannya dan masih sangat mencintainya.

Aku hendak melambaikan tangan padanya namun suho sudah memintaku berdiri karena kami (exo) memenangkan penghargaan untuk katagori album of  the year tahun ini. Aku terpaksa berdiri dan pandanganku teralihkan dari Mey. Air mata mulai tergenang di pelupuk mataku, aku langsung mengusapnya seketika, namun sial aku tak bisa menghentikannya, hingga kami berjalan menuju panggung mataku terus meneteskan air mata.

“kau menangis Baek ?” Tanya Chanyeol saat aku mengusap mataku. Aku hanya menggeleng.

“ini baru pertama kali kau menangis di atas panggung Baek” ucapnya kembali.

Yah ini pertama kalinya aku menangis di atas panggung, ini bukan pertama kalinya kami menerima penghargaan tapi disini aku menangis bukan karena itu, aku menangis haru setelah melihat Mey berdiri didepanku, aku tak sempat menyapanya, aku tak sempat membalas tulisan cintanya, aku tak sempat mengatakan bahwa aku lebih mencintainya dan aku lebih merindukannya sekarang. Mataku tetap berkeliling mencari Mey, namun dari sini aku kehilangan dia.

Aku kembali ketempat dudukku, dan mencari Mey, namun dia sudah tak berdiri ditempatnya lagi, dia menghilang lagi. Aku menundukkan kepalaku beberapa kali karena frustasi. Sungguh ini bisa membuatku gila.

Acara berakhir tanpa menemukan Mey lagi.

Siang itu aku dalam perjalanan pulang saat itu semua fans sudah menunggu kami di pintu keluar hotel. Aku berjalan berdesakan bersama yang lain beberapa orang meneriakan namaku berkali-kali dengan bahasa yang tidak ku mengerti hingga.

“Byun Baekhyun” seseorang memanggil namaku dengan lengkap aku menoleh seketika pada sumber suara.

‘Mey’ucapku dalam hati.

Mey melambaikan tangannya beberapa kali ,aku tersenyum melihatnya. Mey mengulurkan tangannya padaku, tangannya memegang sebuah paper bag berukuran sedang, aku mencoba meraihnya sebisaku, dan dapat. Aku mengambilnya dari Mey, Mey tampak bahagia melihatku. Aku terus menatapnya walau kini kami sudah mulai berjauhan karena manager terus menyeretku dan memintaku masuk ke mobil. Mey terus melambaikan tangannya sambil tersenyum. Hingga akhirnya aku masuk kedalam mobil Mey mengangkat kameranya dan diarahkan padaku. Aku menurunkan jendela mobil dan terus melihatnya lalu melemparkan senyumku untuknya.

Kurebahkan tubuhku dikasur saat tiba kembali dikorea, aku menatap hadiah dari Mey , aku bangkit dan mengambil kado itu lalu membukanya. Hanya sekotak eskrim strobery kesukaanku disana dan sebuah amplop berwarna merah muda. Kubuka kotak eskrim itu dan mulai melahapnya dan juga membuka isi amplop merah muda itu.

‘ini enak sekali’ ucapku dalam hati karena tak ingin semua member masuk dan menghabiskan es krim terenak ini. Aku menatap surat itu sebentar lalu membacanya.

‘Byun Baekhyun.. Byun Baekhyun.. Byun Baekhyun. Kau suka aku memanggil namamu kan ?

Apa eskrim nya enak ?apa kau menyukai semua makanan yang ku kirim ? Jangan menghabiskannya sendiri, aku tak ingin kau terlihat gemuk. Kau tau banyak fans yang memanggilku polar light noona, terdengar lucu bagiku. Hehe..

Kenapa banyak sekali surat yang kau tulis untukku Byun Baekhyun. Aku pulang ke korea sebulan yang lalu dan ada sekitar 100 surat untukku , apa kau menulisnya setiap saat ? aku adalah fans mu, tapi kenapa kau yang menulis banyak surat untukku ?. Kau terus bertanya apa aku adalah polar light si raja fansite Byun Baekhyun dari china ? Apa aku harus menjawabnya hmm ? Kau bahkan sudah bisa menebaknya dari kata-kata pembuka dalam fansite itu kan ? Sudah ku bilang aku akan selalu melihatmu dan kau akan selalu menjadi objek terindah untukku. Apa yang kau khawatirkan hmm ? Aku sudah bahagia mendengarmu menerima banyak cinta dari fans. Aku senang setiap kali mereka mengatakan kau yang terbaik.

Jangan kecewakan mereka hanya karena diriku yang terlalu menggilaimu sebagai objek terindah untukku, jangan mematahkan hati begitu banyak wanita diluar sana. Aku tak ingin mereka membencimu karena menyukai diriku yang tak berharga sama sekali. Aku lebih suka berdiri disini, bersama orang-orang yang mencintaimu, mendengar mereka meneriakkan namamu, mendengar mereka menangis untukmu, aku senang bisa menjadi salah satunya. Terimakasih kau bisa mengingatku hanya dengan tulisan polar light yang aku buat , dan terimakasih karena membuatku bangga setiap kali matamu bertemu dengan lensa kameraku.

Aku selalu mencintaimu dengan caraku, dengan gambarku , dengan karyaku, dengan cahaya flaslight kameraku. Itulah bukti cintaku Byun Baekhyun.

Byun Baekhyun, tetaplah tersenyum, perjalananmu masih panjang. Jangan berhenti dan jangan menoleh pada masa lalumu, tetaplah bersinar disana, jangan menyerah hanya karena aku tak ada disampingmu. Kejarlah mimpimu yang sudah ada didepanmu.

Kau masih mencintaiku ?

Kau merindukanku ?

Kau ingin marah padaku ?

Kau ingin memelukku ?

Aku tau semua itu ingin kau tanyakan padaku. Berhenti memikirkan hal itu oke? Aku tak akan menjawabnya karena kufikir kau sudah tau jawabannya dari fansite yang kubuat untukmu.

“for b,to b, all about b” kuharap semua itu cukup untuk menjawab semua pertanyaanmu ?

Maaf  jika aku mengulur benang merah diantara kita terlalu panjang, mulai sekarang aku akan menariknya secara perlahan. Dan suatu saat benang merah itu akan kembali pada tempatnya, dihatimu Byun Baekhyun

Byun Baekhyun keep shining like polar light because i was your delayed dream, saranghae..

Miss you Byun Baekhyun.. See you later..

Meskipun ada buliran air mata jatuh dari mataku, tapi aku bisa tersenyum membaca kalimat terakhir surat itu. “see you later” artinya kami akan bertemu lagi. Aku memeluk surat itu kegirangan, dan tiba-tiba saja Chanyeol masuk.

“kau kenapa baek ? Waah es krim ?” Chanyeol berlari menghampiriku dan mengambil es krimku, seketika itu aku langsung memukul tangannya.

“jangan menyentuhnya. Berani menyentuhnya akan ku rontokkan gigimu

Park Chanyeol”  teriakku pada Chanyeol , Chanyeol menaikkan alisnya seketika.

“wohoooo apa sespesial itukah ? Dari siapa baek ? Your polar light ?”  Aku tak menjawabnya dan melemparkan bantal padanya.

**

“Mey adalah mimpiku yang tertunda” kujadikan kalimat itu semangat baru menjadikan diriku menjadi pribadi yang lebih menyenangkan sebelumnya. Istilah takdir yang pada awalnya tak kupercaya, perlahan aku mulai mempercayainya. Benang merah yang ada diantara kami akan ku tarik perlahan dan mengembalikkan semuanya pada tempatnya.

Aku lebih sering menemukan Mey sekarang, berdiri dikerumunan fans yang mengambil gambarku, begitupun dengan Mey, dia selalu bersinar lebih terang diantara yang lain. Aku selalu berhasil menemukannya, mataku lebih sering bertemu dengan cahaya flashlight miliknya, memberinya senyuman, memberinya tanda hati dengan tanganku. Atau memberinya evilsmirk.

Suatu saat nanti dihari indah, dihari yang spesial, hari dimana aku sudah bisa berjalan dan bersanding kembali dengan Mey, aku akan menunggunya dan menjalani semua dengan bahagia, tanpa harus bertanya tentang perasaan Mey, aku percaya dia akan selalu mencintaiku dan menungguku menjemput mimpiku yang tertunda. Karena dia adalah polar light ku , orang yang selalu menuliskan kalimat :

“for B, to B, all about B” dan bagiku dia

More precious than polar light

The End

Hehe polar light.. Polar light.. Semua penggemar Byun Baekhyun pasti sudah tidak asing dengan nama ini. Pastinya ceritanya terinspirasi dari fanfic yang sudah-sudah. Tapi alur ceritanya murni punya penulis sendiri yaa, kecuali kata-kata yang for B, to B, all about B, itu emang ada di twitternya polar light. Kalo yang more preciuos than polar light itu suka ada di label fotonnya polar light eonni. J

Dilampirin beberapa foto yang sempet disebutin diatas, mulai dari baekki nangis di MAMA, baekki ngelirik polar light di mobil, dan beberapa ungapan cinta baekki buat polar light.

Gambar

yang ini nih pas baekki lihat polar light di bandara, lihat tatapannya ya ampyunn.. Hehe
Gambar
Wajahnya kayanya cape banget, terus tatapannya seakan mengisyaraktan.

“ aku lelah, aku membutuhkan mu polar light ku”
Gambar
Ini evilsmirknya buat polar light.. Cute banget ga sihh.. >.<
GambarGambarGambar
Ini ekspressi baekki waktu lihat polar light di mama.
Gambar
Nah ini pas baekki frustasi kehilangan polar light nya di kerumunan fans.
Gambar
Nih pas baekki nangis di mama.
Gambar
Baekki tetep liatin polar light dari mobilnya. Dengan tatapan penuh arti.
Gambar
Ungkapan kasih sayang baekki buat polar light Gambar

Gomawo udah mau mampir, saran dan komentarnya sangat dibutuhkan, terimakasih GambarGambar

Be Perfect Wife, Be Bad Sister

Gambar

Tittle : Be Perfect Wife, Be Bad Sister

Scriptwriter (author): @sandirahyun

Main cast: Xi Luhan, Lee Yae Bin (oc), Byun Baekhyun

Support cast: exo member

Genre: romance, family , marriage live

Duration (length): one shot

Rating: 15+

Tittle : Be Perfect Wife, Be Bad Sister
Scriptwriter (author): @sandirahyun
Main cast: Xi Luhan, Lee Yae Bin (oc), Byun Baekhyun
Support cast: exo member
Genre: romance, family , marriage live
Duration (length): one shot
Rating: 15+

Hari minggu menjadi hari favoritku selama 5 tahun terakhir, setiap hari minggu aku akan melewatinya seharian penuh bersama suamiku, kami menjadikan hari minggu hari bahagia sedunia, tidak boleh ada pertengkaran, tangisan atau kekesalan di hari minggu. Seperti pagi ini kami pergi berolahraga di taman dekat apartement kami. Menggunakan setelan couple layaknya remaja yang sedang berpacaran menjadi gaya kami setiap minggu. Permintaan suamiku memang terlalu kekanak-kanakan tapi seiring berjalannya waktu aku pun menyukainya.
Menikmati semangkuk besar es krim menjadi hal yang paling kusukai di sela-sela istirahat kami, dan rasanya sangat bahagia mendapati wajah suamimu berlumuran es krim, wajah polosnya terlihat saat dia tersenyum bersama es krim di mulutnya, dan sebentar lagi dia akan meminta sesuatu dariku.
“cium aku” ucap Luhan sambil mendekatkan wajahnya padaku. Dia selalu memintanya setiap kali kami makan es krim, ku rasa ini memang caranya mendapatkan ciumanku.
“disini banyak orang Luhan, apa kau tidak malu” jawabku dan menjauhkan wajahku darinya.
“aah wheooo ? Kita sudah menikah kenapa harus malu, palli.. Palli..” Luhan merajuk seperti anak kecil meminta balon pada ibunya. Dan jujur aku sangat menyukainya.
“aku akan memberikannya di rumah, hmm” jawabku sambil menyisir rambut kecoklatannya.
“sirro, lakukan sekarang rasanya akan lebih manis sekarang” Luhan tetap merengek manja padaku. Aku selalu luluh dengan puppy eyes yang dilakukannya. Aku mengabaikan rasa maluku karena mungkin sebagian orang menatap kami sekarang. Aku menciumnya singkat. Namun aku terjebak, Luhan menahan tengkukku dan menciumku lebih dalam. Dia bergerak lembut di bibirku terlalu lembut seakan dia takut menyakitiku.
Luhan benar ini lebih manis dari es krim yang kami makan tadi. Luhan tersenyum jahil padaku. Aku memukul dadanya pelan. Luhan pun menarikku dalam pelukannya, membiarkanku mendengarkan setiap detak jantungnya yang teratur.
“permisi apa aku boleh duduk disini” suara seseorang di sampingku membuatku dan Luhan salah tingkah.
“aku mencari kursi kosong, tapi semuanya penuh, ku lihat kalian hanya berdua” ujar wanita disampingku.
“ah nde silahkan” aku langsung menggeser tubuh Luhan dan membiarkan wanita itu duduk disampingku. Dia menggendong seorang bayi laki-laki bersamanya.
“aigoo cepatlah besar nak, ibu lelah terus menggendongmu” wanita yang terlihat jauh lebih tua dariku mengeluh pada anak yang digendongnya. Aku dan Luhan hanya menatapnya hingga beberapa saat kemudian Luhan beranjak dan menghampiri wanita itu.
“boleh aku mengajaknya bermain nyonya” pinta Luhan , dengan senang hati wanita itu langsung memberikan anakknya pada Luhan.
“kau mau bermain dengan hyung ,hmm”
“hyung? Apa aku harus menunjukan kartu identitasmu agar kau tau umurmu Xi Luhan” aku tertawa kecil seiring dengan apa yang Luhan katakan.
“wheo ? Lihatlah wajahku sama lucunya dengan dia ?” Jawab Luhan dan mendekatkan wajah bayi yang digendongnya dengan wajahnya. Membuat aku dan wanita disampingku tertawa. Luhan pergi memembawa bayi itu bermain.
“kau kekasihnya?” Tanya wanita itu padaku.
“kami sudah menikah” jawabku senang,
“benarkah ? Kalian terlihat sangat muda. Sudah berapa lama kalian menikah ?” Tanyanya kembali.
“kurasa sudah lima tahun” jawabku singkat.
“hmm , begitukah? Sudah punya anak?” Tanyanya kembali, tentang pertanyaan yang satu ini, rasanya aku tak ingin mendengarnya. Aku benci pertanyaan ini. Sungguh ingin rasanya pergi menjauh atau pura-pura tak mendengar setiap ada orang yang menanyakannya padaku. Tak ada kata yang dapat keluar setiap kali pertanyaan ini datang padaku. Aku hanya menggeleng.
“sayang sekali ! Sepertinya suamimu sangat senang ketika menggendong anakku, dan sepertinya dia sangat ingin memilikinya?” Ujarnya kembali menunjuk Luhan yang sedang senang mengangkat anak laki-laki itu. Luhan tersenyum begitu lebar seiring gelak tawa keluar dari mulut mungil bayi itu. Wanita ini benar, Luhan terlihat sangat bahagia bersama anak itu.
“aku hanya menyarankan, segeralah memiliki anak, jangan menundanya. Kebahagiaan kalian akan sempurna setelah memilikinya” wanita itu tetap bicara walau aku tak mengeluarkan kata-kata menjawabnya, aku hanya tersenyum pahit mendengar setiap kata dari wanita itu. Aku ingin memeluk Luhan sekarang, hanya pelukan Luhan yang mampu membuatku tenang sekarang. Luhan kembali setelah puas bermain dengan bayi itu.
“lain kali hyung akan bermain dengan mu lagi jagoan kecil” ujar Luhan senang saat berpisah dengan bayi itu, wanita itu pun pergi bersama bayinya meninggalkan kami. Luhan melambaikan tangannya beberapa kali. Aku menatap Luhan, ada sesuatu di senyum Luhan yang tidak biasa ku lihat.
“ayo kita pulang” pinta Luhan lalu menarik tanganku.
**
Kata-kata wanita itu membuatku tak banyak bicara hari ini, otakku berfikir keras mencerna setiap kata yang diucapkan wanita itu.
Aku menyandarkan kepalaku di dada bidang Luhan yang sudah tertidur di sampingku. Dan membuatnya terbangun.
“wheo ? Apa terjadi sesuatu ? Kau tak banyak bicara sejak tadi ?” Tanya Luhan, tangannya membelai lembut rambutku, dan tangan lainnya memelukku hangat.
“aku sangat mencintaimu oppa” ucapku lembut dan semakin dalam membenamkan kepalaku di dada Luhan.
“jangan memanggilku oppa, menjadikanku jauh lebih tua dari mu” jawabnya. Lalu mencium keningku lembut.
“kau memang lebih tua dua tahun dari ku Xi Luhan” jawabku sambil tertawa.
“aku lebih suka kau memanggil namaku” bisik Luhan.
“oppa aku ingin memilikinya, aku ingin sempurna sebagai wanita dan sebagai istrimu oppa” ucapku pada Luhan, ku harap dia mengerti dan tak membuatku mengatakannya kembali, atau menjelaskan maksud dari kata-kataku. Luhan diam tak menjawab pertanyaanku. Tampaknya dia mencoba mencerna kata-kataku.
“aku tak akan memaksamu, aku sudah bahagia memiliki mu bersamaku” jawab Luhan, sekarang aku diam, tak mampu membalas kata-katanya, Luhan mempererat pelukannya. Aku tau kami memang sudah cukup bahagia saat ini. Namun aku tau Luhan juga sangat menginginkannya. Aku melepaskan pelukan Luhan dan membenarkan posisiku, aku duduk bersila di hadapan Luhan. Luhan menyamakan posisinya dengan ku. Kami saling bertatapan beberapa saat, Luhan memainkan ujung rambutku yang terurai.
“aku kesepian setiap kali kau pergi bekerja oppa. Aku sudah memikirkannya dan aku akan melakukannya” ujarku mencoba menyakinkan Luhan. Luhan menghentikan tangannya di rambutku.
“kau yakin? Kau siap ?” Tanyanya kembali, ada keraguan di setiap nada bicaranya, aku mengangguk pasti, mencoba menghapus keraguan Luhan. Luhan tersenyum dan menarik ku kembali dalam pelukannya.
“terimakasih sayang, aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan mendampingimu dan menjaga mu, semuanya akan baik-baik saja” bisik Luhan lembut ditelingku. Luhan memelukku sangat erat, namun hangat, benar-benar hangat, aku pun membalasnya semakin erat.
“boleh aku membuatnya hari ini hmm?” Tanya Luhan lalu perlahan melepaskan pelukannya, mata Luhan menatapku intens. Tatapannya membuatku bergerak tak nyaman. Luhan memberikan tiga kecupan singkat di bibirku, dan sekarang wajahku pasti sudah merah, tangan Luhan menelungkup di wajahku.
“kau tau aku selalu suka saat wajahmu memerah karena ciumanku” bisik Luhan dan kembali menciumku, kali ini lebih dalam.
“mungkin sekarang tidak terlalu cepat untuk membuatnya”
**
Ketakutan ku untuk melahirkan terjadi sudah sejak lama, saat aku berumur 5 tahun ibuku akan melahirkan adikku, saat itu ayahku sedang pergi keluar kota, mau tidak mau aku harus menemani ibuku melahirkan. Ibuku menangis manahan rasa sakit saat itu. Aku juga ikut menangis saat itu. Melihat ibu berjuang setengah mati, melihat ibuku kesakitan, melihat setiap tetes darah yang keluar, dan melihat ibu menghembuskan nafas terakhir seiring tangisan bayi yang keluar dari rahim ibu. Aku trauma sejak saat itu. Ketakutan ku seakan-akan bisa membunuhku setiap kali aku mengingat kejadian itu. Ditambah saat bibiku mengatakan bahwa keluarga kami memang memiliki riwayat melahirkan yang sulit. Seminggu kemudian ayahku mengatakan adikku meninggal di rumah sakit. Tragis memang, tapi ayah menghiburku dengan segala cara dan kami pun melanjutkan hidup dengan baik.
Ayah menjagaku dengan baik dan memberikan kehidupan yang layak untukku, dia memberikanku banyak senyuman untuk mencoba menghilangkah trauma ku akan melahirkan, namun semua sia-sia setiap kali aku mengingat hembusan terakhir eomma. Aku sempat berfikir bahwa aku memilih untuk tidak menikah saja, agar aku tak harus mengalami yang namanya melahirkan. Itu prinsip awalku sebelum bertemu dengan Luhan saat aku kuliah. Saat itu aku adalah mahasiswa baru di kampusku, namun karena kemampuan bahasa mandarin ku yang baik menjadikanku ketua klub bahasa di kampusku. Aku mengenal Luhan saat dia datang sebagai mahasiswa asing dikampusku. Kami menjadi lebih dekat karena Luhan harus mempelajari bahasa korea dariku. Hingga beberapa bulan kemudian Luhan memintaku menjadi kekasihnya. Aku sempat berfikir keras menerimanya karena mungkin aku harus memiliki resiko yang lebih besar setelah ini, aku menceritakan masalah ketakutanku pada Luhan, Luhan sangat mengerti dan dia hanya ingin memiliki ku bukan yang lain. Kami berpacaran kurang lebih 2 tahun saat itu, hingga di hari kelulusan Luhan dia melamarku dan memintaku menikah. Aku menyanggupinya tanpa berfikir meskipun aku masih mahasiswa saat itu. Luhan seakan menyempurnakan setiap kebahagiaan dalam hidupku. Luhan menikahiku saat aku berumur 20 tahun. Namun sifat Luhan yang kekanak-kanakan menjadikanku bersikap lebih dewasa darinya. Dan seiring senyum Luhan yang terpancar indah dari bibirnya , menghapuskan sedikit ketakutanku akan melahirkan
Dua bulan kemudian aku pun hamil. Luhan melompat kegirangan dan memelukku haru. Luhan hampir saja akan menggendongku keluar dari rumah sakit menuju mobil kami karena khawatir. Tentu saja aku tidak mengijinkan hal itu, mengorbankan rasa maluku untuk satu hal ini sepertinya aku tak bisa. Dalam perjalanan Luhan menelpon ibunya untuk mencarikan pengasuh dan pembantu untuk kami. Dan kalian percaya hari itu juga kami langsung membeli sebuah rumah mewah di daerah gangnam. Luhan tidak ingin aku kelelahan karena harus berdiri menaikki lift hingga lantai 15 menuju apartment kami.
“kita bisa melakukan nya besok oppa” aku mengeluh karena rasanya akan sangat lelah jika harus mengemasi barang-barangku hari ini.
“kau tidak perlu khawatir, Kris dan istrinya, Xiumin dan istrinya, Chen dan istrinya, dan juga Lay dan istrinya akan memambatu kita pindahan, kau hanya harus duduk manis di rumah baru kita” jawabnya semangat. Aku mengindikan bahuku , lalu menarik nafas dalam-dalam.
“kau akan merepotkan mereka ! Kau bersikap berlebihan Xi Luhan” jawabku dan merebahkan tubuhku di kursi mobil.
**
Luhan tidak bercanda,semua barangku sudah ada dirumah baruku kurang dari satu hari, semua orang memberikan ku selamat, Luhan terus mengelus perutku yang masih datar. Senyumnya tak hilang dari wajah imutnya.
“Mei Lyn kau akan segera punya adik baru nak” ujar kris sambil menggendongg anak perempuannya. Aku tersenyum melihatnya, teman-teman kami memang sudah memililki bayi. Aku dan Luhan pun akan segera memilikinya.
“kau bisa berkonsultasi denganku jika kau takut” ucap Min Jin istri Xiumin, dia seorang dokter. Aku tersenyum mengiyakannya.
Aku memang punya banyak orang yang mendukungku dan akan membantuku untuk masalah ini, dan itu juga sedikit mengurangi ketakutanku.
**
Karena masalah kesehatan aku tak bisa melakukan proses melahirkan dengan sesar, resikonya aku akan lumpuh jika melahirkan dengan proses sesar dan dokter memintaku melakukannya secara normal. Aku mengenggam erat tangan Luhan saat mendengarnya. Luhan lebih terkejut dari pada aku. Dia bahkan tak bayak bicara ketika perjalanan pulang dari rumah sakit. Luhan langsung pergi ke kamar setibanya di rumah. Wajahnya pucat dan tidak bersemangat. Aku membuatkan teh untuknya berharap bisa sedikit menghilangkan kecemasannya.
“kau bilang semua akan baik-baik saja” ujar Luhan saat aku tiba dikamar dengan dua cangkir teh di tanganku. Luhan menatap foto pernikahan kami. Ku simpan teh di meja dan menghampirinya.
“semuanya memang akan baik-baik saja oppa, kau tidak percaya padaku ?” Ku peluk Luhan dari belakang, kurasakan tubuhnya bergetar menahan sesuatu.
“aku mencintai mu oppa, sangat mencintaimu” bisikku lembut dan mempererat pelukanku. Luhan membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan ku.
“aku lebih mencintaimu. Ku mohon kau harus kuat demi aku” bisik Luhan lalu mengecup lembut rambutku. Aku mengangguk dan berharap menghilangkan kecemasannya.
“aaah”
“kenapa ? Kau sakit ?” Tanya Luhan cemas. Tangannya menelungkup pipiku, wajahnya berubah khawatir seketika.
“hmm.. Anak kita sepertinya ingin melihat ayahnya melakukan aegyo !” Jawabku sambil memegang perutku yang sudah seperti bola basket karena kandungan ku sudah mencapai 7 bulan. Luhan mengerutkan dahinya.
“mwo ?”
“dia memintamu melakukan gwiyomi Luhan” jawabku manja. Luhan menempelkan wajahnya di perutku.
“jagoan kecil, lebih baik kau menyuruhku bermain bola dari pada harus melakukan hal seperti itu” tangan Luhan mengelus pelan perutku. Aku mengerucutkan bibirku tanda kecewa karena Luhan tak menuruti keinginanku.
“aku tidak akan merubah image tampan ku karena permintaan nya” ujar Luhan. Aku menjauhinya kesal, lalu tangan Luhan menahanku.
“kau mau kemana ?” Tanyanya heran
“aku akan minta kucing mu untuk melakukan gwiyomi” jawabku kesal. Luhan tertawa.
“baiklah aku akan melakukannya” jawab Luhan sambil menundukkan wajahnya. Aku tersenyum girang.
Luhan melakukan gwiyomi untukku, aku terus menertawakannya senang, sejenak aku berfikir dan berharap bisa terus melihatnya melakukannya bersama anak kami nanti. Anak laki-laki yang Luhan harapkan sedang berada dalam perutku. Entah aku tertawa karena melihat Luhan atau aku tertawa karena membayangkan wajah bahagia Luhan ketika melakukan gwiyomi untuk anak kami nanti. Aku berharap bisa melakukannya lagi nanti.
**
Luhan menolak semua tawaran proyek jika itu harus keluar kota atau terlalu menyita banyak waktunya. Dia selalu berangkat lebih siang ke kantor dan pulang lebih awal, dia lebih ekstra menjagaku karena ini minggu perkiraan anak kami lahir. Hari ini dia memintaku untuk ikut bersamanya kekantor, karena dia tidak bisa cuti minggu ini.
“bagaimana mungkin aku ikut bersamamu ke kantor Xi Luhan, berhenti membuatku gila dengan keinginanmu” jawabku menganggapi keinginan Luhan.
“tapi aku mengkhawatirkanmu chagiya” balas Luhan tak kalah ngotot.
“kau selalu mengatakan hal yang sama”
“kalau begitu aku tak masuk kantor hari ini” jawabnya lalu membuka dasi yang sudah terpasang rapi di dadanya. Luhan masuk ke kamar dan kembali dengan telanjang dada.
“sekarang apa yang akan kau lakukan ?” Tanyaku semakin heran
“aku ingin berenang, bisa kau siapkan beberapa potong buah untukku” ucap Luhan lalu mengecup keningku dan melangkah pergi menuju kolam renang di belakang.
Aku berjalan menuju kolam renang dengan semangkuk buah-buahan segar dan secangkir jus. Aku melihat Luhan yang sedang berenang layaknya perenang profesional. Luhan berhenti sebentar dan melambaikan tangannya. Aku hanya tersenyum lalu duduk santai di kursi dekat kolam.
Aku membuka majalah yang ada, sebelum akhirnya kurasakan perutku terasa kram, seperti sesuatu mendoronya. Sakit, sangat sakit kurasa ini harinya, lebih cepat dua hari dari yang diperkirakan. Aku memegang perutku kuat-kuat hingga membuatku terjatuh dari kursi, aku tak sanggup berteriak dan memanggil Luhan. Aku meraih mangkuk buah itu dan menjatuhkannya. Luhan berhenti seketika.
“chagiya….. !!!!” Luhan berenang secepat yang ia bisa menghampiriku.
“kau baik-baik saja?”tanyanya polos, dan jika aku bisa ingin ku pukul kepalanya dan menjawab ‘bagaimana aku baik-baik saja, kau tak melihatku kesakitan’ namun aku tak sanggup melakukkannya, ini terlalu sakit dam membuat tenggorokanku tercekat untuk sekedar berteriak kesakitan.
“sakit, sangat sakit” hanya itu yang bisa ku ucapkan dengan susah payah, Luhan mengangkatku dengan sisa tenaganya yang hampir habis.
“ketuban mu sudah pecah. Tenanglah . Kau harus tenang” ujar Luhan sambil terus berlari menuju garasi mobil. Luhan menaikkan ku pada mobil barunya, aku belum pernah menaikkinya sebelumnya karena dia baru membelinya kemarin.
“barang-barangku masih didalam Luhan” ucapku pada Luhan, mengingat kami belum membawa apa-apa.
“aku sudah menyiapkan semua yang kau butuhkan disana, kau hanya harus tenang dan tetap sadar, buka mulutmu” Luhan memasukkan kain ke dalam mulutku, aku tak mengerti dan berfikir keras tentang apa yang akan dia lakukan. Dia memasang seatbelt dengan perlahan dan menyalakan mesin mobil, mobil itu pun melaju dengan sangat perlahan. Rasanya aku ingin menggantikan Luhan mengendarainya dan sampai di rumah sakit dalam 5 menit. Tapi rasa sakit ini membuat tenagaku menguap.
“kau harus memikirkan hal-hal yang indah, jangan fikirkan hal-hal buruk. Kau tidak boleh stress” ujar Luhan dan tetap konstrasi pada jalan di depannya. Luhan terlihat tenang, tidak seperti dirinya yang tadi pagi terlihat sangat menghawatirkanku. Aku hanya menatapnya dan menahan rasa sakit di seluruh tubuhku.
“kau suka Kang Min Hyuk kan ? Fikirkan saja dia, aku tidak akan marah” ujarnya kembali dan membuatku sakit kepala dengan setiap perkataan Luhan. Luhan terlihat terlalu tenang untuk situasi ini.
“aku berjanji akan membantu mu menemui Lee Min Ho dan Yoo Jae Suk. Kau sangat menyukai mereka kan?” Luhan tetap bicara, bahkan kali ini dia tersenyum, aku tetap menatapnya dan mencoba mengatur nafas setenang mungkin. Saat di lampu merah Luhan melepaskan kain dalam mulutku dan menatapku.
“bertahanlah kumohon, hmm” Luhan membelai rambutku sebentar lalu memberikan ku ciuman singkat. Bibirnya terasa begitu menenangkan, menyentuh lembut bibirku. Dan bahkan dia tetap tersenyum.
“aku memasukkan kain ke dalam mulutmu karena aku takut kau menggit lidahmu karena kesakitan” ucap Luhan. Aku kaget mendengarnya, dari mana dia tau hal-hal seperti itu.
“aku ngantuk Luhan” mungkin karena Luhan membawa mobil dengan perlahan aku merasa sangat ngantuk, meskipun rasa sakit terus menjalar mataku sangat sulit untuk terbuka. Luhan seketikan menyalakan radio dengan volume yang sangat kencang.
“kau tidak boleh tidur” ucap Luhan, bahkan suaranya hampir tak terdengar karena beradu dengan radio di dalam mobil. Tangan kanan Luhan menggenggam erat tanganku. Tangannya terasa hangat dan nyaman. Aku masih bisa tersenyum saat Luhan mencium punggung tanganku.
Luhan memarkirkan mobilnya di depan pintu rumah sakit lalu membawaku masuk. Aku segera ditangani oleh dokter, suster membawaku ke ruangan bersalin. Aku tak melepaskan genggaman tangan Luhan.
“apa kau akan menemaninya ?” Tanya dokter pada Luhan, dokter itu adalah Min Jin istri Xiumin jadi dia tahu benar bagaimana ketakutan ku dan Luhan. Luhan menatapku sebentar lalu mencium tanganku dan dia mengangguk.
“apa yang sedang kau lakukan sebelum kau membawanya, lihatlah dirimu?” Tanya Min Jin saat menyadari penampilan Luhan yang hanya memakai celana boxer dan mengekspose sempurna tubuh bagian atasnya yang putih mulus tanpa cela, jika aku bisa aku ingin tertawa, namun rasa sakit ini melumpuhkan semua urat saraf tawaku. Luhan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“aku sedang berenang” jawab Luhan polos, Min Jin dan suster tertawa melihat Luhan.
Tanpa menunggu dokter langsung membawaku masuk. Menyiapkan berbagai peralatan dan semua keperluan. Jujur pemandangan ini membuatku semakin takut, rasa sakit ini semakin menjalar diseluruh tubuhku. Mataku berkeliling melihat semua orang sibuk menyiapkan alat.
“lihat aku” ucap Luhan lumayan kencang, tangannya meraih wajahku dan membuat kami saling menatap sekarang.
“hanya lihat aku, jangan lihat yang lain, fikirkan aku, jangan fikirkan yang lain. Hmm” itu kata-kata Luhan untuk menenangkan ku. Aku sudah mengambil posisi untuk mengeluarkan bayiku.
“kami akan mulai, ku harap kau tenang” ucap dokter dan memintaku memulainya.
“tarik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan dan dorong perutmu” ucap dokter sambil mengarahkan ku melakukannya. Aku perlahan mengambil nafas dan melakukan seperti apa yang diperintahkan, dan rasanya semakin sakit setiap aku melakukannya. Aku menjerit sekencang mungkin sekarang. Mencengkram tangan Luhan sekuat mungkin, Luhan menahan tubuhku yang bergetar kesakitan.
“sayang, jika aku bisa aku ingin menggantikan mu, jadi bertahanlah kau pasti bisa” ucap Luhan dan terus menahan tubuhku yang meronta kesakitan. Ku rasakan kini tubuh Luhan sama bergetarnya dengan ku. Nafasku semakin tak teratur seiring rasa sakit yang semakin menjalar di seluruh tubuhku.
Aku melihat senyum Luhan, aku terdiam sebentar menatap Luhan, air mata yang sudah mengalir deras dari tadi semakin deras kali ini. Luhan menghapusnya dengan ujung jarinya. Lalu membelai rambutku yang sudah berantakan, Luhan merapihkan helaian rambut yang menghalangi wajahku.
“saranghae” susah payah ku ucapkan kata-kata itu, aku mengelus lembut wajah tampan Luhan. Aku melihat ada genangan air mata dari ujung matanya, dan Luhan menahannya sekuat yang ia bisa, karena dia tidak pernah menangis didepanku.
“na do saranghae” Luhan membalasku, lalu menciumku singkat. Aku menatap dokter yang terlihat terharu melihat kami.
“kita mulai lagi?” Tanya dokter aku mengangguk dan mencoba melakukannya sebisaku.
Satu dorongan rasanya membuat kakiku kehilangan kekuatannya.
“sedikit lagi, kau pasti bisa”
Dorongan kedua terasa memutuskan setiap urat saraf di pahaku.
“hampir keluar, lebih kuat”
dorongan ketiga membuat tanganku mencengkram kuat tangan Luhan.
“yaa sedikit lagi”
Dorongan ke empat aku keluarkan seluruh tenaga yang ku punya, ku abaikan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhku. Dadaku sesak melakukan dorongan ke empat ini, aliran darahku seakan berhenti seiring dorongan yang semakin kuat.
“aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh” teriakku sekencang mungkin saat aku merasakan rasa sakit ini memuncak di tubuhku, namun seiring rasa sakit itu sesuatu seperti keluar dari rahimku, aku mencoba mengatur nafasku.
“berhasil, anakmu laki-laki” ucap dokter dan menampakkan sesosok bayi berwarna merah dengan ari-ari yang masih mempel, ku lihat dokter terlihat sibuk membantu bayi itu bernafas. Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara tangisan menggema diseluruh ruangan. Aku tersenyum sebentar dan melihat Luhan yang sudah tersenyum lebar seiring tangisan haru keluar dari ujung matanya. Luhan langsung mengusap air matanya, dia selalu tak ingin terlihat lemah didepanku.
“gomawo chagiyaa” Luhan kegirangan dan memelukku.
“Luhan aku..” Nafasku semakin melemah seiring pelukan Luhan. Aku kehilangan tenagaku saat ini, ku rasakan genggaman tangan Luhan melemah. Tanganku sudah tak sanggup menahan tangan Luhan, samar-samar suara tangisan bayi itu menghilang. Aku mencoba membuka mataku dengan sisa tenaga yang kumiliki, namun semua sia-sia, saat kurasakan tangan Luhan benar-benar terlepas, dan suara tangisan itu benar-benar menghilang.
“apa aku akan menemui ibuku” hanya itu yang terlintas di fikiranku saat semuanya terlihat gelap dan sepi.
**
Cahaya yang begitu menyilaukan memaksaku membuka mataku, cahayanya terlalu menusuk mataku. Aku mengucek-ngucek mata ku beberapa kali.
“aku dimana?” Mataku berkeliling saat melihat tempat yang belum pernah ku datangi sebelumnya, namun ini sangat indah, sungguh indah, hamparan bunga warna warni juga kupu-kupu yang terbang bebas di atasnya. Bahkan wangi yang menyeruak dari bunga-bunga ini sangat harum menyejukkan udara di sana.
“apa ini surga?” Gumamku saat melihat pemandangan yang benar-benar sempurna dihadapanku.
“sayang!” Seseorang memegang bahuku dan aku menoleh seketika.
“eomma !” Teriakku saat kupastikan wanita dibelakangku adalah ibuku yang meninggalkanku 20 tahun lalu. Aku langsung memeluknya hangat, dia pun memelukku lebih erat, aku menangis tersedu-sedu di bahunya. Eomma mengelus lembut rambutku.
“apa selama ini ibu tinggal disini?” Tanyaku tak rela jauh-jauh dari ibuku, aku tidur diatas pangkuan eomma, eomma memainkan rambutku yang terurai, eomma tak bicara, dia hanya mengangguk.
“aku sangat merindukan eomma”
“eomma juga sangat merindukan mu”
“apa aku akan tinggal bersama eomma sekarang?” Tanyaku. Eomma diam sebentar lalu tersenyum.
“tidak, kau harus kembali, anak dan suamimu menunggu mu, dan ada orang lain yang harus kau temui” eomma mengelus pipiku, aku hanya tersenyum hingga tanpa sadar aku tertidur di pangkuan eomma.
**
“heey bangunlah, kau terlalu lama tertidur” suara samar-samar terdengar di telingaku, ada tangan mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku pun membuka mataku perlahan dan mendapati seseorang pria memakai baju pasien sepertiku.
“kau siapa ?” Tanyaku heran
“aku teman barumu?” Jawabnya , senyumnya menyeringai dari mulut kecilnya.
”teman baru ?” Aku mengerutkan dahiku , tak mengerti dengan setiap perkataanya.
“benar, kita akan lebih sering bersama sekarang” ujarnya senang , kepalaku pusing mendengar kata-katanya, aku berdiri saat menyadari aku berada di koridor rumah sakit tempatku melahirkan, dan di ujung kiri lorong itu aku melihat Luhan yang sedang tertunduk di tempatnya, tanpa menghiraukan pria disampingku aku langsung berlari pada Luhan.
“oppa, kau kenapa?” Tanyaku heran, aku berdiri di depan Luhan, Luhan tetap tertunduk menahan wajahnya dengan tangan.
“oppa, ini aku ku mohon lihatlah aku?” Aku menyentuh bahu Luhan namun tanganku tak bisa menyentuhnya. Tanganku hanya melewati bahu Luhan. Aku menatap tanganku heran, lalu mencoba dan terus mencoba menyentuh Luhan namun nihil tak bisa, Luhan pun sama sekali tak mengangkat kepalanya melihatku.
“kau tidak akan bisa menyentuhnya” suara itu datang lagi, aku menatapnya dengan air mata mengalir dimataku.
“kau hantu sekarang !” Ucap pria itu tegas, aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh di tempatku. Mencoba mencerna kata “hantu” yang ia katakan.
“aku belum mati” aku berteriak dan memukul badanku sendiri, menghiraukan rasa sakit karena pukulanku, pria itu menghentikan ku, dia dengan berani memelukku. Aku menangis dalam pelukannya hingga beberapa saat aku sudah tenang dipelukannya, bahkan aku sudah tidak malu berpelukan dengan orang lain di hadapan suamiku sendiri, aku tidak bisa membayangkan betapa marahnya Luhan jika dia melihat semua ini. Namun Luhan tak bergeming tetap tertunduk dan sekarang menangis.
“aku belum mati” gumamku kembali, pria itu membantuku berdiri, dia membawaku berjalan menuju pintu kamar yang aku ingat adalah tempatku melahirkan. Dia tidak membuka pintunya namun tetap berjalan menembus pintu itu, aku memejamkan mataku karena takut membentur pintu itu, tapi tidak , ajaib aku bisa menembus pintu itu sama dengan nya. Dia menunjuk kearah seseorang di tempat tidur, mataku hampir saja meloncat melihatnya, itu aku. Disana masih terbaring dengan segala alat terpasang ditubuhku. Aku kehilangan tenaga lagi kali ini.
“kau memang tidak mati, kau masih koma” ujar pria itu. Aku menghampiri tubuhku sendiri dan memastikan bahwa aku benar-benar belum mati. Aku menghela nafas saat kurasakan hidungku masih mengeluarkan udara. Aku duduk disamping tubuhku.
“lalu kau ?” Tanyaku pada pria itu.
“aku juga koma, aku sudah koma sejak 3 bulan yang lalu” jawabnya sedih.
Kulihat Luhan datang dari ujung pintu, dia sudah membawa seikat bunga segar ditangannya lalu diletakan di pas bunga yang kosong pada meja disamping tempat tidurku. Luhan duduk. Berhadapan denganku, tangan Luhan mengenggam erat tangaku yang terbaring lemah di hadapanku.
“kau tau aku mengikuti beberapa pelatihan menjadi seorang ayah yang baik sejak awal kau hamil. Aku mempelajari tindakan medis yang harus dilakukan jika kontraksi datang. Aku juga membeli mobil baru agar bisa berjalan lebih halus saat membawamu ke rumah sakit. Aku berharap kau bisa bangun dan melihat betapa menggemaskannya anak kita, dokter bilang kau terlalu mencintaiku, jadi anak kita sepenuhnya mirip aku, tapi menurutku tidak dia memiliki mata yang indah sepertimu, bibir yang kecil sepertimu. Dia hanya laki-laki seperti ku. Dan dia, tidak maksudku aku dan dia sangat membutuhkan mu” kata-kata Luhan membuatku menangis tersedu-sedu mendengarnya, aku ingin memeluknya dan menenangkannya sekarang, aku menghampiri Luhan dan mencoba memeluknya beberapa kali namun tak bisa. Aku berharap jika Tae Gong Sil benar-benar bisa melihat hantu aku ingin menemuinya dan memintanya untuk menenangkan suamiku, sepertinya Luhan menangis lebih kencang dariku dan itu membuat dadaku semakin sesak.
Aku tetap duduk di samping Luhan yang sudah tertidur disamping tubuhku yang terbaring. Wajahnya terlihat sangat lelah, aku benar-benar ingin memeluknya dan mengusap lembut rambut Luhan. Tapi aku tak bisa.
“Lee Yae Bin” seseorang mengucapkan namaku dan membuatku menoleh pada sumber suara. Pria itu masih disana, pria yang mengatakan bahwa aku hantu. Dia tersenyum kilat padaku lalu menghampiriku.
“aku byun Baekhyun noona” pria itu mengulurkan tangannya padaku, aku menatapnya sebentar, tanpa permisi dia menarik tangan ku. “kita teman sekarang” ujarnya kegirangan.
“aku benci dipanggil noona” jawabku ketus. Dia tampak kecewa karenanya.
**
“dia cantik sekali” ucap Baekhyun saat kami berdiri di depan sebuah box bayi, aku menatapnya kesal.
“dia itu laki-laki” ujarku tegas.
“aku tahu, tapi dokter benar . Dia seperti suamimu cantik” ucapnya kembali. Aku tak marah kali ini, ku akui 7 tahun lalu aku memang menyukai Luhan karena wajahnya yang begitu terlihat cantik, aku tersenyum dalam hati.
“Xi Han Bin” Baekhyun menunjuk sebuah papan nama dipinggir box bayi itu. Aku segera melihatnya.
“dia tidak bercanda dengan nama itu” gumamku pelan saat menyadari nama itu diberikan Luhan, menyatukan nama kami untuk anak kami adalah rencana Luhan, Xi Han Bin untuk laki-laki, dan Xi han yae untuk perempuan. Aku tersenyum lebar melihat nama itu.
“noona lihatlah anakmu sudah bangun” teriak Baekhyun kegirangan dan menunjuk anakku yang sedang menguap, terlihat sangat menggemaskan. Mata kecilnya terbuka.
“aah lucu sekali” ucapku tak kalah girang.
“dia bisa melihatmu” ujar Baekhyun. Aku menatapnya heran
“maksudmu?” Tanyaku
“seorang bayi bisa melihat kita, cobalah kau tarik perhatiannya , seperti ini” jawabnya sambil memainkan tangannya di depan anakku, anakku seakan terfokus pada Baekhyun.
“benar kan ? Kau juga bisa menyapanya, ayo cobalah” ucap Baekhyun semangat, aku diam sebentar lalu menatap Baekhyun.
“baiklah aku mengerti, aku menunggumu di luar” ucapnya lalu pergi dalam sekejap.
Ku lihat seorang bayi yang masih berwarna kemerahan di depanku,tangan dan kakinya masih terbungkus kain, badannya juga terbungkus layaknya permen. Matanya bertemu dengan mataku. Matanya sangat kecil, dan rambutnya berwarna kecoklatan seperti milik Luhan. Saat melihatnya aku seperti melihat Luhan yang terlahir kembali, aku tersenyum ketika bayi ini menguap, menampakan lidah mungilnya.
“aku memang sangat mencintai mu Xi Luhan, dan dia adalah bukti betapa besarnya cintaku” gumamku pelan. Tanganku menembus kaca box bayi itu, mencoba meraih tangan anak ku, dan dapat. Aku bisa menyentuhnya. Rasanya aku ingin menggendong bayi ini, mendekapnya dalam pelukan ku. Tapi itu semua mustahil, aku tidak bisa membayangkan wajah Luhan ketika anaknya melayang di udara. Luhan itu sangat manly tapi tidak untuk hantu. Aku masih ingat saat dulu kami pergi bermain ke rumah hantu, aku tidak sengaja meninggalkan Luhan di dalam. Dan saat keluar Luhan sangat marah dan ketakutan karena aku meninggalkannya sendiri. Well sepertinya aku harus berfikir ulang untuk melakukannya.
“Han Bin-a, na eomma ya. Kau bisa melihat eomma kan ?” Aku mencoba berkomunikasi pada bayi ku, ku lihat Han Bin seakan mendengarku, dia diam menatapku, aku memainkan tangan mungilnya.
“eomma akan segera menggendong mu dan memelukmu, kau harus bersabar ya sayang, jangan banyak menangis dan banyak merepotkan ayah mu, eomma sangat mencintaimu sayang. Terimakasih sudah lahir ke dunia ini dengan sangat sehat, eomma tidak menyesal walau kini eomma terbaring sakit, eomma janji akan segera bagun untuk mu dan ayahmu, hmm?” Hanya beberapa kata itu yang bisa ku ucapkan karena air mataku sudah menetes deras di pipiku, membentuk aliran sungai di pipiku. Dadaku terasa begitu sesak membayangkan hal-hal buruk dari kemungkinan yang ada. Ku rasakan sebuah tangan menyentuh bahuku.
“noona” Baekhyun mencoba menenangkanku, entah kenapa anak ini seakan mengerti setiap hal tentangku. Baekhyun membawaku keluar dari rumah sakit, kami duduk di taman rumah sakit yang lumayan sepi.
“apa aku akan bangun lagi?” Tanyaku pada Baekhyun yang malah sibuk dengan dedaunan di sekitarnya, Baekhyun menoleh padaku dan memasang wajah bingung padaku.
“entahlah, sebagian dari mereka ada yang bangun dan sebagian lagi ada yang tidak” jawabnya, aku menyatukan alisku heran.
“maksudmu aku akan jadi hantu selamanya?” Tanyaku kaget.
“tidak, jika tujuan dari semua ini sudah ditemukan kau akan pergi ke surga, atau kembali hidup” tegasnya kembali, namun membuatku semakin kebingungan.
“apa yang kau bicarakan, kau terlalu banyak nonton horror”
“pasti ada alasan mengapa aku harus bertemu dengan mu”
“bicara yang jelas, kata-katamu membuatku sakit kepala”
“aku sudah disini selama 3 bulan, terakhir aku bertemu seorang nenek dia bilang kita menjadi hantu karena ada sesuatu yang harus kita tahu, atau ada orang yang sedang membutuhkan kita. Jika semua itu sudah selesai kita akan kembali hidup atau kita akan pergi” jelasnya panjang lebar. Aku hanya diam karena aku bingung harus bicara apa.
Semua terasa sama bagiku, sudah hampir tiga bulan sejak aku berkeliaran menjadi hantu seperti yang Baekhyun katakan. Luhan menjadi ayah dan ibu untuk Han Bin, aku tidak menyangka Luhan yang selalu manja padaku mampu melakukannya, seperti sekarang Luhan sedang sibuk menyiapkan susu untuk Han Bin, sepertinya Luhan menjadikan rumah sakit ini rumahnya. Dia berangkat bekerja dari sini dan pulang kerja kesini. Luhan menjagaku dengan baik, Luhan tau jika aku benci sendirian. Hal yang paling membuatku ingin segera bangun adalah saat mendapati wajah Luhan sudah hampir dipenuhi dengan bulu-bulu menjijikan, dia terlalu sibuk hingga tak sempat mencukur bulu diwajahnya, dia terlihat sangat menyeramkan sekarang, mungkin jika aku tidak melihatnya sekarang aku tak akan bisa mengenali Luhan saat aku bangun, hal yang paling mengerikan adalah saat membawayangkan bahwa Han Bin juga akan memiliki bulu di wajah seperti Luhan, oh tuhan jangan biarkan semua itu terjadi
Aku sudah berfikir keras tentang tujuan yang dimaksud Baekhyun, sudah hampir semua teman ku datangi dan mengingat mungkin saja ada sesuatu yang belum aku selesaikan, tapi tidak ada, sejauh ini semuanya masih baik-baik saja, dan aku hampir putus asa karenanya.
Byun Baekhyun seorang anak berumur 20 tahun yang selalu tampak dan ceria saat bersamaku , mungkin dia keturunan casper karena dia selalu tersenyum bahagia dan baik hati, dia selalu membuatku tersenyum saat bersamanya, dia bisa bermain dengan Han Bin. Senyumnya tak pernah absen dari wajah imutnya. Dan karenanya aku tak pernah kesepian selama menjadi hantu, atau merasa sedih karena dia mampu menghapus kecemasan dalam hatiku.
Baekhyun tidak punya keluarga, dia kabur dari orang tua yang mengadopsinya karena orang tua angkatnya selalu menjadikannya pembantu dirumah, atau menyiksa Baekhyun karena kesalahan kecil, ada beberapa luka di tubuh Baekhyun yang terlihat sadis. Hidup Baekhyun terdengar sangat tragis setiap kali dia menceritakannya padaku. Tapi dibalik kisah hidupnya yang tidak menyenangkan Baekhyun punya pribadi yang jauh lebih menyenangkan. Dia itu lucu sangat lucu, terlihat menggemaskan, aku beruntung bisa mengenal hantu seimut dia. Dan satu hal yang membuatku senang bersamanya adalah jika adikku hidup dia akan seumuran dengan Baekhyun.
“kenapa kau bisa sakit ?” Tanyaku pada Baekhyun yang terlihat asyik bermain dengan Han Bin.
“aku tertabrak mobil 6 bulan yang lalu, dan saat aku sadar aku sudah seperti ini” jawabnya sedih.
“benarkah ? Sangat menyedihkan sekali” ucapku sambil menenangkan Baekhyun.
“tapi aku senang bisa mengenal mu dan juga bayi kecil ini sangat lucu” jawab Baekhyun kegirangan.
**
Aku dan Baekhyun berdiri disamping tubuh Baekhyun yang terbaring tak jauh beda denganku. Baekhyun terlihat jauh lebih tegar dariku.
“aku ingin mencari orang tua kandungku” ucap Baekhyun
“dimana mereka ?” Tanyaku
“entahlah aku tidak tau, aku diadopsi sejak umurku 5 tahun. Tapi aku belum menemukan kedua orang tuaku. Aku ingin bertemu mereka sekali saja sebelum aku pergi” Baekhyun menundukkan kepalanya.
“ayo kita mencarinya?” Aku mencoba menghiburnya, mungkin tujuanku adalah membantu Baekhyun. Baekhyun menatapku heran.
“noona mau ?” Tanyanya senang.
“kau banyak menghiburku, mungkin giliranku membantumu”
“aah senangnya, terimakasih noona” Baekhyun kegirangan dan membawaku berkeliling. Senyumnya tak hilang dari wajah imutnya
**
Kami sudah berdiri di depan sebuah panti asuhan, Baekhyun bilang ini tempat nya dulu tinggal. Ada banyak anak-anak disana. Aku dan Baekhyun segera masuk, menuju ruangan tempat berkas-berkas berada.
“banyak sekali ?” Gumamku saat melihat setumpuk berkas tertata rapi di sebuah lemari didepanku.
“tahun berapa kau lahir ?” Tanyaku pada Baekhyun yang sama terkejutnya sepertiku, mata Baekhyun tampak menelusiri deretan berkas di depannya.
“1997, umurku 20 tahun sekarang” jawab Baekhyun tanpa ragu,
Aku langsung mencari beberapa berkas yang mungkin bisa membantu Baekhyun. Sudah hampir semua berkas di tahun itu aku buka tak ada nama Baekhyun.
“mungkin aku tak akan bertemu dengan mereka” ucap Baekhyun kecewa,
“ini belum selesai aku yakin kita akan menemukannya” tegasku meyakinkan Baekhyun, Baekhyun hanya mengangguk.
“DAPAT!!” aku berteriak kegirangan saat mengambil tiga terakhir dari berkas yang tersisa, Baekhyun seketika melompat mendekatiku.
“tapi disini Lee Baekhyun” ucapku pelan.
“mungkin itu nama keluargaku, keluarga byun yang mengadopsiku” jawab Baekhyun
“lihat nama orang tuaku” pinta Baekhyun kegirangan, aku segera membuka berkas itu dan..
“ada apa?” Tanya Baekhyun saat melihatku menjatuhkan berkas itu.
“ada yang salah?” Tanya Baekhyun untuk kedua kalinya.
Air mata mulai menggenang di mataku, tubuhku bergetar hebat , aku kehilangan keseimbangan dan ambruk di tempatku, tubuhku terasa lemas dan tenagaku menguap entah kemana, tiba-tiba dadaku sesak dan tak mempu mengeluarkan sepatah katapun.
“noona” panggil Baekhyun, dia menunduk melihatku.
Aku tak menjawabnya dan dia menutup wajahku saat kupastikan air mata ini tak mampu lagi kubendung, aku menangis sesegukan ditempatku, Baekhyun masih diam kaget melihat tingkahku, dia hanya menepuk-nepuk punggungku. Aku menatap Baekhyun, matanya terlihat sangat bingung melihatku.
“mianhae Baekhyun-a, mianhae” ucapku terbata-bata
“noona?” Tanyanya heran, aku mengusap wajah lembut Baekhyun untuk pertama kalinya, dan langsung memeluknya erat.
“hmm, maafkan noona tak mengenalimu sejak awal” ucapku mengelus lembut rambut Baekhyun, Baekhyun melepaskan pelukan nya dan menatapku.
“aku tidak mengerti” tanyanya, aku mengambil berkas yang terjatuh tadi.
“ini, nama ini adalah nama ayah dan ibumu, dan mereka adalah orang tuaku” jelasku pada Baekhyun, Baekhyun menatapku bingung.
“mianhae Baekhyun-a, aku tidak tahu jika kau masih hidup dan membiarkanmu menjalani hidup yang begitu sulit sendirian, maafkan noona Baekhyun-ah” aku meraih tangan Baekhyun yang terkapar lemas disamping badannya. Baekhyun tak merespon dia tampak sudah berlinang air mata didepanku, aku memeluknya kembali, kurasakan tubuhnya bergetar hebat. Ku usap punggungnya yang hangat. Baekhyun hanya menangis sesegukan di pundakku, hingga beberapa saat kemudian Baekhyun membalas pelukanku lebih erat.
“kenapa aku dibuang, apakah eomma dan appa membenciku?” Tanya Baekhyun saat kami sudah merasa tenang, Baekhyun menyandarkan kepalanya di pundakku.
“aniyo, tidak ada yang membencimu”
“lalu kenapa aku ditelantarkan?”
“appa mengatakan bahwa kau meninggal sehari setelah ibu melahirkanmu, aku tak banyak bertanya saat itu karena terlalu sedih”
“dimana eomma sekarang ?” Tanya Baekhyun lalu menatapku, aku balas menatapnya dengan penuh penyesalan, apa yang harus ku katakan ? Dia akan sangat kecewa jika mengetahui kenyataan ini.
“aku sangat berharap bisa melihat eomma ? Apa dia mirip dengan ku ? Apakah aku mirip appa?” Baekhyun memberikanku pertanyaan yang bertubi-tubi, tenggorokanku tercekat mendengar pertanyaan Baekhyun.
“noona?” Baekhyun mengguncangkan tubuhku yang tertunduk lemas karena pertanyaannya.
“mianhae Baekhyun-a” ku usap dengan lembut wajah Baekhyun.
“eomma meninggal saat melahirkan mu?” Ucapku dengan terbata-bata, Baekhyun menjauhkan badannya seketika, kedua tangannya menutup telinganya rapat-rapat, Baekhyun menangis kembali.
“andwe… Aku membunuh eomma !! Aku membunuh eomma !! Ayah membuangku karena aku membunuh eomma !!” Baekhyun berteriak dan mengacak-ngacak rambutnya, sesekali dia memukul dadanya sendiri, aku mencoba meraih tangannya dan menenangkannya, tangan Baekhyun yang tak besar seperti milik Luhan memudahkanku mengendalikannya. Aku menarik Baekhyun kembali dalam pelukan ku, badan Baekhyun melemah seiring pelukanku.
“tidak, kau tidak membunuh eomma baek, semuanya sudah takdir, jangan menyalahkan dirimu” ucapku menenangkan Baekhyun, Baekhyun tak menjawab dan tetap menangis dalam pelukanku.
“baek kenapa tubuhmu dingin ?” Aku semakin memeluk Baekhyun saat merasakan tubuh Baekhyun semakin dingin. Baekhyun tak menjawab dan justru semakin membenamkan kepalanya di pundakku, tubuh Baekhyun semakin erat memelukku seakan mencari kehangatan di tubuhku.
“baek, apa yang terjadi ?” Aku semakin bingung dan menatap Baekhyun. Baekhyun menjauhkan tubuhnya dariku, aku mencoba menyentuh tangannya namun lenyap, Baekhyun sudah seperti banyangan yang sulit untuk ku sentuh, tanpa sempat bertanya dan mengerti situasi yang ada seketika Baekhyun menghilang dari hadapanku.
“Baekhyun !!!!” Aku berteriak kencang dan berdiri mengelilingi panti asuhan. Baekhyun sudah menghilang entah kemana. Aku langsung berlari menuju kerumah sakit. Kenapa aku tidak bisa menghilang dan langsung berada di rumah sakit seperti hantu dalam film. Aku harus berlari dan sekarang bahkan aku menaikki bus menuju rumah sakit, tanpa membayar. Aku akan membayarnya nanti jika aku sudah sadar karena aku warga negara yang patuh. Aku segera berlari sebisaku menembus pintu rumah sakit dan menuju kamar Baekhyun secepat yang aku bisa.
“Baekhyun !!” Aku masih bersyukur karena bisa melihat Baekhyun berdiri didepan kamarnya. Namun Baekhyun tak menoleh padaku, dia menatap pintu kamarnya yang terbuka.
“ada apa?” Tanyaku pada Baekhyun, Baekhyun tak menjawab dan hanya menunjuk ke arah tubuhnya yang sudah dikelilingi beberapa dokter.
“keluarganya sudah tidak mau bertanggung jawab untuk biaya pengobatannya. Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi selain merelakannya pergi” seseorang memulai pembicaraan. Perlu beberapa saat untukku mencerna setiap kata yang dokter katakan tadi.
“apa maksud mereka baek?” Tanyaku tak mengerti.
“aku akan pergi noona” jawabnya
“pergi ? Kau akan bangun kan baek ?” Tanyaku antusias, namun seketika Baekhyun menoleh dan menggelengkan kepalanya.
“aku akan menemui eomma” jawabnya dan menarik ujung bibirnya sedikit.
“mwo ?!! “ Aku berlari masuk menghampiri dokter yang mulai bergerak melepaskan peralatan ditubuh Baekhyun, aku mencoba menghentikan tangan mereka , namun sia-sia, mereka tetap bergerak melepaskan satu-persatu alat bantu hidup Baekhyun.
“jangan kumohon, jangan biarkan adikku pergi, dia ingin hidup, kumohon” aku berteriak memohon, berharap mereka bisa mendengarku. Tak ada yang menjawab mereka tetap sibuk. Aku segera kembali pada Baekhyun yang masih menatap kosong tubuhnya sendiri.
“baek lakukan sesuatu, kau sudah menemukan tujuanmu, kau harus kembali pada tubuhmu dan bangun kembali. Cepat baek !” Aku mengguncangkan tubuh Baekhyun dan memintanya kembali pada tubuhnya atau melakukan sesuatu untuk membiarkannya tetap hidup.
“noona gomawo” Baekhyun memegang bahuku dan menenagkanku, matanya begitu tenang menatapku.
“aku tau noona menyayangiku, aku senang selama ini sudah bersama noona. Aku juga senang bermain dengan Han Bin selama ini. Noona akan menjadi ibu yang sempurna untuk Han Bin. Maafkan aku sudah menjadikan noona takut melahirkan karena aku, dan membiarkan eomma meninggal karena aku. Noona aku menyayangimu, hiduplah dengan baik” ucap Baekhyun. Aku memukul dada nya beberapa kali, menangis sejadi-jadinya, aku memeluk Baekhyun, tak ingin dia pergi dalam keadaan seperti ini. Tubuh Baekhyun masih dingin dalam pelukanku. Bahkan bertambah dingin.
“noona aku harus pergi” Baekhyun melepaskan pelukannya, aku menggenggam erat tangannya hingga kurasakan tangannya mulai terlepas dari genggamanku, Baekhyun tersenyum sangat lucu dan manis. Dia melambaikan tangannya padaku, sebelum akhirnya menghilang dibawa udara yang berhembus.
“andwe.. Baekhyun-a.. Baekhyun-a, kembali kumohon.. Baekhyun-a” aku mengejar Baekhyun dan berkeliling dirumah sakit mencari Baekhyun, namun nihil tak ada lagi Baekhyun yang selalu tertawa bersamaku, tak ada lagi Baekhyun yang menghiburku saat aku sedih, tak ada lagi kekonyolan Baekhyun yang bisa membuatku sakit perut menertawakannya. Tubuhku melemah setelah mengelilingi rumah sakit 3 kali. Aku kehilangan kesadaran di taman rumah sakit.
**
“Yae Bin-a,Yae Bin-a. Kau bisa mendengarku?.. Yae Bin-a”
Suara itu membuatku terbangun, mencoba membuka mataku yang terasa sangat berat, kepalaku pusing sekali saat itu.
“Yae Bin-a kau bisa mendengarku hmm?” Aku menoleh ke sumber suara disampingku.
“Luhan !” Ucapku kaget saat melihat Luhan sudah duduk disampingku, tangannya hangat menggenggam erat tanganku.
“hmm ini aku sayang, kenapa kau tidur lama sekali. Aku merindukanmu?” Ucap Luhan dan mencium tanganku beberapa kali. Luhan membantuku duduk diranjang.
“aku juga merindukanmu Xi Luhan” jawabku, Luhan menarikku kedalam pelukannya, memelukku sangat erat. Tubuh hangat Luhan menghangatkanku seketika, aku membalasnya tak kalah erat.
“Han Bin, aku ingin melihatnya” pintaku pada Luhan, Luhan mengerutkan dahinya karena kaget aku bisa tau nama anak kami.
“dari mana kau tau namanya?” Tanya Luhan. Aku menggigit bibir bawahku dan menggerakkan mataku kekanan kekiri mencari jawaban.
“bukankan itu nama yang akan kau berikan” jawabku terbata-bata, Luhan tersenyum kilat.
“kau mengingatnya, gomawo chagiya” ucap Luhan dan mengecup ujung rambutku. Luhan menggendong Han Bin yang berada di box bayi tak jauh dari tempat Luhan duduk.
“Han Bin-a annyeong.. Kau merindukan eomma hmm?” Aku menciumi wajah Han Bin yang terlihat menggemaskan. Han Bin tersenyum bahagia dalam pelukanku, tangan nya bergerak-gerak kegirangan karenanya.
“ini pertama kalinya kalian bertemu tapi Han Bin seperti sering melihatmu, biasanya dia akan menangis jika orang asing menggendongnya” jelas Luhan bingung. Aku tersenyum sebentar melihat Luhan.
“apa aku orang asing baginya ?” Tanyaku pada Luhan, Luhan memelukku dan Han Bin.
“aku sangat merindukan mu chagiya, suaramu saat memanggil namaku ciuman manismu aku sangat merindukan mu, ku mohon jangan lakukan ini lagi” bisik Luhan. Aku mengangguk dan membenamkan kepalaku di dada Luhan.
“oppa aku ingin pergi ke suatu tempat” pintaku pada Luhan. Luhan menundukkan kepalanya dan melihatku.
“kemana ?” Tanyanya.
**
“siapa dia ?” Tanya Luhan saat aku Luhan dan Han Bin berdiri disebuah kuburan yang masih baru.
“dia adikku” jawabku lalu meletakkan seikat bunga matahari dibawahnya.
“adik mu ? Kau tau dari mana dia adik mu?” Tanya Luhan, aku tak menjawabnya. Karena aku tak mungkin mengatakan pada Luhan kalau hampir selama 3 bulan aku berkeliaran menjadi hantu disekitar Luhan.
“Baekhyun-a.. Noona datang menemuimu . Apa kau bertemu eomma disana ? Sampaikan salam ku untuk eomma disana. Aku merindukkan kalian berdua. Kenapa kalian pergi begitu cepat ? Baekhyun-a mianhae aku tak bisa memberikanmu kebahagian yang lebih besar. Terimakasih kau telah cukup memberikanku banyak tawa selama kita saling mengenal. Andai aku tau sejak awal jika kau adalah adikku aku tak akan memarahimu setiap kekonyolan mu. Aku akan memberikan lebih banyak pelukan dan kebahagiaan yang belum sempat ku berikan. Baekhyun-ah noona menyayangimu. Hiduplah bahagia bersama eomma”
“oppa saranghae” bisikku pada Luhan.
“aku lebih mencintaimu” jawab Luhan, aku tertawa ketika Luhan akan memelukku namun terhalang Han Bin yang berada di pangkuan Luhan.
“cium aku” pinta Luhan dan mendekatkan wajahnya padakku.
“anak kita akan melihatnya” jawabku dan mendorong kepala Luhan dengan ujung jariku.
“aku akan menutup matanya, palli.. Palli..” Tangan besar Luhan menutupi wajah Han Bin. Luhan memang tidak berubah meskipun sudah jadi ayah, aku akan membiarkannya karena ini adalah satu dari sejuta alasan mengapa aku sangat mencintai nya. Aku mencium Luhan dengan lembut. Luhan menahan tengkukku seperti biasa bergerak begitu perlahan aku bisa merasakan nafas Luhan hangat menyentuh hidungku.
“jangan biarkan bulu diwajahmu tumbuh lagi Xi Luhan” ucapku sambil mengusap lembut pipi Luhan yang mulus, dahi kami masih saling bersentuhan. Menatap wajah Luhan dari jarak sedekat ini menjadikannya berpuluh-puluh kali lipat lebih tampan. Luhan menyatukan alisnya seketika menatapku kaget.
“kapan aku menumbuhkan mereka ? Wajahku akan terlihat seperti monster jika aku memilikinya” jawab Luhan dan menggerakkan matanya tak nyaman. Aku tertawa kecil lalu meraih wajah Luhan yang sudah memerah.
“benar, kau terlihat seperti monster saat kau memiliki mereka. Aku menyukai wajahmu yang cantik Xi Luhan” jawabku manja, Luhan mengerucutkan bibirnya karena kesal mendengarku memanggilnya cantik. Aku mencium singkat bibir Luhan dan mengembalikkan senyumnya.
“kita harus memberikkan adik untuk Han Bin, supaya dia bisa punya teman bermain dan tidak menganggu kita” ucapku dan memegang erat tangan Luhan
“jangan tinggalkan aku lagi, aku akan menuruti keinginan mu tapi jangan pernah biarkan aku sendiri dan menumbuhkan banyak bulu lagi diwajahku” ucap Luhan. Aku tersenyum dan mengangguk.
**
The end

Leave comment ya please.. 😀
Kritik dan saran sangat dibutuhkan 

Don’t Go (Chapter 1)

cats

Tittle : Don’t Go

Scriptwriter (Author): @Sandirahyun

Main Cast: Xi Luhan, Lee San Di (Nickname :Cha-Cha), Byun Baekhyun

Support Cast: Lee Soon Kyu (Sunny SNSD)

Genre: Romance, Family , Friendship

Duration (Length): Chapter 1

Rating: 15+

 

China 2008

Kota Beijing sebagai ibu kota China memang tak pernah sepi dari lalu lalang orang yang menjalankan aktifitas mereka.

Seorang Laki-laki sedang berjalan sendiri, malam sudah menunjukkan 11 malam saat itu, saat laki-laki itu baru saja pulang dari Pesta kelulusan SMA nya. Dan memilih jalanan yang sedikit sepi menuju rumahnya. Namun saat tiba di persimpangan sebuah jalanan tiga orang preman menghalangi jalannya.

“apa mau kalian?” Tanya laki-laki itu pada tiga pria bertubuh lebih besar darinya.

“tentu saja aku menginginkan uangmu bocah tengik” ucap pria bertubuh besar yang berdiri didepannya.

“aku tidak punya waktu bermain-main dengan kalian” ucap anak laki-laki itu dan kembali berjalan. Namun tak lama kemudian pria bertubuh besar itu sudah melayangkan kepalan tangan dan meninju wajah mulus anak laki-laki itu membuatnya tersungkur ke tanah. Dan dengan segera pria itu merogoh kantong anak-laki-laki itu, namun tangannya terhenti saat seseorang menahan pergalangan tangannya.

“siapa kau ?” Tanya pria itu melihat seorang gadis bertubuh jauh lebih kecil darinya. Berdiri seperti jagoan menahan tangannya. Dengan mengenakan celana jeans hitam dan kaos oblong biru, jaket putih melingkar dipinggangnya, rambutnya terurai bebas hingga punggung dan mengenakan topi bertuliskan “Woles” sama sekali tidak membuat ketiga preman itu bergeming.

“kalau berani jangan keroyokan, mari kita berduel dengan seimbang” ucap gadis itu dalam bahasa korea dengan percaya dirinya, membuat semua orang disana terheran-heran. Gadis bertubuh kecil itu menghempaskan tangan besar itu dengan kuat. Lalu membuat pose layaknya Jacki Chen yang akan melakukan aksi perkelahian.

“aku tidak melawan wanita” ucap pria bertubuh besar itu. Namun tak sempat mengatakan hal lain, gadis itu sudah menendang kuat punggung pria itu membuatnya tersungkur mencium tanah, dan dengan lihai mengalahkan dua pria bertubuh besar lainnya dengan jurus taekwondo yang lainnya. Berhasil membuat ketiga preman itu berlari ketakutan setelahnya.

“kau baik-baik saja” tanya gadis itu pada anak laki-laki yang sedang kesakitan memegang pipinya, kali ini gadis itu menggunakan bahasa China. Laki-laki itu mengangguk.

“terimakasih” ucap laki-laki itu pelan dan sedikit ketakutan.

“heey aku tidak akan memukulmu kenapa kau ketakutan” tanya gadis itu mencairkan suasana dan tertawa lepas, melepaskan topinya dan membuat wajah cantiknya terekspose sempurna. Laki-laki itu menelan ludah sepelan mungkin melihat betapa cantiknya gadis yang beberapa saat tadi melayangkan tendangan taekwondo untuk menolongnya.

“ayo berdiri” gadis itu membantunya berdiri lalu berjalan bersama.

“aku harus berterima kasih padamu, bisakah kita bertemu lagi” tanya laki-laki itu ketika tiba di persimpangan jalan yang akan memisahkan mereka. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.

“baiklah temui aku besok disini” ucap gadis itu sambil pergi meninggalkannya sendiri tanpa memberi tahu jam berapa mereka harus menunggu.

**

Pagi di kota beijing sudah sangat ramai sekali, begitupun dipersimpangan jalan itu, seseorang sudah berdiri dengan pakaian rapi namun santai menunggu seseorang. Sudah 2 jam dia menunggu gadis penyelamatnya. Hingga lamunannya tersadar saat seseorang menepuk punggungnya.

“heey kau sudah lama menunggu?” Tanya gadis yang semalam

“tidak aku baru datang” jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“syukurlah , ayo” gadis itu berjalan di depannya, laki-laki itu melihatnya dari ujung kaki sampai ujung rambut, kali ini dia mengenakan dress motif bunga berwarna hijau dan memakai pita rambutnya, jauh berbeda dari gadis yang ditemuinya semalam. Namun kali ini jauh lebih cantik.

“tunggu.. Aku belum tau namamu” laki-laki itu memberanikan diri menanyakan namanya yang sudah ingin ia tanyakan dari semalam.

“hmm.. Cha-Cha, kau bisa memanggilku seperti itu” jawab gadis bernama Cha-Cha itu dengan senyum manisnya.

“Xi Lu Han. Kau bisa memanggilku Lu Han” jawab Luhan membalas senyumannya.

Mereka pergi mengelilingi kota Beijing hari itu.

“jadi kau orang korea, apa yang kau lakukan disini ?” Tanya Luhan di sela-sela istirahat mereka sambil menikmati eskrim.

“aku hanya sedang berlibur, lagi pula besok aku kembali karena lusa aku harus masuk sekolah” jawab Cha-Cha dan kembali menikmati eskrim strobery nya.

“kembali ? Secepat itu ?” Tanya Luhan kaget, Cha-Cha hanya mengangguk.

“Bahasa China mu sangat baik” Kembali Luhan mencari topik yang bisa membuatnya lebih lama bersama Cha-Cha.

“aku bisa 5 bahasa, china,inggris, prancis, jerman dan jepang” ucap Cha-Cha bangga Luhan Semakin penasaran dengan gadis didepannya. Namun tak sempat rasa penasarannya terobati, Cha-Cha sudah pergi karena ada keperluan lain. Saat itulah dia tak bertemu dengan gadis cantik itu lagi.

“aku akan ke korea dan menemuimu” tekad Luhan dalam hati kerena begitu penasaran dengan Cha-Cha.

6 bulan kemudian Korea 2008

Rasa penasaran Luhan membuatnya bisa menginjak negara korea untuk mencari seorang gadis idamannya. Walau tak tahu kemana dia harus mencari gadis itu, Luhan tetap yakin akan menemukannya.

Sore itu luhan sedang pulang kuliah menaiki bus ke asramanya. Luhan menaiki bus yang berhenti di tempat duduknya. Busnya penuh sekali,Luhan terpaksa berdesakan dengan penumpang lain. Beberapa halte telah dilewatinya, Luhan melihat beberapa kursi kosong yang bisa ia duduki. Mata kecil Luhan hampir saja keluar saat seorang gadis duduk di ujung kursi belakang. Itu Cha-Cha luhan dapat memastikannya. Cha-Cha duduk disana mengenakan seragam sekolah, matanya tertutup menikmati alunan musik dari earphonenya. Luhan tersenyum lebar dan menghampiri Cha-Cha. Namun Cha-Cha tak bergeming dengan kedatangan Luhan , Luhan pun tak berani membangunkannya. Hingga tiba di pemberhantian terakhir.

“kau sudah sampai nona” teriak supir bus membangunkan Cha-Cha, Cha-Cha pun membereskan barangnya dan beranjak dari kursinya tanpa menyadari ada Luhan disampingnya. Luhan pun hanya diam menatap Cha-Cha, lalu mengikutinya dari belakang.

“Gamsahamnida Ajjushi” Cha-Cha menuruni Bus , dan Luhan mengikutinya dari belakang.

“Aah kenapa hujan, aku tidak bawa payung” gerutu Cha-Cha sambil berusaha menutupi kepalanya dengan tangannya. Luhan yang melihat langsung sibuk mengorek isi tasnya, mengambil payung yang dibawanya dan segera menghampiri Cha-Cha. Cha-Cha seketika menoleh kebelakang saat seseorang sudah memayunginya. Mata Cha-Cha membulat saat melihat Luhan sudah berdiri didepannya, wajah mereka hanya terpaut beberapa centi saja, mereka bisa merasakan hembusan nafas mereka yang saling bertabrakan, aroma apel nafas Cha-Cha dan aroma Mint nafas Luhan menjadi satu. Cha-Cha terus menatap Luhan dan memastikan bahwa pria didepannya adalah pria yang ia selamatkan di China 6 bulan lalu.

“Oppa sedang apa kau disini ?” Ucap Cha-Cha melepas keheningan diantara mereka. Cha-Cha bicara dalam bahasa China. Luhan tersenyum mendengar suara Cha-Cha memanggilnya.

“aku kesini untuk mencarimu” jawab Luhan singkat  dengan bahasa korea dan membuat Cha-Cha tertawa.

Disana di halte terakhir dari bus yang Luhan naikki kisah cinta Cha-Cha dan Luhan di mulai. Mengukir kisah cinta yang begitu indah. Luhan cinta pertama Cha-Cha begitupun dengan Cha-Cha adalah cinta pertama bagi Luhan. Mereka begitu dimabuk cinta saat itu, mencintai satu sama lain dan menghabiskan banyak waktu bersama semakin membuat mereka terikat satu sama lain.

Sore itu Cha-Cha berjanji bertemu Luhan di toko eskrim favorit mereka, Cha-Cha sudah menunggu sekitar setengah jam lamanya. Sesekali memandangi jam tangannya dan menatap kosong jendela toko itu. Luhan berlari kencang menuju pintu toko es krim itu dan segera menghampiri Cha-Cha.

“mianhae chagiya aku terlambat” Luhan segera duduk di hadapan Cha-Cha, namun sepertinya Cha-Cha kesal dan tidak menanggapi permintaan maaf Luhan , Luhan segera memegang pipi kekasihnya da mencium bibir mungil Cha-Cha, membuat Cha-Cha kaget.

“kenapa kau mencium ku” tanya Cha-Cha semakin kesal.

“aku suka ketika wajahmu memerah karena ciuman ku” jawab luhan sambil mencubit pipi chabi milik Cha-Cha , membuat Cha-Cha tertunduk malu.

“chagiya aku punya kabar gembira” ucap Luhan dengan senang

“appa?” Tanya Cha-Cha lebih antusias.

“tadi saat aku berbelanja dengan temanku, tiba-tiba ada orang menghampiri kami dan memintaku masuk SM Ent” ucap Luhan semakin antusias. Cha-Cha mengerutkan dahinya menatap Luhan.

“aku akan lebih sering melihatmu disana kan. Aah aku senang sekali” Luhan semakin senang dan mengenggam erat tangan Cha-Cha, namun Cha-Cha tak merespon.

“Wheo ?” Tanya Luhan heran

“kenapa kau harus masuk kesana, aku lebih suka kau seperti ini. Menjadi Luhan seorang mahasiswa biasa, nanti kau akan menjadi pekerja di perusahaan. Bukan seorang artis” ucap Cha-Cha menundukan wajahnya.

“tapi kau itu ada di SM Ent. Dan aku ingin kesana karena ingin lebih sering melihat mu Lee San Di” jelas Luhan pada Cha-Cha. Cha-Cha mengerutkan bibirnya dan mengangguk. Luhan meluncurkan ciuman untuk kedua kalinya, namun kali ini tidak sebentar, Bibir Luhan mengisyaratkan Cha-Cha untuk tidak menghawatirkannya.

“Lihatlah kau sangat cantik ketika wajahmu memerah” Ucap Luhan mencubit pipi merah Cha-Cha.

Dengan masuknya Luhan ke agensi Sm Ent, semakin membuat kebersamaan Cha-Cha dan Luhan tak terpisahkan satu sama lain. Tak terasa 2 tahun mereka sudah memadu kasih bersama. Luhan sudah bertemu dengan ibu Cha-Cha dan ibunya sangat senang mengenal Luhan. Namun ayah Cha-Cha ? Luhan tak berani untuk menyapanya sekalipun , karena Cha-Cha pun kurang dekat dengan ayahnya.

Korea 2010

“kau adalah laki-laki kedua yang paling aku cintai setelah ayahku oppa” ucap Cha-Cha di hari kelulusan smanya. Luhan tersenyum lebar mendengar kata-kata Cha-Cha.

“aku sangat mencintaimu  Cha-Cha” jawab Luhan sambil memeluk Cha-Cha.

“jangan tinggalkan aku oppa” Cha-Cha mempererat pelukan Luhan.

“kenapa kau bicara seperti itu ? Siapa yang akan meninggalkanmu?” Bisik Luhan Lembut di telinga Cha-Cha.

“Oppa aku akan makan malam dengan ayah ku malam ini, aku senang sekali” teriak Cha-Cha senang dan melompat kegirangan memeluk bunga pemberian Luhan. Luhan hanya tersenyum lebar dan mengacak-ngacak rambut Cha-Cha.

“eomma aku sayang eomma dan appa” Cha-Cha memeluk ibunya yang sedang menyetir mobil merah itu, melaju dengan kecepatan lumayan kencang berjalan menyusuri jalanan tol saat itu.

“eomma juga sangat menyayangimu sayang. Kita harus cepat sampai, appa mu pasti sudah menunggu lama” jawab ibunya dengan menambah kecepatan semakin tinggi, melewati beberapa mobil di depannya.

“sebaiknya eomma jangan buru-buru, appa pasti mengerti kalau kita telat” ucap Cha-Cha sedikit ketakutan memegang sabuk pengamannya dengan kencang.

“appa mu sangat sibuk, jadi kita harus cepat sampai supaya tidak menyita waktunya, bukan kah kau sangat ingin makan malam bersama dengannya eoh ?” Tanya si ibu sambil mengalihkan pandangannya pada Cha-Cha, Cha-Cha tersenyum sebentar menatap ibunya, lalu mengangguk.

“eomma awaaaaas” Cha-Cha berteriak kencang saat tiba-tiba sebuah truk sudah tepat berada di depan mobil yang mereka kendarai. Namun terlambat mobil merah itu sudah bertabrakan sesaat setelah Cha-Cha berteriak kencang pada ibunya. Mobil bagian depan sudah hancur tak berbentuk, membuat jalanan macet seketika,

“eomma.. Eomma” Cha-Cha masih sadar, mencoba menggapai wajah ibunya yang sudah berlumur darah sama sepertinya, ibu nya membuka mata perlahan menatap Cha-Cha yang terlihat kesakitan.

“eomma mianhae” ucap Cha-Cha susah payah pada ibunya, menggenggam erat tangan ibunya yang sudah berlumuran darah.

“uljimma sayang, ada ayah mu yang akan menjagamu. Eomma selalu menyayangimu” kata terakhir yang di ucapkan ibu nya, sebelum Cha-Cha merasakan genggaman ibunya terlepas, tak lagi hangat . Tangan ibunya sudah terjulur lemas di samping badannya. Cha-Cha menangis sejadi-jadinya namun beberapa saat kemudian tak sadarkan diri karena kepalanya yang membentur benda didepannya.

**

“Unni, eomma.. Dimana eomma ?”  Cha-Cha tersadar di rumah sakit, kepalanya masih sangat sakit, namun tak ia hiraukan rasa sakitnya, setelah mengingat tangan ibunya yang terlepas dari genggamannya.

“tenanglah kau masih perlu banyak istrirahat” ucap Soon Kyu didepannya.

“unni eomma” Ucapan Cha-Cha berhenti saat melihat ayahnya berdiri tak jauh dari tempatnya berbaring, ayahnya menutupi wajahnya, menahan air mata yang memang sudah jatuh dari pelupuk matanya.

“appa mana eomma ?” Cha-Cha mencoba mencari penjelasan dari ayahnya, namun ayahnya tak menjawab malah berbalik badan dan meninggalkan putri semata wayangnya.

“appa.. Wheo ?” Cha-Cha mencoba bangkit mengejar ayahnya, namun kepalanya masih pusing hingga dia terjatuh dari tempat tidurnya, Soon Kyu langsung memeluk tubuh Cha-Cha dan menangis.

“kau harus tabah Cha-Cha , tidak ada yang bisa kita lakukan selain merelakannya” kata-kata Soon kyu berhasil membuat Cha-Cha menangis semakin menjadi dan memeluk Soon Kyu lebih erat.

**

Seminggu setelah ibunya pergi, guratan kesedihan masih menyelimuti wajah cantik Cha-Cha, tak ada senyum cerianya, tak ada gelak tawanya mengisi rumah mewah itu. Ayah Cha-Cha tak bicara padanya seminggu terakhir, membuat Cha-Cha semakin terhimpit kesedihan.

“tuan sudah pulang nona” pengasuh Cha-Cha memasuki kamar Cha-Cha yang sangat sepi layaknya tak berpenghuni itu, Cha-Cha segera belari keluar dan menghampiri ayahnya.

“appa kenapa baru pulang” Cha-Cha dengan buru-buru menghampiri ayahnya lalu memeluknya, lalu seketika ayahnya melepaskan tubuh Cha-Cha dan membantingnya hingga tubuh kecil Cha-Cha terbentur ujung kursi.

“appa.. Sakit “ ringis Cha-Cha sambil memegang lengannya yang sedikit memar.

“sakit ? Kau masih bisa merasakan sakit , setelah membunuh ibumu ? Ibumu bahkan lebih merasakan rasa sakit dari ini. Seharusnya kau yang mati bukan istriku” teriak ayah Cha-Cha yang sepertinya sudah mabuk berat itu. Wajahnya begitu membuat Cha-Cha ketakutan. Matanya merah menahan setiap emosi yang menggebu. Cha-Cha menangis semakin kencang setelah mendengar perkataan ayahnya.

“pergilah aku tak ingin melihat wajah mu yang semakin membuatku membencimu” ayah Cha-Cha membalikkan badannya dan berjalan gontay layaknya orang mabuk memasuki kamarnya. Cha-Cha masih tertunduk lemas di tempatnya mendengar perkataan ayahnya.

**

Cha-Cha pergi ke apartemen Luhan karena takut dengan ayahnya yang sangat menakutkan.

“kau kenapa sayang” Luhan memeluk erat Cha-Cha, tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan Luhan, Luhan pun semakin mempererat pelukannya.

“aku membunuh eomma oppa, aku pembunuh” teriak Cha-Cha sambil menangis di pelukan Luhan.

“tidak sayang, semuanya sudah takdir, ini bukan salahmu” Luhan mencoba menenangkan kekasihnya dengan segala cara.

Cha-Cha hanya punya Luhan selama tiga bulan terakhir setelah kepergian ibunya , ayahnya tak pernah menghubunginya atau menanyakan keadaannya, Cha-Cha bahkan tak berani pulang untuk sekedar mengetahui keadaan ayah nya.

Hari itu Cha-Cha datang ke ruang latihan SM seperti biasanya, senyum nya memang sedikit menghilang. Ruang latihan itu tak lagi ramai diisi dengan candaan konyolnya bersama anggota trainee lainnya. Satu-satunya kebahagiaan nya adalah dia memiliki Luhan.

“Direktur sudah mengumumkan anggota yang akan masuk Group baru EXO. Kalian bisa melihatnya sepulang latihan malam ini” pelatih Shim mengawali latihan dengan pengumuman. Membuat semuanya antusias mendengarnya.

“aku berharap aku bisa menjadi salah satunya” ucap Luhan dengan semangat dan menggenggam erat tangan Cha-Cha di sebelahnya. Cha-Cha membalasnya dengan hanya tersenyum manis.

“kau sangat ingin jadi penyanyi ?” Tanya Cha-Cha pada Luhan. Luhan menatap Cha-Cha dalam –dalam

“aku sangat menginginkannya sama besarnya dengan rasa ingin ku memiliki mu seutuhnya” jawab Luhan lembut.

**

Suho

Kris

Chanyeol

Lay

Jong In

Sehun

Kyung Soo

Tao

Xiumin

Luhan

Selamat untuk kalian, mari bekerja lebih keras.

Papan pengumuman di aula ruang latihan membuat Luhan berlari kegirangan dan memeluk Cha-Cha, mereka terus berlari mengelilingi ruang latihan yang sudah sepi.

“I got it, aku sangat bahagia Lee San Di “ teriakan Luhan menggema di seluruh ruang latihan saat itu. Cha-Cha hanya menatap Luhan sambil menarik ujung bibirnya sedikit.

“kau juga harus segera debut sayang” teriak Luhan pada Cha-Cha.

“aku hanya suka menari dan menyanyi oppa, aku tak ingin menjadi boneka ayah ku” ucap Cha-Cha lirih.

“maaf kan aku, aku hanya ingin berbagi kebahagiaan ku, bukan maksudku mengingatkanmu pada ayah mu” Luhan menghampiri Cha-Cha dan memeluknya.

“aniyo oppa , aku tidak apa-apa, bagaimanapun juga dia adalah ayah ku” jawab Cha-Cha membalas pelukan Luhan.

**

Korea 2011

“Kalian tidak boleh memiliki kekasih jika ingin bergabung di EXO”

Sungai Han sudah sangat sepi hari itu, tak ada pasangan yang biasa membanjiri area Sungai Han, atau sekedar keluarga yang menemani anaknya bersepeda, atau lalu lalang orang yang menikmati udara malam.

Cha-Cha sudah berdiri berhadapan dengan Luhan. Mata Cha-Cha merah , tubuhnya bergetar hebat menahan luapan emosi dalam tubuhnya. Beberapa menit Cha-Cha tak mengalihkan pandangannya dari manik-manik mata hitam milik Luhan. Begitupun Luhan menatap Cha-Cha dengan tatapan yang sulit di artikan, ada rasa cemas , takut dan menyesal bercampur aduk dipikiran Luhan.

Air mata Cha-Cha mulai menetes dari ujung matanya, membuat aliran sungai kecil di pipinya, tangan Luhan perlahan menghapus air mata kekasihnya yang sudah mengucur deras.

“aku mencintaimu Cha-Cha, sangat mencintaimu” Ucap Luhan mengawali percakapan, namun malah membuat Cha-Cha menangis, Cha-Cha tertunduk di tempatnya, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

“aku juga ingin mengejar mimpiku” kata-kata Luhan membuat Cha-Cha kehilangan keseimbangan, kakinya sudah lemas menopang badannya hingga dia ambruk di tempatnya.

“lalu kau memilih mimpimu dan meninggalkan ku ?” Tanya Cha-Cha, suaranya terdengar parau karena tangisan yang begitu menyesakkan dadanya.

“maafkan aku, aku berada dipilihan yang sulit saat itu” jawab Luhan lalu mengelus rambut Cha-Cha dengan lembut.

“oppa, jangan tinggalkan aku,, aku mencintaimu” pinta Cha-Cha pada Luhan dan menarik Luhan dalam pelukannya. Namun Luhan tak menyambut pelukan Cha-Cha, bahkan tak membalas kata cinta Cha-Cha.

“oppa” tanya Cha-Cha heran menatap Luhan yang tak membalas pelukan dan kata-katanya.

“maafkan aku Cha-Cha, aku juga mencintaimu tapi aku tak bisa, maafkan aku “ Luhan beranjak dari tempatnya, mengelus rambut Cha-Cha dan meninggalkannya setelah mengecup lembut ujung rambut Cha-Cha.

“Oppa” teriak Cha-Cha mencoba menghentikan Luhan. Namun Luhan tak berbalik dan tetap pergi meninggalkan Cha-Cha sendiri.

Cha-Cha terus menangis memeluk dadanya sendiri yang terasa sangat sesak itu. Hingga air matanya sudah habis menetes Cha-Cha tetap duduk sendiri di sungai Han , mengabaikan hembusan angin yang menerpa tubuhnya.

“gadis cantik seperinya kau sendiri”tiga orang pria sudah berdiri di samping Cha-Cha, membuatnya sedikit ketakutan, namun badannya tak sanggup untuk berdiri.

“haruskah kita bersenang-senang malam ini” salah seorang dari pria itu menggoda Cha-Cha, mengelus rambut Cha-Cha dan membuat Cha-Cha geram kali ini. Cha-Cha berdiri lalu menampar keras pria yang menyentuhnya, kesal dengan perbuatan Cha-Cha, pria itu menampar Cha-Cha lebih keras dan membuat Cha-Cha tersungkur ada darah keluar dari ujung bibirnya. Pria itu menghampiri Cha-Cha tangannya terbang untuk melayangkan pukulan kedua di wajah mulus Cha-Cha, namun tangannya ditahan oleh seseorang disampingnya.

“kalau berani jangan melawan perempuan, cari lawan yang seimbang” ucap seorang anak laki-laki bertubuh kecil disampingnya. Pria itu meludah lalu menghempaskan tangannya.

“baiklah sepertinya kita harus melawan kurcaci seperti mu” ucap preman itu dengan kasar lalu mengambil posisi layaknya petinju proposional. Kedua preman itu memegang badan anak laki-laki itu sehingga membuatnya menerima beberapa pukulan di perutnya, hingga dia tersungkur kehadapan Cha-Cha. Cha-Cha kesal lalu berdiri dan mengeluarkan jurus taekwondo andalannya, beberapa tendangan berhasil membuat preman itu terjatuh mencium tanah.

“ah apa-apaan ternyata dia bisa berkelahi” ucap laki-laki yang mencoba menolong Cha-Cha tadi.

“berdirilah bantu aku bodoh !!!” bentak Cha-Cha. Laki-laki itu pun segera berdiri dan mengambil posisi untuk menendang.

“kau bisa bela diri?” Tanya Cha-Cha

“aku sudah melatih Hapkido, kau ?” Ucap laki-laki itu bangga, dengan cengiran dari bibir kecilnya.

“aku pemegang sabuk hitam taekwondo dan pemegang mendali emas kejuaraan Taekwondo tingkat SMA” jawab Cha-Cha tak kalah bangga. Akhirnya mereka pun melawan ketiga preman itu dengan jurus bela diri mereka masing-masing. Cha-Cha berhasil mengalahkan dua preman di depannya, lalu membersihkan kedua tangannya yang kotor karna debu. Dan melirik ke arah lain.

Buuuk preman yang lain berhasil memukul wajah imut laki-laki penyelamat Cha-Cha itu.

“aish bodoh”  teriak Cha-Cha dan melayangkan tendangannya pada preman yang terakhir dan berhasil membuat mereka bertiga kabur meninggalkan Cha-Cha.

“heii bangunlah.. Mereka sudah pergi” Cha-Cha menepuk-nepuk wajah pria itu mencoba membuatnya sadar. Namun pria itu tidak bergeming. Cha-Cha merogoh saku belakang pria itu mencoba mencari alamat untuk menghubungi keluarganya.

“Byun Baekhyun” Ucap Cha-Cha saat melihat kartu identitas pria didepannya.

“kenapa jadi aku yang menolongmu. Dasar Baccon” ucap Cha-Cha kesal dan memasukkan kembali kartu identitas itu. Melempar tubuh pria bernama Byun Baekhyun itu dan beranjak pergi meninggalkannya.

“jangan salahkan aku jika kau membeku disini” Ucap Cha-Cha sambil pergi meninggalkan baekhyun. Cha-Cha berhenti sebentar lalu melirik tubuh kecil baekhyun yang masih tergeletak tak sadarkan diri.

“tidak, jangan menolongnya. Hidupmu sudah sangat menderita Lee San Di” gumam Cha-Cha dan kembali berjalan.

“aish dasar bodoh” Cha-Cha berbalik badan dan kembali menghampiri baekhyun.

“aah berat sekali, sadarlah tuan Byun Baekhyun” gerutu Cha-Cha saat menggendong tubuh baekhyun. Cha-Cha menaikkan tubuh Baekhyun pada motor yang dibawanya. Lalu mengikat tubuh Baekhyun dengan tubuhnya supaya baekhyun tidak jatuh.

“Bucheon tidak jauh” ucap Cha-Cha dan menarik gas motornya, pergi mencari alamat pria yang diboncengnya.

Sekitar satu jam Cha-Cha berputar-putar di daerah Bucheon akhhirnya dia menemukan alamat rumah yang ditujunya. Cha-Cha kembali menggendong Baekhyun dan mengetok pintu rumah bercat kuning itu. Beberapa saat kemudian seseorang membuka pintunya.

“annyeonghaseyo, maaf menganggu malam-malam. Apa ini rumah byun baekhyun” tanya Cha-Cha pada wanita paruh baya di depannya. Wanita itu menganggguk heran.

“mianhamnida, tadi Baekhyun menolongku dari preman yang mengangguku tapi dia pingsan kena pukulan mereka” ucap Cha-Cha memasang wajah menyesal.

“nde ? Aigoo byun baekhyun , bagaimana tubuh kecil mu mencoba menyelamatkan seseorang, ayo masuklah” wanita itu membantu Cha-Cha membawa baekhyun masuk ke dalam rumah.

“maafkan aku eommoni, karena menolongku”

“sudah tidak apa-apa syukur kalau kalian baik-baik saja” timpal ibu baekhyun memotong kata-kata Cha-Cha, dan Cha-Cha pun hanya mengangguk.

Baekhyun terbaring di kursi , Cha-Cha menatap lekat wajah Baekhyun, ada sesuatu di wajahnya yang membuat jantung Cha-Cha bekerja lebih keras, ada letupan bahagia dan Cha-Cha merasa senang saat melihat wajah Baekhyun disampingnya.

“kau sebaiknya menginap disini, di luar sudah hujan dan ini sudah malam” Ibu baekhyun membuyarkan tatapan Cha-Cha pada Baekhyun.

“Nde menginap ?” Tanya Cha-Cha heran.

“kami memiliki satu kamar kosong dan kau bisa tidur disana” ucap ibu baekhyun, dan Cha-Cha hanya mengangguk.

Sudah hampir pagi tapi Cha-Cha tak bisa memejamkan matanya sama sekali, sesekali dia mengingat setiap kata yang diucapkan Luhan semalam. Menyesakkan dada memang. Namun ada rasa nyaman di hatinya ketika melihat wajah Baekhyun di depannya. Wajahnya bergitu polos dan satu hal yang pasti yang dilihatnya dari wajah baekhyun.

“dia lebih imut dari Luhan “ kata hati Cha-Cha mengatakannya dengan jelas, tergambar pasti dari senyum Cha-Cha saat menyentuh lembut pipi baekhyun.

**

“Eommoni aku harus pergi, tolong sampaikan terimakasih ku pada Baekhyun” ucap Cha-Cha pada ibu baekhyun. Matahari bahkan belum menampakan sinarnya, tapi Cha-Cha sudah pergi dengan motor kesayangannya.

Beberapa saat setelah Cha-Cha pergi baekhyun bangun dari tidurnya.

“bagaimana aku bisa pulang semalam eomma?” Tanya baekhyun sambil memegang kepalanya yang masih pusing.

“aigoo kenapa baru bangun ? Seorang gadis cantik mengantarmu semalam, ibu bahkan tak sempat menanyakan namanya karena kagum dengan kecantikannya” ucap ibu baekhyun sambil memukul pelan kepala anaknya.

“wanita cantik ? Jurus taekwondo nya bahkan lebih menakutkan. Aku tak melihat wajahnya begitu jelas semalam eomma” ucap baekhyun kembali merebahkan tubuhnya.

**

Bandara Incheon

Cha-Cha duduk di ruang tunggu bandara yang penuh dengan lalu lalang orang-orang sekitar, matanya berkeliling kosong melihat kerumunan orang-orang disekitarnya dan berhenti pada satu objek yang menarik perhatiannya.

“hubungi eomma setelah kau sampai sayang”

“ne eomma jaga kesehatanmu disini”

“appa akan mengirimmu uang setiap bulan”

“appa tidak perlu melakukannya ,aku akan bekerja paruh waktu disana, appa jaga eomma disini”

“arraso, kau juga jaga kesehatan mu disana”

Cha-Cha menangis haru mendengar percakapan sebuah keluarga disampingnya, hatinya tergores luka semakin besar melihat mereka, ada rasa iri menyelimuti hatinya melihat seorang gadis dipeluk hangat oleh kedua orang tuanya.

“eomma, aku merindukanmu” Cha-Cha menangis memeluk kalung pemberian ibunya.

“maaf eomma aku harus pergi, disini terlalu banyak luka” ucap Cha-Cha sebelum akhirnya pergi melangkah ke dalam pesawat dan pergi meninggalkan Korea.

To Be Continue…

 

A Story About Byun Baekhyun EXO

Gambar

Tittle : Don’t Be Afraid, I’am Yours

  • Scriptwriter (Author): Santi Yulianti (twitter @santyyulianti)
  • Main Cast: Byun Baekhyun (EXO), Choi Di Ra (OC), Do Kyung Soo
  • Support Cast: Park Chanyeol
  • Genre: Romance
  • Duration (Length): One Shoot
  • Rating: 15

“jika hatinya sudah kau miliki, apa lagi yang kau tuntut dari dia ?”

Bagi Di Ra, hatinya sudah habis untuk mencintai orang lain lagi. Rasa sayangnya untuk adik kecilnya dan kekasihnya saat ini sudah cukup menghabiskan seluruh bagian hatinya yang tersisa. Namun terkadang keegoisan memaksa Baekhyun kekasih Di Ra untuk memberikan seluruh hatinya.

“kau bahkan belum pernah mendapatkan ciuman pertamamu bersama Di Ra, apa itu masuk akal ?” tanya Chanyeol pada sahabatnya yang terlihat kelelahan setelah bermain basket tanpa lawan itu. Baekhyun hanya diam menatap langit yang sudah hampir tak menampakan sinar matahari.

“yang penting dia mencintaiku” Baekhyun hanya menjawab singkat tanpa melirik sahabat tinggi nya itu.

“cinta ? cinta segitiga antara kau Di Ra dan Kyung Soo ?” Chanyeol kembali bertanya, kali ini dengan nada sedikit menyindir.

“Kyung Soo itu adiknya Yeolii, kenapa aku harus cemburu?” Baekhyun hanya menjawab dengan cengiran kecil.

“dan kau baik-baik saja? kemana-mana berkencan dia membututi kalian? , Memangnya kau tak butuh saat benar-benar bersama Di Ra?” Chanyeol kembali bertanya dengan nada yang sama.

“kau perlu membuka telinga mu lebar-lebar Baek, seisi sekolah selalu membicarakan hubungan mu dan Di Ra, kau terlihat seperti keluarga berencana saat bersama Di Ra dan Kyung Soo. Berjalan bertiga di koridor, makan bertiga di kantin. Mengerjakan tugas bertiga di perpustakaan. Kau dan Di Ra menjadi topik hangat seisi sekolah” Chanyeol bicara panjang lebar

“mereka hanya iri padaku, karena aku memiliki Di Ra, wanita tercantik, terpintar di sekolah kita. Dan ciuman pertama ? ku pikir Di Ra akan memberikannya untukku” Baekhyun kembali tertawa dengan jawabannya sendiri.

“sekilas dalam hatiku memang aku iri padamu Baek, seorang sesempurna Di Ra bisa memberikan sisa hatinya untuk orang sepertimu, yang bahkan memiliki postur tubuh lebih kecil dari ku” Chanyeol ikut tertawa kali ini.

“jangan konyol yeol” Baekhyun menepuk punggung temannya yang sedang duduk tepat disampingnya.

Oppa” terdengar suara Di Ra dari pinggir lapangan membuat Baekhyun dan Chanyeol menoleh padanya. Di Ra melambaikan tangannya meminta Baekhyun menghampirinya dan sudah ada Kyung Soo berdiri disampingnya.

“lihatlah istri dan anakmu sudah menunggu” ledek Chanyeol ,membuat Baekhyun sedikit tertawa mendengarnya. Baekhyun hanya menepuk pundak kawannya dan pergi menghampiri kekasihnya.

Chagiya” Baekhyun berlari manja menghampiri Di Ra, lalu menggandeng pudak Di Ra, mereka pun berjalan bersama meninggalkan lapangan.

kajja Kyung Soo ah” Di Ra meraih tangan adiknya. Mereka kini berjalan seperti sebuah cinta segitiga. Baekhyun sedikit risih sekarang setelah perkataan sahabatnya, mungkin karena hasutan dari Chanyeol tadi. Baekhyun memilih meraih kedua tangan Di Ra, membuat genggaman tangan Di Ra dan Kyung Soo terlepas. Kyung Soo  kaget melihatnya. Baekhyun kini berjalan berhadapan dengan Di Ra.

Chagiya, kau mau es krim? Sepertinya enak makan es krim sekarang” Baekhyun bertingkah manja pada pacarnya, Di Ra tersenyum senang melihatnya dan hanya mengangguk mengiyakannya.

“Kyung Soo ah, bisakah kau membelikannya untuk kami? Kau boleh membeli rasa yang kau suka juga” Baekhyun mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada Kyung Soo.

aniyo, biar aku yang membelinya” Di Ra meraih uang itu, namun dicegah oleh Baekhyun.

aniyo, kau tak boleh jauh dariku,aku sangat merindukanmu hari ini” Baekhyun meraih tangan Di Ra dan mengapitkannya di kedua pipinya.

ne gwencana Noona, aku akan membelinya” Kyung Soo menganbil uangnya dan berjalan meninggalkan Baekhyun dan Di Ra berdua.

“hati-hati Kyung Soo ah” Di Ra menatap Kyung Soo khawatir.

“heey dia hanya pergi ke sebrang jalan sana, dan kita bisa melihatnya dari sini” Baekhyun memegang pipi Di Ra yang terlihat sangat khawatir melihat adiknya. Di Ra mengangguk ragu. Baekhyun mengajak Di Ra duduk pada kursi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Baekhyun menggenggam tangan Di Ra erat. Namun pandangan Di Ra tak lepas dari Kyung Soo.

“Di Ra ah” Baekhyun memanggil Di Ra dengan suara yang sangat lembut.

“hmm” Di Ra hanya menjawab tanpa memandang Baekhyun. Baekhyun meraih wajah Di Ra membuat mereka saling bertatapan.

saranghae” Baekhyun berkata dengan sangat lembut, membuat Di Ra tersenyum manis mendengarnya. Wajah Baekhyun mendekat, mengapus setiap jarak di antara mereka. Baekhyun ingin membuktikan bahwa Di Ra mencintainya dan akan memberikan ciuman pertamanya untuk Baekhyun. Di Ra memejamkan matanya. Baekhyun pun ikut memejamkan mata . terdengar suara ramai dari orang sekitar, dan membuat Di Ra membuka matanya kembali.

 “Kyung Soo……” Di Ra berteriak keras, dan beranjak meninggalkan Baekhyun, berlari menghampiri Kyung Soo yang sudah tergeletak di pinggir jalan. Kyung Soo terserempet motor saat akan menyebrang, menjatuhkan semua es krim di tangannya. Tidak ada darah bersimpuh namun Kyung Soo sudah tak sadarkan diri.

“Kyung Soo ah andwe. Bangunlah ku mohon” Di Ra mengguncangkan tubuh Kyung Soo, dan menangis sejadi-jadinya. Baekhyun segera menaikan tubuh kecil Kyung Soo ke atas punggungnya dan membawanya kerumah sakit secepat yang ia bisa.

“maafkan aku Di Ra” Baekhyun merasa sangat bersalah saat itu, Baekhyun berlutut disamping Di Ra yang kini duduk di samping ranjang Kyung Soo yang masih belum sadar. Beberapa saat Di Ra tak menghiraukan permintaan maaf Baekhyun, hanya menangis memegang erat tangan adiknya.

“pulanglah Oppa, aku ingin sendiri sekarang” suara Di Ra terdengar berat, namun kata-katanya tetap terucap jelas.

“aku benar-benar minta maaf Di Ra” Baekhyun mencoba meraih tangan Di Ra, namun Di Ra segera menolaknya, membuat tangan Baekhyun sedikit terhempas.

“aku memaafkanmu Oppa, hanya saja aku benar-benar ingin sendiri sekarang” Di Ra menatap Baekhyun sendu, matanya benar-benar sembab. Hati Baekhyun perih melihat tangisan Di Ra yang terus mengalir karena kecerobohannya. Baekhyun hanya menatap Di Ra penuh penyesalan, kemudian Baekhyun mengusap lembut rambut Di Ra. Di Ra tidak menolaknya kali ini. Namun Di Ra tak menoleh pada Baekhyun. Mata Di Ra masih memandang wajah adik kesayangannya yang masih terbaring. Baekhyun menyerah memilih beranjak dan memberikan kecupan hangat di ujung kepala Di Ra sebelum akhirnya pergi meninggalkan Di Ra dan Kyung Soo.

**

Seminggu berlalu Baekhyun tidak mendapat kabar pasti tentang Di Ra, hanya saja dia tahu bahwa Kyung Soo sudah baikan dan kembali dari rumah sakit 3 hari yang lalu, namun Di Ra dan Kyung Soo tidak masuk sekolah selama hampir 1 minggu terakhir. Di Ra mematikan ponselnya selama 1 minggu, membuat Baekhyun benar-benar frustasi.

“ku dengar Kyung Soo sudah keluar dari rumah sakit 3 hari yang lalu ? kau tak akan menemuinya ?” tanya Chanyeol pada Baekhyun yang sedang menatap kosong layar hanphonenya

“hmm.. aku tau” Baekhyun hanya menjawab singkat tanpa ekspresi

“dan aku juga mendengar Luhan hyung pergi ke rumah Di Ra kemarin. Kau tidak takut Di Ra berpaling. Luhan hyung mengincar Di Ra sejak Di Ra masuk sekolah ini. Dan aku fikir dia lebih baik segalanya dari mu. Kau harus waspada bisa saja hati Di Ra dicuri Luhan hyung”

“berhenti mengomporiku Yeolii” Baekhyun memilih beranjak pergi meninggalkan Chanyeol yang terus saja mengompori dirinya.

“dan aku juga mendengar Kris hyung membawakan Di Ra sekotak coklat besar untuk Di Ra semalam, waaah mereka benar-benar bergerak cepat, membaca setiap kondisi yang ada” Chanyeol tetap mengoceh mengejar Baekhyun yang berjalan gontay di koridor sekolah.

“kau ini temanku atau bukan sih, kau seharusnya menghiburku bukannya membuatku semakin gila dengan ocehan mu park Chanyeol” Baekhyun terlihat mulai naik darah dengan semua ocehan temannya.

“aku hanya menyampaikan apa yang aku dengar saja, supaya kau tau” Chanyeol tak menghiraukan perkataan Baekhyun tetap mengoceh.

“seharusnya kau gunakan telinga yoda  mu itu untuk mendengarkan kabar yang lebih baik”Baekhyun  menjewer telinga Chanyeol membuat Chanyeol berteriak kesakitan.

**

“kenapa Noona tidak masuk sekolah lagi” tanya Kyung Soo pada kakaknya yang sedang melamun memegang buku ditangannya.

“kau belum benar-benar sembuh, nanti kita berangkat bersama” Di Ra tersenyum manis mengusap ujung rambut adiknya.

Kyung Soo ikut tersenyum melihat kakaknya. Lalu meraih buku Di Ra yang dipegang terbalik oleh Di Ra.

Noona pasti sangat merindukan nya, hingga tak sadar melakukan ini” Kyung Soo membenarkan posisi buku Di Ra. Membuat Di Ra sedikit kaget melihatnya.

“kau bicara apa ? ayo cepat habiskan ini” Di Ra memalingkan wajah, lalu mengambil beberapa potong buah yang sudah tersedia di depan mereka, mengambil sepotong kecil apel dan menyuapkannya pada Kyung Soo.

“aku tau Noona sangat mencintai Baekhyun hyung. Seharusnya Noona menghubunginya, ku pikir kalian sama-sama saling menghawatirkan” ujar Kyung Soo pada Di Ra yang sedang mengacak-ngacak cemilannya dengan tatapan kosong.

“sudahlah aku sedang tidak ingin membicarakannya sekarang” jawab Di Ra ketus.

“waktu itu memang bukan sepenuhnya kesalahan Baekhyun hyung. Seharusnya Noona tak menyuruhnya pergi waktu itu. dia pasti sangat merasa bersalah sekarang” Kyung Soo terus bicara pada kakaknya.

“Choi Kyung Soo. Berhenti kubilang” Di Ra membentak Kyung Soo kali ini. Di Ra menatap Kyung Soo kesal, namun segera memegang bahu adiknya penuh sesal.

“maafkan aku Kyung Soo ah. Kumohon jangan membicarakannya lagi” Di Ra meminta Kyung Soo diam, namun sepertinya adiknya tak mengindahkan keinginan Di Ra.

“aku juga tahu Noona sangat menyayangiku dan selalu menghawatirkanku. Tapi aku juga ingin Noona bahagia, bersama orang yang Noona cintai. Sebenarnya Noona sudah tidak perlu mengenggam tanganku untuk menyebrang jalan. Atau memberikanku jatah es krim mu. Sekarang aku yang akan bergantian menjaga Noona, bukankah ibu selalu bilang, di rumah aku adalah adikmu, di luar aku adalah Oppa mu. Lihatlah aku sudah tumbuh besar” Kyung Soo berdiri di hadapan Di Ra, memutar-mutar badannya kekanan dan ke kiri.

“aku juga sudah menjadi pria tampan sekarang, aku akan segera memiliki orang yang akan kucintai nanti, sama seperti Noona mencintai Baekhyun hyung. Noona juga harus bahagia dan tersenyum untuk menjagaku, benar kan?” Kyung Soo duduk kembali di hadapan Di Ra, senyum Di Ra terlihat lebar mendengar perkataan adik kesayangannya.

“hmmm uri Kyung Soo ternyata sudah tumbuh besar dan tampan yaa” Di Ra mengacak-ngacak rambut Kyung Soo. Kyung Soo memeluk Di Ra, untuk menghilangkan kekhawatiran Di Ra.

Noona terlalu sibuk menyayangiku hingga tak menyadari bahwa sekarang aku sudah tumbuh sedikit lebih tinggi dari Noona” Kyung Soo tetap bicara dalam pelukan Di Ra, dan berhasil membuat Di Ra tertawa kali ini.

**

Baekhyun memandang jalanan yang sedikit basah karena rintik hujan tetap tak berhenti, seakan ikut merasakan kesedihan Baekhyun saat ini. Ini hari Jum’at sore, biasanya Di Ra menunggu Baekhyun pulang kerja di cafe tempat Baekhyun bekerja. Di Ra akan duduk di kursi dekat jendela bersama Kyung Soo, menunggu Baekhyun selesai bekerja. Lalu mereka pulang bersama naik bus. Baekhyun merindukan Di Ra, benar-benar merindukannya.

Baekhyun melangkah menaiki bus yang sudah datang, hanya ada beberapa orang disana, beberapa anak SMA, dan sepasang kekasih yang duduk tepat di hadapan Baekhyun. Semakin mengingatkannya pada Di Ra.

Baekhyun tetap berjalan menelusuri gang sempit menuju rumahnya. Baekhyun tak memperdulikan rintik hujan yang mulai membasahi seragam sekolahnya. Hingga Baekhyun tiba disebuah rumah tanpa halaman itu.

“aku pulang” teriak Baekhyun pada penghuni rumah.

Baekhyun membatu untuk beberapa saat saat melihat seseorang duduk berhadapan dengan orang tua dan kakaknya.

“Di Ra ah” Baekhyun menatap Di Ra heran,namun Di Ra hanya tersenyum manis melihat Baekhyun yang basah kuyup dengan seragamnya.

aigoo anakku, kenapa hanphone mu mati, pacarmu sudah menunggu lama sekali , cepat kau ganti bajumu” ibu Baekhyun melepaskan tas yang digendong Baekhyun, dan menyuruhnya membersihkan diri terlebih dahulu. Dengan terburu-buru Baekhyun berlari ke kamarnya, mengambil handuk dan mandi secepat yang ia bisa. Baekhyun segera keluar dari kamar mandi, dengan hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya, dan hampir saja terlepas saat melihat Di Ra telah duduk di atas ranjang Baekhyun yang tingginya sekitar 50 cm itu.

“Di Ra ah, Oppa tidak memakai baju” Baekhyun berbicara dengan terbata-bata, wajahnya memerah sekarang. Di Ra tertawa kecil dibuatnya.

“tunggu Di Ra ah, jangan berbalik” Baekhyun melangkah pelan-pelan dan meraih baju apa saja yang bisa ia ambil dan segera memasangkannya, lalu bercermin sebentar memastikan penampilannya tetap keren.

‘aaah apa ini, piyama corak beruang daan aah’ Baekhyun bergumam dalam hati saat melihat dirinya di cermin, memakai piyama bercorak beruang dan rambut yang belum disisir rapi, karena sisirnya ada di dekat Di Ra duduk sekarang.

Baekhyun pun mulai menghampiri Di Ra yang sedang duduk, Baekhyun memilih duduk sedikit berlutut di depan Di Ra, Baekhyun ingin memandang wajah Di Ra lebih dekat, Baekhyun benar-benar merindukannya.

mianhae Di Ra aah, jeongmall mianhae” Baekhyun tak sanggup memandang wajah Di Ra, Baekhyun hanya menunduk di hadapan Di Ra, hingga Baekhyun merasakan sesuatu menyentuh rambutnya. Baekhyun mengangkat kepalanya dan mendapati Di Ra menyisir rambut Baekhyun.

“tingkahmu selalu membuat hatiku luluh seketika Byun Baekhyun” Di Ra menatap Baekhyun dan memilih duduk di bawah bersama Baekhyun, bersandar pada kayu tua ranjang Baekhyun.

“Di Ra ah” Baekhyun tersenyum mendengar perkataan Di Ra.

“kau lucu sekali Oppa” Di Ra mencubit manja pipi Baekhyun membuat senyum Baekhyun semakin lebar.

“aku sangat merindukanmu Oppa” Di Ra menyusup masuk pada pelukan Baekhyun, kepalanya bersandar tepat di bahu Baekhyun. Baekhyun mempererat pelukan Di Ra.

“aku lebih merindukan mu Chagiya” Baekhyun mengelus lembut rambut Di Ra, membuat Di Ra semakin nyaman dalam pelukan Baekhyun. Setelah sekita 5 menit terhanyut dalam pelukan Baekhyun, Di Ra melepaskan pelukannya ,memilih bersandar di pundak Baekhyun. Tangan Di Ra mengenggam erat tangan Baekhyun. Menautkan setiap inci jari mereka. Dan mulai bercerita pada Baekhyun.

 “Kyung Soo lahir untuk menyelamatkanku” Di Ra mulai bicara, suaranya terdengar sedikit berat namun lembut saat itu.

nde?” Baekhyun menjawab dengan bingung karena sedikit tak mengerti dengan apa yang Di Ra katakan.

“saat aku lahir, aku mengidap penyakit atresia biliar, dimana organ hatiku hampir tidak berfungsi. Aku memiliki golongan darah O sedangkan orang tuaku A. Dokter mengatakan pada ibuku jika ingin aku selamat maka jalan satu-satunya adalah harus ada anak lain sebagai pendonor hati untuku. Setahun kemudian Kyung Soo lahir. Tubuhnya sangat sehat. Kami pun memiliki golongan darah yang sama. Saat umurku 3 tahun dan Kyung Soo 2 tahun kami melakukan translplantasi hati. Separuh hati Kyung Soo diberikan padaku” ada air mata menetes dari mata kecil Di Ra. Baekhyun mempererat genggaman tangannya.

“aku benar-benar merasa sangat egois saat mengetahui hal itu. membayangkan tubuh kecil Kyung Soo menerima sayatan yang sangat menyakitkan untuk menyelamatkanku. Membiarkan tubuh kecilnya terluka karena aku. Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri aku akan menyayangi Kyung Soo melebihi diriku sendiri. aku akan menjaganya lebih dari apapun. sebagian hatiku saat ini adalah hati Kyung Soo dan Oppa” Di Ra melepaskan pelukan Baekhyun menatap Baekhyun dalam-dalam, Di Ra mengenggam erat tangan Baekhyun, menghapus setiap jarak diantara mereka, dan dengan jarak waktu sepersekian detik, bibir Baekhyun sudah merasakan kelembutan yang membuatnya memejamkan mata dan tangannya menelusup masuk ke sela-sela rambut Di Ra. Di Ra mencium Baekhyun untuk yang pertama kalinya. Baekhyun dapat merasakan ciuman pertama Di Ra yang kurang pengalaman karena Di Ra hanya diam menempelkan bibirnya di bibir Baekhyun, namun di balik itu, Baekhyun bisa merasakan manisnya bibir mungil Di Ra yang semanis madu alami dan lebih lembut dari kapas. Aroma cheri dari bibir Di Ra membuat Baekhyun tak ingin melepaskan ciuman Di Ra. Di Ra juga tidak menolak saat kini tangan Baekhyun menahan kepalanya untuk tetap merasakan ciuman yang penuh aroma romantis itu. Baekhyun benar-benar tak ingin ini berjalan terlalu singkat, Baekhyun bisa menikmati setiap inchi dan lekukan bibir Di Ra. Bahkan sesekali tersenyum disela-sela ciumannya.

Lima menit atau mungkin lebih setidaknya lebih dari cukup untuk Di Ra merasakan ciuman pertamanya, walau bukan dibawah sinar rembulan atau di tengah hamparan lilin Di Ra tetap senang karena itu adalah Baekhyun, orang yang membuat hidupnya lebih bahagia dan berwarna. Baekhyun perlahan melepaskan ciumannya, dan mendapati wajah Di Ra yang sudah merona, namun mata Di Ra tepat bertemu dengan mata Baekhyun.

Oppa sisa dari hatiku adalah milikmu Oppa, jadi jika kau memintaku untuk mencintaimu lebih dariku mencintai Kyung Soo, itu sudah ku lakukan. Karena rasa sayangku pada Kyung Soo berbeda dengan cintaku pada Oppa. Semua bagian hatiku sudah menjadi milik kalian berdua. Oppa saranghae.” Ucap Di Ra melanjutkan kalimat yang sempat terpotong karena ciuman tadi. Senyum Baekhyun benar-benar lebar sekarang, Baekhyun mencium punggung tangan Di Ra, dan menarik Di Ra kembali ke dalam pelukannya.

“aku lebih mencintaimu Choi Di Ra” Baekhyun mencium ujung rambut Di Ra mesra.

“tapi Di Ra ah, bagaimana kau tau rumahku ? bukankah selama ini kau belum pernah kesini” Baekhyun melepaskan pelukannya dan menatap Di Ra heran. Di Ra tersenyum, sebelum akhirnya meraih sebuah kotak yang dibawanya, dan juga membuka laptop dari tasnya. Di Ra memberikan kotak itu pada Baekhyun juga membuka sebuah file dari laptopnya dan cukup membuat Baekhyun terkejut saat itu.

“ini” Baekhyun membuka setiap lembaran kertas dari kotak itu, dan sesekali melirik file yang ditunjukan Di Ra.

“kau,sejak kapan ?” Baekhyun berbicara terbata-bata melihat setiap hal yang ditunjukan Di Ra.

“aku sudah menyukaimu pertama kali melihatmu. Waktu itu Oppa ikut menyanyi diacara sekolahku saat aku kelas 2 SMP. Sejak saat itu aku menyukaimu Oppa, dan maaf aku memata-mataimu selama ini” Di Ra menunjuk beberapa kertas di tangan Baekhyun yang merupakan sekumpulan album foto tentang Baekhyun dari 4 tahun lalu.

“aku juga memilih masuk SMA yang sama dengan mu dari pada masuk SMA internasional. Dan aku juga memilih kelas yang sama denganmu setelah meminta bantuan pada pamanku kepala sekolah Kim. Dan maaf Oppa aku juga meminta guru Shim untuk membuat kita jadi satu tim kelompok supaya Oppa bisa melihatku dan berharap Oppa menyukaiku” Di Ra tetap menunduk tak berani menatap Baekhyun.

Baekhyun mengangkat wajah Di Ra dan memberikan Di Ra ciuman singkat kali ini. Membuat mata Di Ra membulat dan pipinya semakin memerah.

“terimakasih Di Ra, kau mau mencintaiku hingga sekarang, maaf aku tak menyadari bahwa kau telah memiliki perasaan sebesar itu untuk ku” Baekhyun mengelus lembut pipi merona Di Ra dan melanjutkan kalimatnya.

“sebenarnya aku kau tak perlu meminta bantuan supaya aku menyukaimu. Aku sudah menyukaimu saat hari pertama kita masuh sekolah. Hanya saja aku fikir waktu itu kau adalah pacar Luhan Hyung, karena dia selalu mengikutimu. Jadi aku tak berani mendekatimu ataupun memandangmu. Aku terlalu pengecut. maaf karena selama ini aku terlalu takut menunjukan perasaanku, aku hanya merasa tidak pantas bersaing dengan kris hyung, luhan hyung, atau bahkan dengan adik kelasmu Jong In, aku bahkan tak memiliki sesuatu yang spesial seperti mereka” kata-kata Baekhyun terhenti karena kali ini jari Di Ra yang menahan bibir Baekhyun untuk bicara.

“aku tak peduli itu, yang penting sekarang kita saling memiliki” Di Ra mengenggam erat tangan Baekhyun dan tersenyum manis, Baekhyun mengangguk mantap menerimanya.

“eommoni, aboji ,aku ingin segera menikah dengan Baekhyun Oppa” celetuk Di Ra saat sedang makan bersama keluarga Baekhyun yang membuat semuanya tak bisa menelan makanan mereka.

“nde?” tanya ayah Baekhyun dengan senyum lebarnya.

“ibuku menikah saat umurnya 20 tahun. Dan memiliki aku setahun kemudian. Sekarang aku dan ibuku tampak seperti teman. Aku ingin seperti itu “ Di Ra menjawab dengan semangat, membuat mereka semua tertawa kecil.

“lalu aku akan memiliki anak-anak yang tampan seperti Baekhyun Oppa” ucap Di Ra lalu memegang tangan Baekhyun yang sedang memegang sumpit makannya. Keluarga Byun hanya tersenyum manis mengiyakan semua keinginan Di Ra.

“baiklah kita akan segera menikah dan memiliki beberapa Bekhyun dan Di Ra junior”  Baekhyun yang merasa malu di depan kedua orang tuanya berbisik lembut di telinga Di Ra.

                                    The End